Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Adry ingin melangkah masuk ke dalam tetapi langkah kakinya terhenti teringat bagaimana menderitanya Raina ketika hamil Rere dulu. Baru saja ibunya merasakan sedikit kepedihan dan dia sudah ingin menyerah bukannya malah memperbaiki diri.


Dia ingin melihat beberapa hari lagi ke depan. Apakah ibunya bisa melihat ketulusan dari sikap Raina. Dia ingin memberi ibunya kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki diri. Bukan karenanya tetapi karena memang dia tahu Raina layak untuk menjadi bagian dari keluarga Quandt. Dia ingin Raina diterima sepenuhnya di keluarga itu.


Dia lalu membalikkan tubuh, menuju ke ruang perawatan di mana Roy dirawat. Namun, sebelumnya dia harus berbicara dulu dengan Dokter untuk melihat perkembangan kesehatan Roy dan Ibunya, Janeta. Sebelumnya dia sudah menghubungi Dokter untuk mengadakan temu janji.


Adry lalu masuk ke ruangan Dokter.


"Silahkan Tuan Adry," ucap Dokter itu. Adry lalu duduk di depan meja kerja berhadapan dengan Dokter.


"Bagaimana keadaan adik saya Roy?" tanya Adry.


"Kondisinya pulih dengan cepat. Dia sepertinya menjalani pengobatan itu dengan hati yang tenang dan senang jadi itu mempercepat pemulihannya."


Adry tersenyum. Perkiraannya memang tepat. Karina membawa aura positif untu Roy. Dia ikut senang.


"Lalu bagaimana kondisi ibuku?" tanya Adry.


Dokter itu menghela nafas panjang. Meletakkan kedua tangan di atas meja serta menyatukannya. Memandang wajah Adry lekat.


"Kondisinya terus memburuk. Sepertinya mentalnya sedikit terganggu. Psikisnya tertekan membuat dia mudah marah dan kami sering dibuat kewalahan karena tingkahnya."


"Dia membutuhkan banyak dukungan. Jika tidak kondisinya akan lebih parah dari sebelumnya."


Dada Adry terasa sesak. Pantas saja Raina mengatakan keadaan ibunya butuh banyak perhatian.


"Sebagai anaknya kau harus turut berperan serta dalam penyembuhannya," imbuh Dokter itu lagi.


Adry tersenyum kecut lalu menganggukkan kepalanya. Dokter lalu memberikan saran dan banyak pesan pada Adry serta menjelaskan tentang penyakit yang di derita ibunya. Adry menjelaskan dengan seksama apa yang dokter itu katakan.


"Baiklah saya akan mendengarkan semua anjuran Dokter. Terimakasih atas waktunya. Saya permisi dulu," ucap Adry berpamitan pada Dokter itu.


Setelah itu, Adry pergi ke kamar Roy. Di sana dia menemukan Roy yang baru saja pulang jalan-jalan keluar ruangan dengan memakai kursi roda. Karina yang mendorongnya.


"Kak, kau di sini?" tanya Roy antusias. Adry mengangguk.


"Sudah lama?"


"Tidak, baru saja aku dari ruangan dokter. Dokter itu mengatakan jika kau bisa keluar dari rumah sakit ini besok. Kita bisa kembali ke pulau."


"Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Roy.

__ADS_1


"Ibu, dia belum pulih benar. Dia menderita stroke, sebagian anggota tubuhnya lumpuh." Adry mengatakannya dengan nada lemas. Jauh di dalam hati, dia mengkhawatirkan ibunya.


"Ibu membutuhkanmu Kak. Temui dia. Batu akan hancur jika sering di tetesi air begitu pula dengan hati Ibu."


"Batu akan hancur cepat jika di hancurkan oleh benda keras juga," imbuh Adry membuat Roy tertawa kecil.


"Ya, sudah lah aku selalu kalah olehmu," ujar Roy.


Adry ikut tertawa. Karina hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Kakak dan asik itu Dia lebih fokus memikirkan masalahnya sendiri.


Setelah lama berbicara akhirnya Adry memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia akan datang besok untuk menjemput Roy.


"Aku akan menjemputmu besok. Karina aku minta kau membereskan semua barang-barang Roy. "


"Baik, Pak," ucap Karina.


