
"Aku ... aku ... ," Raina gemetar melepaskan pisau itu. Dia bingung harus mengatakan apa. Pisau itu tadi mengarah ke arahnya kenapa sekarang menjadi menusuk mertuanya.
"Kita bawa Ibu ke rumah sakit cepat!" teriak Adry, tidak mengatakan apapun. Dia tidak ingin membuat keputusan yang salah. Sekarang yang penting nyawa ibunya harus diselamatkan.
Warga mulai ramai berbondong melihat apa yang terjadi. Leon memeluk ibunya dan menangis sedangkan Adry pergi ke rumah sakit dengan mobil ambulance yang mereka panggil, polisi mulai datang dan menangkap Raina.
Leon lalu dipegang oleh Nita meraung dan menangis melihat kepergian ibunya.
***
"Syukurlah, luka tusukan itu tidak terlalu dalam sehingga lukanya tidak cukup parah," ucap Dokter yang menangani Janeta. "Namun, wajahnya lebam-lebam akibat penganiyaan."
Adry hanya terdiam tidak mengatakan apapun. Polisi lalu mendekat dan meminta dokter untuk mengisi formulir hasil visum guna dibawa ke kepolisian untuk di selidiki. Adry tidak menelfon ayahnya karena hanya akan menambah masalah. Semua tergantung nanti ibunya akan mengatakan hal ini pada ayah atau tidak. Dia hanya akan memeriksa semua kejadian ini.
"Lalu ibu saya bagaimana Dok?"
"Dia sedang dibius jadi belum sadarkan diri, kami akan memindahkannya di ruang perawatan nanti."
"Terima kasih Dokter."
"Roy, kau tunggu di sini menunggu Ibu, aku akan melihat keadaan Raina dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi."
Roy menganggukkan kepalanya.
Adry lalu menuju ke kantor kepolisian pikirannya sekarang bercampur aduk. Selama perjalanan ibunya mengatakan jika Raina tidak menerima permintaan maafnya. Dia mau melepaskan Leon jika diberi uang dua puluh milyar, sesuatu yang sepertinya khayal dilakukan oleh Raina. Namun, melihat Raina menusuk ibunya itu membuatnya terdiam.
Di kantor polisi Raina hanya menangis tidak menjawab pertanyaan polisi baginya percuma saja menerangkan jika semua orang tidak percaya padanya. Bodohnya dia tersulut emosi dan menyerang ibu mertuanya dan di saat itu banyak saksi yang melihat termasuk anak ya sendiri. Dia tertekan.
"Dia tidak mau menjawab pertanyaan dari kami Pak," terang salah seorang petugas polisi pada Adry. Adry melihat Raina berada di ruang interogasi. Hatinya merasa sakit. Kali ini dia seperti sedang memilih untuk percaya pada ibunya yang pernah membohonginya atau istrinya yang terlihat menusuk ibunya di depan mata.
"Apakah kasus ini bisa ditutup dengan damai, Pak?" tanya Adry.
"Bisa, bila Ibu Anda tidak menuntut dan mencabut berkas perkara."
__ADS_1
Adry lalu pergi begitu saja tanpa bertanya tentang apapun pada Raina. Dia bukan tidak percaya padanya hanya saja kini bagaimana caranya agar Raina bisa bebas.
Adry lalu kembali lagi ke rumah sakit dan menunggu ibunya siuman.
***
Sedangkan Leon dibawa oleh Nita ke rumahnya. Dia diajak masuk ke dalam kamar tamu. Nita berusaha menenangkan Leon dengan memeluknya seperti seorang ibu pada anaknya.
"Ibu apakah dia akan di penjara Mom?" tanya Leon menangis duduk di kursi panjang dekat jendela.
"Tidak jika kau mau menuruti Nenekmu," kata Nita.
"Menurut pada Nenek?" tanya Leon.
"Ya, tapi sepertinya kau tidak bisa melakukannya," ujar Nita. "Sudah lupakan saja!"
Leon lalu berlari ke arah Nita dan bersimpuh, memegang ujung bajunya. Menunduk. Hal ini yang ditunggu oleh Nita membuat Leon tunduk. Jika singa Raina sudah jinak maka induknya juga akan akan ikut.
