Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Halangan Besar Kebahagiaan


__ADS_3

Saat Karina membuka matanya matahari sudah menerangi ruangan sehingga dia menutupi wajahnya dengan satu tangan untuk menyesuaikannya. Dia lalu merubah posisi tidurnya memeluk tubuh suaminya serta meletakan kepala di lengan besar Roy.


Tangan Roy memeluk balik Karina dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.


"Kau sudah bangun?" tanya Karina menengadahkan wajah melihat rahang berbulu halus milik suaminya.


Sebuah kecupan dilayangkan di dahi Karina.


"Sudah sedari tadi. Aku bahkan sudah menyiapkan mu sarapan." Kepala Roy memberi isyarat ke arah meja sofa. Karina mengangkat kepala menatap baki yang berisi makanan dan jus segar di atasnya.


Dia lalu memegang dahi dan menjatuhkan kepala di bantal. "Oh, aku wanita yang buruk sekali masih tertidur sedangkan sang suami malah sibuk menyiapkan sarapan."


Dia melirik ke arah jam dinding. Pukul delapan pagi. Pantas saja jika Roy sudah menyiapkannya. Dia kira Roy sama sepertinya yang belum bangun karena masih menggunakan boxer. Dia merasakan kulit kaki pria itu di kakinya.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" tanya Karina.


"Kau sudah bekerja keras semalam dan butuh istirahat."


Karina bangun lalu duduk dan merenggangkan ototnya. Dia meringis karena merasakan nyeri dan pegal di sekujur tubuhnya. Terutama bagian bawah perut.


"Kenapa? Apakah sakit sekali?" tanya Roy.


"Ukuranmu tidak normal dan punyaku masih bersegel tentu saja sakit."


Roy nyengir, menahan tawanya. "Bukankah wanita suka dengan yang besar-besar?"


Mendengar jawaban Roy membuat Karina menekuk wajah lalu memukul lengan pria itu. Roy meraih tubuh Karina dan memeluknya lagi.


"Maaf jika membuatmu sakit," katanya.


"Aku senang, lagian ini awal dan biasanya seperti itu kan?"


"Terima kasih karena memberikannya padaku."


"Terima kasih karena telah memilihku menjadi istrimu padahal aku bukan wanita sempurna. Aku punya penyakit yang mungkin nantinya akan merepotkanmu."


"Kau tidak akan merepotkan aku malah membuat semangat hidupku bangkit."


Perut Roy berbunyi.


"Kau lapar?"


"Hmmm aku telah bekerja keras semalam dan aku belum mendapatkan asupan makanan." Roy lalu bangkit. Tubuhnya yang tidak memakai atasan dan atletis bermandikan pancaran sinar matahari, membuatnya terlihat seperti bentuk tubuh Dewa Yunani, sexy dan menggiurkan. Karina sangat mengaguminya.


"Apakah kau masak dengan hanya memakai boxer itu?" tanya Karina ingin tahu. Jika iya betapa heboh para pelayan melihat postur tubuh suaminya.


Roy membawa nampan kembali ke atas tempat tidur, meletakkan di depan Karina dan dia ikut duduk di sana.


"Menurutmu?" jawabnya sambil menggigit sandwich daging asap.

__ADS_1


"Oh... aku akan memecat para pelayan wanita jika kau suka melakukannya. Aku tidak mau mereka melihat tubuhmu itu."


"Rupanya kau itu wanita yang posesif."


"Banyak wanita yang haus akan pria. Apalagi kau punya semua yang wanita inginkan. Tampan, mapan dan juga ...." Karina menunjuk tubuh Roy dari bawah ke atas.


"Aku harus menjagamu dari mata jahat para wanita," ucap Karina setengah berbisik. Hal itu membuat Roy tertawa keras. Sifat Karina yang apa adanya dan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya adalah hal yang disukai oleh Roy yang pendiam. Dia jadi terpancing untuk berkomunikasi dengannya. Sesuatu yang jarang dia lakukan dengan siapapun.


Mereka lalu menghabiskan sepiring sandwich dan masing-masing segelas jus sehat.


Roy menatap Karina dengan lekat. Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa? Apakah aku terlihat jelek di pagi hari?" Karina menyisir rambut dengan tangannya.


Roy kembali meletakkan baki ke meja lalu duduk di depan Karina. Memegang kedua tangannya.


"Kau cantik, sangat cantik. Kau malah terlihat menarik dengan tampilan seperti ini. Aku ingin melakukannya lagi denganmu hanya saja... aku takut jika membuatmu lelah. Lagipula kau masih sakit," ucap Roy berterus terang.


Karina tercengang. Dia kira Roy adalah pria yang sukar untuk mengungkapkan sesuatu nyatanya dia malah sangat berterus terang dengan keinginannya.


"Sudahlah, jangan pikirkan. Sebaiknya kau mandi sekarang. Aku akan membantumu."


