
"Aku tidak akan menyuruhmu memilih sebuah cincin untuk pernikahan kita. Aku hanya ingin mengukur jari tanganmu."
"Kau memesan cincin?" tanya Hana pada Roy.
"Ya, sebuah cincin istimewa." Seorang manajer mendekat. "Cincin itu akan dibuat dengan campuran dari darah kalian."
"Darah?"
"Ya, kita kemari untuk diambil darahnya, lalu dicampurkan oleh mereka dengan emas murni, aku tidak tahu bagaimana pencampuran nya yang jelas di cincin itu ada darah kita berdua," terang Roy.
"Itu seperti perjanjian antara kau dan aku."
"Perjanjian cinta, anggap saja seperti itu. Namun itu terasa romantis karena cincin itu dibuat hanya untuk kita berdua." Roy memegang tangan Hana.
"Terserah kau saja, aku tidak suka berpikir hal yang rumit."
Mereka lalu mengukur jari dan mengambil darah dan meminta cincin itu dibuat secepat mungkin.
"Memang kau sudah mengatur rencana pernikahan kita? Mengapa kau ingin itu dibuat secepatnya," tanya Hana ketika mereka duduk di sebuah restoran di mall itu untuk makan siang yang sudah terlambat.
"Semua pengaturannya aku serahkan pada Ayah dan Ibu. Kita hanya perlu menjalaninya. Mereka ingin membuat perayaan yang besar dan mewah, mengundang banyak relasi penting."
"Apakah itu nampak berlebihan? Bagaimana jika mereka tahu kalau kita sudah punya anak besar sebelum menikah."
"Kita akan menikah di Jerman, di sana hal biasa mempunyai anak terlebih dahulu baru menikah dan sebagian penduduknya tidak suka menikah karena berbagai peraturan yang memberatkan soal perceraian."
"Jika mereka menikah untuk bercerai pasti akan memilih untuk tidak menikah."
"Kita tidak tahu masa depan Hana. Mungkin hari ini kita akan mencintai seseorang, suatu hari orang itu bosan dan menemukan kebahagiaannya dengan orang lain. Atau mungkin juga banyak perbelanjaan sehingga mereka memutuskan untuk bercerai. Ada banyak kemungkinan Hana."
"Kau benar ada banyak hal yang bisa membuat orang bercerai, tetapi itu bisa dihindari jika ada komunikasi yang baik antara keduanya."
"Terkadang komunikasi bukan jalan yang efektif Hana, malah jadi bumerang. Kau masih muda belum melihat bagaimana kejamnya dunia."
__ADS_1
"Aku hidup di jalan dan aku sudah melihat banyak hal yang tidak kau lihat dan kau rasakan."
Roy terdiam. Dia hampir lupa dengan hal itu.
"Terkadang rumah tangga terlihat sempurna tidak ada kekurangan dari luar namun di dalamnya ternyata ada lubang yang bisa membuat rapuh rumah tangga itu jika lubang itu semakin besar."
"Apa itu?"
"Kesepian. Itu celah paling besar untuk orang ketiga masuk ke dalam rumah tangga seseorang. Terkadang karena istri terlalu sibuk dengan urusannya sang suami hingga butuh perhatian lebih dan mencari perhatian itu dari wanita lain. Begitu pula dengan istri, sang suami merasa ingin memenuhi kebutuhan istrinya hingga sering lupa meluangkan waktu untuk memperhatikan istrinya di rumah. Pulang dalam keadaan lelah lalu tertidur. Istri yang tidak punya banyak pekerjaan lalu mencari seseorang yang lebih perhatian lalu terjadilah perselingkuhan karena istri merasa nyaman dengan pria lain. Intinya jangan membuat celah untuk masuknya orang lain dalam sebuah rumah tangga."
Roy tersenyum terkejut dengan pemikiran dewasa Hana.
"Jadi kau tidak ingin jika aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku," tanya Roy.
"Ada waktunya. Mungkin seharian kau sibuk dengan pekerjaan, lalu anak. Tapi malam adalah waktu kita. Kau tidak bisa meninggalkanku demi menyelesaikan pekerjaanmu."
