Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Manipulatif


__ADS_3

Setelah mengambil obat mereka kembali ke dalam mobilnya. Adry hendak menyalakan mesin ketika tiba-tiba Raina mengatakan sesuatu.


"Aku tidak tahu mengapa kau masih mau melakukan ini setelah tahu apa yang terjadi. Padahal aku ingin menjauh dari hidupmu selamanya."


Adry menghela nafasnya memiringkan tubuh sehingga bisa menghadap ke arah Raina yang sedang melihat keluar jendela.


"Entahlah, ada sesuatu dalam diriku yang tidak bisa terima jika kehilanganmu. Aku berusaha untuk melupakanmu dan memulai hidup baru tetapi tidak bisa. Bayanganmu selalu memenuhi otakku dan aku selalu mencemaskan mu setiap saat."


"Engkau cemas karena merasa kasihan Adry. Pulanglah pada istrimu lagi dan Leon mereka pasti sedang mencarimu."


"Kita sedang bersama dan aku tidak ingin membahas tentang mereka dan satu hal Leon baik-baik saja. Nita merawatnya dengan baik jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa."


Raina tertawa sinis. "Kenapa sekarang aku yang merasa jadi penjahatnya yang ingin merebut kau dari keluargamu."


"Sial, aku masih tidak mengerti kenapa kau harus berada di depanku lagi. Kau membuat hidupku yang sudah sulit ini kembali terguncang."


"Dengar Raina, aku tahu mungkin saat ini kau belum mau menerima kehadiranku. Namun, pikirkan anakmu yang ada kemungkinannya dia adalah anakku juga. Kau hamil butuh bantuan apakah alasan itu tidak cukup untuk dimengerti agar kau mau ikut aku ke tempat tinggal yang lebih nyaman." Adry memegang tangan Raina.


"Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu hingga kau melahirkan anak ini," imbuhnya. "Kau tidak harus memikirkan yang lain hanya anak ini."


"Kau tidak tahu ...." Raina kembali terdiam hanya terisak.


"Selain itu ada banyak persoalan yang harus kita selesaikan. Kita mulai dari anak ini dulu baru yang lainnya."


Raina menatap Adry, mencari kesungguhan dari ucapannya. Raina menemukan ketulusan yang mungkin akan menghanyutkannya lagi.


"Sekarang kita kembali ke tempat tinggalmu untuk mengambil barang-barang yang penting untuk kau bawa setelah itu kita pergi ke tempat yang kusiapkan untukmu. Aku janji tidak akan ada yang tahu. Hanya kita berdua saja."


"Lalu apa yang akan kita lakukan di sana?" tanya Raina bodoh.


"Kita akan menunggu kelahiran mu sembari membicarakan tentang masa depan kita."


Tubuh Raina seperti merosot turun. Masa depan kita sepertinya sangat menakutkan untuknya seperti sebuah ancaman.

__ADS_1


Bodoh jika dia menyetujuinya tetapi lebih bodoh jika tidak menyetujuinya. Anak dalam perutnya membutuhkan Adry bukan hanya secara finansial tetapi juga perhatian.


"Apa kau yakin mereka tidak akan tahu keberadaanku?" tanya Raina dengan raut wajah cemas yang tidak bisa disembunyikannya. Adry heran melihat hal itu namun dia masih menahan diri untuk menanyakannya. Dia hanya ingin Raina menceritakan semuanya dengan tenang dan jujur tanpa merasa ada tekanan dari dirinya.


"Aku akan berusaha menjauhkan kau dari semua orang yang membuatmu tidak nyaman."


"Kalau begitu aku bersedia."


Adry tersenyum kecut. Dia lalu mulai memutar kunci mobil dan melajukan kendaraannya pergi dari tempat itu.


"Kau harus menceritakan semua yang membuat kau tidak nyaman," batin Adry.


***


Pagi harinya Raina bangun di dalam sebuah kamar yang mewah menurutnya. Dia melihat ke sekeliling dan mulai menyesuaikan diri mengingat kenapa dia sampai kemari.


Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Udara di sekitar tempat ini begitu dingin sehingga dia mengambil jaket yang sebelumnya disampirkan di gantungan baju.


Raina lalu berjalan keluar kamar itu dan melihat-lihat suasana di sekitarnya. Rumah itu lebih tepatnya villa ini berukuran sedang dengan tembok yang terbuat dari kaca yang membuat dia bisa melihat suasana luar yang asri dan dipenuhi oleh pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang ditata di pot dengan indah.