"Apapun?" tanya Nita. Leon mengusap air matanya dan mengangguk.
"Nenekmu hanya ingin kau ikut dengannya tanpa ibumu, apa kau sanggup, aku rasa kau tidak bisa melakukannya?" kata Nita.
Leon nampak terdiam, terpaku. Nita lalu berdiri lagi.
"Pikirkan dulu Nak sebelum bertindak, Mom tidak ingin melihatmu sakit dan bersedih karena kehilangan ibumu," kata Nita menutup pintu kamar. Setelah itu dia tersenyum penuh kemenangan. Rencana ibu mertuanya memang hebat bisa menjebak semuanya dengan bagus.
Awalnya, Ibu mertuanya meminta Adry untuk bertemu di rumahnya. Adry yang sewaktu itu sedang ada pertemuan lalu membatalkannya dan mewakilkan pada Roy. Sedangkan Roy, bukannya pergi bertemu klien dia menemani ibu Adry ke rumah Raina.
Waktu kepulangan Adry memang di setting sewaktu jam kepulangan Leon sehingga mereka bisa pulang bersamaan. Sewaktu pria itu sedang menunggu Leon di pintu gerbang di saat itu, ada orang suruhan Nita menggembosi dua ban mobil Adry.
Sampai di sini rencana mereka berhasil.
Di saat itu, Janeta mendatangi Raina dan memancing keributan. Kode jika Janeta sudah siap adalah sebuah telepon yang akan menyatakan jika Adry dan Leon akan pergi bersama Nita. Disana mereka merencanakan membuat emosi Raina naik.
__ADS_1
Pekerjaan Roy sendiri mengambil tanda tangan Adry. Namun, Adry orangnya sangat teliti sehingga dia tidak bisa melakukannya. Akhirnya, Roy minta orang untuk membuat tanda tangan palsu untuk Adry. Hal itu digunakan Janeta untuk membohongi Raina jika Adry memang meminta cerai darinya. Serta menekan psikisnya.
Setelah menyerahkan itu, Roy pergi ke tempat mobil Adry seakan pria itu tidak berada di tempat kejadian sehingga apa yang dikatakan Raina akan di sangkal oleh semua orang.
Surat perceraian itu sendiri diambil oleh Nita karena semua orang terlihat panik dengan keadaan Janeta dan tidak fokus melihat map diatas meja. Tidak ada barang bukti yang bisa membuat Raina punya alibi.
Pisau adalah senjata paling pamungkas untuk melancarkan fitnah ini. Itu adalah pisau bermata dua. Pisau lipat itu bisa digunakan dikedua sisinya. Ketika Raina melihat pisau itu mengarah padanya otomatis dia akan memegang pisau itu. Di saat itu, arah mata pisau dibalik sehingga mengenai Janeta. Wanita itu melukai dirinya sendiri agar rencananya berjalan dengan sukses.
Gila memang tetapi itulah wanita pandai akan selalu berada di atas. Bagi wanita itu tidak ada yang boleh mengendalikan Adry kecuali dirinya. Alasan itu pula yang membuat Nita selalu tunduk pada mertuanya. Dia tahu jika mertuanya tidak bisa untuk dilawan.
Nita lalu duduk dengan nyaman di kamarnya dengan segelas wine. Dia tersenyum penuh kemenangan kali ini. Adry akan jadi miliknya dan Leon telah berada di tangannya pula. Semua terasa mudah. Mudah jika ada orang yang tepat mendukung kita.
Tiba-tiba kamarnya dibuka.
"Oh, kau!" ucap Nita santai.
Roy menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah lelah menuruti kemauanmu," ucapnya dingin.
"Lagi pula aku sudah tidak membutuhkanmu, aku sudah punya segalanya."
"Segalanya? Hah, kau kira kau akan bahagia setelah mencelakai banyak orang?"
"Kau lihat aku pemenangnya di sini!"
"Aku ingin lihat apa kau akan bahagia. Aku kemarin masih memberi waktu padamu untuk kembali padaku dan menyadari semua kesalahanmu," balas Roy.
"Bersamamu dulu adalah sebuah kesalahan!" ujar Nita.
*cuss ke novel baru author yuk
__ADS_1