Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Membujuk


__ADS_3

Raina tertawa ketika memasuki kamar hotelnya. Adry dan dua anaknya menatap heran padanya. Mereka lalu saling bertukar pandang dan menengadahkan tangan ke atas.


Raina mendekat ke arah mereka tanpa menghentikan tawanya.


"Kau tahu Sayang tadi aku bertemu Jonathan. Aku bercerita jika Roy punya seorang kekasih. Dia penasaran dan langsung saja masuk ke dalam kamarnya. Tahu apa yang kami temukan?"


Adry menggelengkan kepala.


"Jonathan melihat Roy sedang mencium Karina."


"Lalu dia patah hati itu sudah biasa?"


"Tunggu dulu, aku teruskan ceritanya jangan dipotong." Adry mengangguk menunggu kelanjutan cerita Raina.


"Karena terkejut ciuman mereka terhenti dan Karina tiba-tiba sesak nafas. Roy kebingungan, begitu juga dengan kami semua. Roy lalu berteriak agar mencarikan inhaler di tas Karina. Lalu Lily menemukan dan menyerahkannya pada Karina." Raina lalu memilih duduk di sebelah suaminya. Sedangkan Rere dan Leon ikut mendengarkan cerita ibunya walau tidak mengerti apa yang ibunya katakan.


"Akhirnya, sesak nafas Karina bisa terhenti. Kau tahu apa yang paling membuatku tertawa." Adry menggelengkan kepala.


"Kenyataan jika Karina akan sesak nafas bila dicium oleh Roy. Aku membayangkan paniknya Roy ketika mereka melakukan hal itu untuk pertama kali. Sedang asyik-asyiknya berciuman lalu terganggu, itu pasti sangat mengganggu. Aku geli juga kasihan. Namun, Roy seperti tidak terganggu dengan masalah itu."


"Berarti dia mencintai Karina," celetuk Adry.


"Aku pikir juga demikian. Selama ini aku kira Roy tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita pun. Ternyata dia malah mencintai Nita. Di saat dia mendapatkannya, malah Nita meninggalkannya untuk selamanya. Roy kembali menutup hati, kini dia mendapatkan pengganti Nita tetapi punya penyakit aneh, yaitu akan sesak nafas jika merasa terlalu bahagia, tingkat euforianya terlalu tinggi. Ini pasti sulit. Lalu bagaimana mereka akan melakukan malam pertama jika ciuman saja bisa membuat pingsan?"


Raina menangkup dagunya dengan satu tangan.


"Siap-siap dengan tabung oksigen saja, Bu," celetuk Leon. Raina dan Adry lalu melihat kedua anaknya yang serius mendengarkan apa yang dia bicarakan. Raina dan Adry tertawa karena tidak sadar jika ada anak kecil yang mendengar pembicaraan orang dewasa.


"Kau itu ada-ada saja Leon," kata Raina menghembuskan nafas keras ke samping. Anak seumuran itu harus mendengar cerita malam pertama.


Raina lalu mengajak anaknya untuk bermain PS, sedangkan Rere asik bermain dengan boneka Barbie miliknya. Setelah mereka asik dengan permainan itu, Adry kembali bertanya tentang masalah tadi

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Jonathan?" tanya Adry.


"Dia merasa kalah star dengan Roy tetapi juga bersyukur karena Roy telah menemukan tambatan hatinya walau dengan kekurangan itu."


"Tidak ada orang yang sempurna Raina. Namun, wanita yang sempurna adalah wanita yang hanya diciptakan untuk pasangannya. Aku kira begitulah cara Tuhan untuk menjaga Karina. Jika tidak, mungkin Karina sudah dimiliki pria lain."


"Maksudmu?" tanya Raina tidak mengerti.


"Karina cantik dan menarik pasti banyak pria yang akan tertarik namun penyakit itu menjadi perisai dirinya dari para pria nakal di luaran sana. Aku yakin dia pasti belum pernah terjamah oleh pria manapun."


"Mungkin yang kau katakan benar," ucap Raina menganggukkan kepala. "Jika iya, Roy pasti senang karena mendapatkan wanita yang hanya miliknya lahir dan batin."