Karina lalu bergerak duduk dipangkuan Roy. Memeluknya.


"Kau boleh meminta apapun dariku karena aku adalah milikmu."


"Kalau begitu kubantu dengan cara yang lain?" ucap Karina.


"Aku tidak ingin melihat kau kecewa karena aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan."


"Karina aku...."


Akhirnya mereka melakukan hal panas di pagi hari yang tidak puas tanpa penyatuan. Mereka melakukannya lagi menuju puncak kebahagiaan dalam hubungan suami istri.


Karina lalu mencari inhalernya ketika sedang orgasme. Dadanya terasa hampir mau meledak. Roy yang menyadari hal itu membantu istrinya.


"Maaf... maaf... ," ucap Karina sambil menangis setelah dadanya mulai terasa lega.


"Aku ... tidak akan bisa membuat kau senang atau bisa membuatmu nyaman dengan hubungan kita... aku ... membuat semuanya kacau," ucapnya frustasi.


"Ini yang membuatku takut untuk berhubungan dengan pria manapun tapi kau memberi mimpi yang aku sendiri takut memimpikannya."


Roy memeluk tubuh Karina. "Tenanglah, tidak apa-apa."


"Kita tidak bisa menjalani ini dengan normal."


"Kita bisa melakukannya bersama-sama," ucap Roy.


"Tapi aku membuat semuanya jadi buruk."

__ADS_1


"Kita hanya perlu saling mengerti dan mengungkapkan apa yang kau rasakan dan aku rasakan agar kita bisa menemukan solusi untuk hal ini."


"Aku... malu dengan keadaan diriku."


"Kau **** ketika memakai inhaler itu." Roy meletakkan kepala Karina di dadanya.


"Aku tidak perduli dengan penyakitmu itu. Yang penting kau ada untuk diriku."


"Kau tahu aku takut untuk memulai **** karena pernah sekali aku hendak melakukannya dengan seorang pria, hal itu langsung memicu gejala dan aku terserang asma. Aku juga tidak tahu bagaimana mengatasi masalah ini. Hal ini membuat suasana hatiku seringkali berubah dan merasa tak berdaya karena tidak ada seorang pun mengerti apa yang kurasakan," tutur Karina.


"Kini sebaiknya kita lebih terbuka dan jujur satu sama lain ketika berhubungan ****, aku sudah mengetahuinya dan kita tinggal menjalankannya. Jika kau mulai merasakan gejala dan kau harus berhenti untuk menggunakan inhaler itu tidak masalah untukku kita bisa memulainya lagi atau jika kau merasa tidak nyaman maka kita hentikan."


"Aku ingin sembuh namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan."


"Kita bisa lalui bersama."


"Jika kau lelah dengan semua ini, aku rela kau ceraikan," ucap Karina merasa rendah dan tidak percaya diri.


"Kita baru saja menikah dan kau sudah mengatakan tentang masalah cerai?"


"Aku hanya tidak ingin jadi beban hidupmu," ucapnya.


"Kau bukan beban hidupku, kau penyemangat hidup. Kini aku bertanya, jika aku yang sakit apakah kau akan lelah dan meninggalkanku sendiri?"


"Tidak akan...."


"Kenapa?"


"Karena cinta itu tidak sekedar tentang **** walau itu juga berpengaruh besar. Kita bisa melakukan cara lain agar bisa memuaskan pasangan."


"Kenapa kau berpikir aku akan melakukannya jika kau sendiri tahu akan jawabannya."


"Aku hanya berpikir kau terlalu baik dan terlalu sempurna untuk kumiliki."


"Kau tahu, tidak ada satupun kekurangan pada dirimu lalu mengapa kau merasa rendah diri. Kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini bersama."


"Aku bahkan pernah melalui hari yang lebih buruk dari ini. Aku melihat bagaimana Nita mengalami hari-hari yang buruk dengan penyakitnya hingga akhir nafas. Jadi ini bukan masalah untukku."


Karina terdiam.


"Nita adalah bagian dari masalalu. Kau jangan berpikir aku ingin menyamakan keadaan kalian. Hanya saja, aku ingin kau tahu jika aku tidak mempermasalahkannya."


"Nita, sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Karina, pertanyaan ini sudah ada dalam diri Karina sudah lama dan dia tahan. Ada rasa cemburu pada diri Karina pada orang yang telah tiada.


"Sudah sangat dalam dan dia satu-satunya wanita selain dirimu yang pernah kumiliki. Selain itu tidak pernah ada wanita lain lagi."


"Apa karena kau melihatku mempunyai penyakit ini jadi kau menikahiku. Kau merasa kasihan?" tuduh Karina.


Mendengar tuduhan Karina membuat Roy mengangkat dua alisnya. Bagaimana bisa istrinya berpikir seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2