Roy mengusap pelan pucuk kepala Hana. "Kita belum menikah tetapi kau sudah posesif terlebih dahulu."
"Aku hanya mengantisipasi satu hal. Jika ini kita jadikan salah satu komitmen dalam hubungan kita maka perbedaan bisa kita minimalisir. Kita bisa jadikan waktu itu untuk berbicara dari hati ke hati. Tentang apa kegiatan kita, anak-anak, pekerjaan atau hal lain. Ini juga hal penting selain kepercayaan dan kejujuran dalam berhubungan."
"Ish, kau itu."
"Kau itu cantik dan masih muda Hana. Hidupmu masih panjang ke depannya. Di luar sana banyak pria yang nakal yang suka merayu istri orang," ujar Roy.
Hana mencebik. "Aku bukan wanita seperti itu tetapi apa yang kau katakan benar juga. Aku masih muda dan kau sibuk bekerja lalu datang pria yang muda, tampan, dan lebih perhatian."
Roy menatap tajam pada Hana. "Jika kau berani melakukan itu maka aku akan melepaskan satu peluru tepat ke otak pria itu karena berani berpikir tentang wanitaku. Kau akan ku kurung di ruang bawah tanah seumur hidup."
"Aku hanya bercanda." Hana mendadak merinding mendengar ucapan Roy yang tajam.
"Aku tidak pernah bercanda Hana. Sudah lama aku tidak membunuh orang, jadi aku dengan senang hati akan melakukannya."
Mendadak kaki Hana gemetar. Roy terdengar serius mengatakannya. Dia menghela nafas. Lalu melihat ke sekitar.
__ADS_1
"Hani..." gumam Hana. Dia melihat ke sebuah tempat duduk di pojokan ruangan Dia berada di sebuah ruang private jadi tidak terlihat dari luar.
Roy menatap ke arah pandang Hana. "Kembaranmu?" tanya Roy. Hana menghela nafas dan mengangguk.
Hana melihat Hani bangkit dan pergi ke toilet.
"Aku akan ke toilet," pinta Hana.
"Jangan lama." Hana mengangguk. Dia meletakkan tasnya ke kursi dan berjalan keluar ruangan mengikuti Hani.
Dengan hati berdebar Hana masuk ke ruang toilet wanita. Di sana dia melihat Hani baru saja keluar dari salah satu bilik dan bercermin.
"Pria itu membuatku mual dan mulas," gerutu Hani.
"Hani, aku rindu padamu," panggil Hana memeluk Hani tiba-tiba.
Hani langsung melepaskannya dengan kasar. "Kau, untuk apa mengikutiku?" ucapnya tidak senang.
"Hani, kau tidak senang melihat aku, saudaramu?"
" Senang, apanya yang senang? Kau selalu membuat masalah bagi kami semua."
"Hani...!" panggil Hana tidak percaya dengan tanggapan saudara kembarnya. Dia kira setelah lama tidak bertemu perangai Hani akan berubah nyatanya tidak.
"Pergi kau, aku tidak mau tertular oleh nasib sial darimu."
Mata Hana merebak. "Hani aku sayang padamu."
"Sayang? Sayang yang mana, ketika Ayah dan Ibu sedang melakukan perjanjian dengan pria kaya yang bersamamu kau ada di sana kan? Kau tidak membantu orang tuamu sama sekali. Padahal kami sedang butuh pembeli besar agar produksi kami meningkat dan bisa menutup hutang. Kini gara-gara kau, aku harus menemani pria tua itu agar dia mau memberi waktu lebih untuk mengembalikan hutang perusahaan."
"Hani aku tidak bermaksud demikian...."
"Kau memang dari dulu munafik. Bilang saja kau ingin membalas dendam pada keluargaku sehingga melakukan ini," tuduh Hani.
__ADS_1
Hana menyeka air matanya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku menyayangi kalian."
"Bu**sh**, katakan pada semua orang, mereka mungkin akan percaya tetapi tidak padaku atau ibu. Kau hanya bisa membuat keluarga kita menderita saja!" Hani mendorong keras tubuh Hana hingga terjatuh ke belakang.