"Panggil Kakak saja. Kau sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri."


"Terima kasih, Kak." Karina tersenyum melirik ke arah Roy.


"Kau akan ikut juga ke pulau kan?" tanya Adry.


"Kau akan pergi besok?" tanya Roy terkejut.


"Ya, ibuku membutuhkanku juga. Selain itu aku harus memenuhi panggilan dari pihak berwajib."


"Pihak berwajib!" ulang Adry.


"Ya, jadi Ayahku adalah buronan dari sebuah kasus korupsi besar bertahun-tahun kami tidak tinggal menetap karena Ayah takut tertangkap. Bukan karena soal harta namun keberadaan Ayah dalam kasus itu hanya dijadikan kambing hitam oleh oknum yang bersangkutan. Mereka adalah orang yang berkuasa di negeri ini. Jika kami melawan yang ada kami bisa mati terbunuh seperti salah seorang saksi yang ingin berkata jujur."


"Berarti ini masalah serius?"


Karina menganggukkan kepala. Roy menghela nafas keras. Sangat sulit baginya untuk melihat Karina pergi. Namun, dia tidak bisa mencegahnya. Dia tidak punya kuasa apa-apa karena mereka tidak punya hubungan lebih.


"Sangat serius. Aku ingin menyelesaikan kasus ini agar arwah ayahku bisa tenang di surga sana."


"Kau benar, tugas seorang anak adalah menyelesaikan masalah yang ditinggalkan orang tuanya," lanjut Adry.


"Roy kau pun harus bisa ditinggal sendiri oleh Karina."


Roy menatap wanita itu dengan seksama.

__ADS_1


"Aku kira dia bisa melakukan apa-apa sendiri, lagi pula di pulau akan banyak orang yang akan membantunya," kata Karina menepuk bahu Roy.


"Lagian selama ini Roy hidup dengan mandiri ditinggalkan oleh seorang wanita bukan masalah besar untuknya, bukan begitu Roy," ledek Adry. Roy hanya bisa melirik tajam pada Kakaknya yang kini suka sekali menggodanya.


"Ya, sudah aku pulang dulu, Raina dan anak-anak pasti sedang menungguku."


Karina dan Roy menganggukkan kepala. Karina mengantar Adry sampai di pintu kamar.


"Terima kasih karena telah menjaga adikku. Aku harap hubungan kalian akan segera menemui titik yang bagus dan berakhir di pelaminan."


Karina terkesiap dengan kata-kata Adry yang sangat berterus terang.


"Aku ... aku... ," Karina tidak tahu harus menjawab apa.


"Jangan jawab sekarang. Kalian jalani saja dulu. Kau tidak akan menemukan pria sesetia Roy jika bisa mengambil hatinya."


Karina menatap manik mata hijau Adry dan berusaha untuk mempercayai ucapannya.


"Apakah aku bisa melakukannya?"


"Kau pasti bisa. Aku dan Raina yakin akan hal itu. Semangat ya, karena kami akan mendukung mu."


"Oh, ya soal kepulanganmu aku akan memesankan tiket pesawat untukmu kembali ke Jakarta." Karina menganggukkan kepala.


"Terima kasih banyak, Kak."


Karina lalu masuk ke kamar kembali setelah Adry pergi.


"Kalian lama sekali? Sedang membicarakan apa?" tanya Roy.


"Hmm membicarakanmu," jawab Karina membantu Roy naik ke atas tempat tidur lalu membantunya berbaring. Pria itu bisa melakukan hal itu sendiri namun dia ingin bermanja-manja saja dengan Karina. Sedangkan, Karina tahunya Roy memang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan darinya.


"Kau sungguh akan kembali ke Jakarta besok?" tanya Roy. Karina mengangguk.


"Apa kau tega meninggalkan aku sendiri?" ucapnya lagi.


"Walau tidak tega, aku harus melakukannya." Karina mulai membereskan barang-barang miliknya.


"Apa kau tidak akan merindukanku?" tanya Roy menggerakkan alisnya ke atas. Karina menahan senyumnya lalu menengadah menatap Roy.


"Apakah kau juga akan merindukanku jika aku pergi?" balik Karina.

__ADS_1


__ADS_2