Raina kemudian melihat Adry sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Dia menghentikan gerakannya ketika mendengar derap langkah suara Raina.


"Kau sudah bangun?" tanyanya. Pertanyaan yang seharusnya tidak memerlukan jawaban.


Dua pelayan seperti sepasang suami istri sedang di dapur dan meja makan untuk menyiapkan makanan. Harum aroma masakan membuat perutnya melilit dan berbunyi ingin segera diisi.


Adry sudah berada di dekatnya ketika dia berbalik melihat ke arah pria itu. "Kau lapar, aku sudah meminta ibu itu untuk menyiapkan sarapan untuk kita berdua."


"Aku akan membuatkanmu kopi," kata Raina gugup ketika Adry meletakkan tangan di pinggang dan membawanya ke meja makan yang besar.


"Ibu itu sudah membuatkannya. Kau tidak perlu melakukan apapun cukup istirahat dan makan saja," katanya seraya menyeret kursi untuk Raina duduk.


"Tunggu, biar aku buatkan susu untukmu." Raina melihat Ryan ke dapur yang ada di belakangnya. Antara ruang tamu, ruang makan dan dapur memang tidak ada sekat sama sekali.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pria itu kembali dengan segelas susu. Sedangkan suami istri yang membantu Raina pamit untuk membersihkan kolam belakang dan kebun.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Adry ketika mereka mulai makan.


Raina menganggukkan kepalanya. Ini tidurnya paling nyenyak semenjak kejadian itu berlangsung. Sebelumnya dia selalu bangun tengah malam dan menangis. Trauma dan rasa sakit karena kehilangan semuanya membuatnya selalu terjaga setelahnya.


Raina kembali berkonsentrasi pada makanannya. Dia sangat lapar sehingga makan dengan terburu-buru. Adry hanya menatap tanpa memakan apa yang ada di piringnya sendiri.


"Ada apa?'' tanya Raina melihat ke arah Adry. Pria itu menggeleng, lalu membersihkan mulut Raina yang belepotan karena nasi yang menempel.


"Pelan-pelan," katanya seraya mendekatkan air minum ke dekat Raina.


"Bayi di perutku ini membuatku makan banyak," ujarnya.


"Aku senang melihatnya. Kau bisa menghabiskan makanan ku jika kau mau?"


"Tidak ini saja sudah membuatku kenyang," ujar Raina menghabiskan makannya yang tinggal sedikit di piring. Dia merasa tidak enak jika harus menambah makanan lagi walau masih tersedia di depannya.


Tiba-tiba Adry mulai menyuapinya dengan makanan miliknya. Raina tertegun tapi dia menerima suapan itu. Lagi dan lagi hingga akhirnya membuat dia menangis.


Adry bangkit dan memeluknya. "Kenapa kau malah menangis?"


"Entahlah, kehamilan ini membuat emosiku tidak stabil, aku mudah marah dan menangis." Raina menyeka air matanya. Dia rindu dengan perhatian Adry dan dia kira itu hanya akan menjadi mimpinya semata. Namun, kini semuanya menjadi kenyataan.


Setelah tenang mereka mulai menghabiskan makan bersama. Adry mengajak Raina duduk di sofa dan menaikkan kaki wanita itu ke atas sofa dan menyelimutinya. Dia kembali duduk di kursi single sebelah Raina dan membuka kembali laptop.


"Aku berencana akan bekerja dari sini sembari memperhatikanmu," ujarnya.


"Tidak perlu kau bisa pergi bekerja itu akan membuatku nyaman," ucap Raina menyalakan televisi di depannya. Adry menatapnya.


"Aku tidak nyaman ketika kau berkeliaran di sekitarku sepanjang hari. Pergilah bekerja seperti biasanya. Kau juga bisa menemui keluargamu. Tinggalkan aku sendiri."


Adry merapatkan bibirnya, bangkit dan pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin memancing pertengkaran di pagi hari.

__ADS_1


Kemarahan, kesedihan dan kekecewaan mendera dadanya dan membuat perutnya mengencang. Bagaimana pria itu bisa melupakan apa yang telah terjadi seolah semuanya baik-baik saja? Bagaimana dia bisa melupakan semuanya sedangkan keluarga Adry telah memanipulasi keadaan. Hal itu, menyebabkannya terlihat seperti penjahat padahal dia tidak bersalah sama sekali. Raina membuang nafasnya keras karena kesal.


__ADS_2