"Seperti kau yang hanya jadi milikku seutuhnya dari awal hingga akhir." Mereka lalu saling berpelukan.


"Kok Ibu hanya sayang Ayah sih, aku tidak," ujar Rere yang selalu cemburu bila melihat ibunya didekati oleh siapapun.


"Sini Cantik, biar ibu saya sayang." Rere lalu masuk ke dalam pelukan Raina. Adry mengusap rambut lembut Rere.


"Ih, adik itu selalu manja," celetuk Leon.


"Leon, jangan buat adikmu menangis," ujar Raina. Leon menyengir lalu meneruskan bermain PS.


Adry lalu ikut menemani anaknya bermain.


Setelah melihat anak-anak tidur siang, Raina melihat Adry sedang mengganti baju.


"Kau mau kemana?" tanya Raina mendekat.


"Mau melihat kondisi Roy," jawab Adry hendak memasang kemeja, Raina maju dan mulai memasangkannya.


"Sayang, kondisi Ibu sedang tidak baik-baik saja. Apakah kau tidak ingin menjenguknya juga?" tanya Raina.

__ADS_1


Adry menghela nafas panjang.


"Apa yang wanita itu lakukan padamu tadi?" tanya Adry curiga.


"Ibu tidak melakukan apapun," jawab Raina.


"Apakah dia menyakiti hatimu lagi."


"Tidak, Ibu tidak menyakitiku. Dia bahkan menerima diriku," ujar Raina tanpa mengalihkan tatapannya ke arah kancing lengan baju Adry.


Adry mengangkat dagu istrinya. "Kau tahu, kau itu tidak pandai berbohong."


Raina tersenyum. "Butuh waktu untuk membuat semuanya lebih baik dan butuh banyak kesabaran untuk melalui semuanya serta butuh banyak keberanian untuk melangkah ke depan dan satu lagi butuh hati untuk bisa mengobati hati orang lain yang terluka."


Adry terdiam.


"Ibu terluka dan aku bisa melihat luka itu dimatanya. Kesedihan yang teramat sangat dan tidak bisa dia katakan pada siapapun. Dia hanya bisa membenci orang karena merasa telah terkhianati. Dia marah pada orang karena merasa kecewa dan dia memaki semua orang karena di rindu untuk disayang. Kau sebagai seorang anak seharusnya tahu apa yang ibumu rasakan."


Adry menatap Raina dengan perasaan sendu. Lalu menggelengkan kepala.


"Kau tidak mengenal siapa Ibu, dia pasti tidak akan pernah memaafkanmu," ungkap Adry.


"Aku memang tidak mengenalnya karena itu aku mencoba mengerti akan dirinya di kemudian hari. Jika aku tetap tidak bisa mendekatinya aku rasa itu bukan suatu masalah karena aku ada kalian yang bersamaku. Sedangkan Ibu? Dia merasa sendiri dan kesepian karena itu jauh di lubuk hatinya dia merindukan pelukan hangat. Maka dari itu, dia ingin membawamu pergi dari sisiku karena bagi dirinya kau adalah dunianya, kebahagiaannya. Namun, kau telah merenggut kebahagiaan itu ketika memutuskan hubungan dengannya Perkara itu salah atau benar tetapi itu dimata ibu adalah sebuah kebenaran."


***


Kata-kata Raina tadi di hotel terus terngiang dalam hatinya, lalu tanpa terasa dia terus melangkahkan kaki ke ruang di mana Janeta di rawat. Dia mendengar suara benda yang terbuat dari seng terjatuh. Mungkin itu wadah makanan dari rumah sakit atau apa? Adry lalu berlari mendekat ruangan itu.


Langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan Carl.


"Jika kau membuang makananmu semuanya lalu kau akan makan apa?" tanya Carl.

__ADS_1


"Biarkan aku mati saja. Kalian pasti akan bahagia kan kalau aku sudah mati dan tidak terlihat lagi. Kau bisa mencari wanita lain lagi untuk bisa memenuhi hasratmu itu!" seru Janeta.


"Janeta! Tidak seharusnya kau mengatakan hal itu. Aku sudah sangat bersabar padamu," bentak Carl.


__ADS_2