
Hari berikutnya Roy mendapatkan sebuah kiriman foto lewat emailnya. Foto Mitch dan Karina yang sedang digendong ke laut dan beberapa foto lain yang memperlihatkan kedekatan mereka.
Jika ini diambil oleh paparazi pasti akan ada di pajang di halaman sebuah majalah. Namun, foto ini dikirimkan kepadanya seperti menyatakan jika keamanan pulau ini dipertanyakan.
Wajah Roy memerah. Dia lalu memanggil Hyun untuk datang ke kantornya lewat intercome. Hyun adalah orang yang bertugas memeriksa keamanan pulau ini. Pria keturunan Korea dan Amerika. Pria itu benar-benar memahami kebutuhan privasi di pulau ini dan memastikan tidak ada seorangpun yang mengambil foto-foto seperti yang ada di komputernya.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Hyun ketika melihat Roy sedang menunggu mesin print mencetak sesuatu diatas selembar kertas.
Foto itu lalu diberikan pada Hyun. "Ini bukan diambil dari laut, dari atas sebuah pesawat. Ini diambil seseorang di pulau ini," ungkap Hyun.
"Kalau begitu periksa semuanya. Alamat IP nya, sumbernya aku harus tahu siapa yang mengirim foto ini. Periksa juga semua pegawai di tempat ini dan tanyai apa yang mereka lihat dan mereka ketahui kemarin. Jangan ada yang sampai terlewat. Khusus untuk pelayan yang melayani kedua orang itu rekam semua jawaban dari interogasinya."
Roy menggebrak meja.
"Seseorang nampaknya ingin bermain-main denganku! Jangan beritahu masalah ini pada siapapun termasuk Adry. Aku ingin mencari tahu dulu siapa pelakunya dan mau apa dia!"
"Baik, Pak."
"Dimana pasangan itu berada?"
"Mereka sedang keluar pulau dengan mengendari motor boat setengah jam yang lalu."
"Cepat kirimkan beberapa orang untuk menguntit mereka."
Sore harinya mereka memberitahu jika Karina dan Mitch pergi berjalan-jalan ke pasar hanya mampir membeli barang.
"Apa mereka berbicara dengan seseorang?" tanya Roy.
"Ada beberapa wanita yang seperti mengerti Tuan Mitch hanya saja Nona Karina menampik dan mengatakan jika dia adalah Mitch pemain film itu dia akan kaya karena bisa menjual foto pria itu orang-orang lalu percaya dan mengira jika mereka hanya mirip saja."
"Hanya itu?"
"Ya, itu saja."
"Tidak ada yang terlewat?"
"Sepertinya tidak Pak Roy," ucap penguntit Mitch dan Karina.
Roy pun tidak menemukan hal aneh atau petunjuk dari hasil wawancara dengan para pelayan di villa ini. Kepalanya seakan mau pecah. Apa maksud seseorang mengirim foto ini padanya?
***
__ADS_1
Karina membuka matanya tatkala mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menutup wajahnya dengan tangan, untuk menghalangi sinarnya matahari masuk ke penglihatannya. Dia melihat tubuh tinggi dan besar berdiri tegap di depannya.
Dia menurunkan kaca mata hitamnya di bawah hidung, menyusuri pakaian berlebihan yang Roy kenakan. Stelan jas lengkap dengan sepatu pantofel yang mengkilap. Pandangannya naik ke atas dada bidang pria itu, rahangnya yang dicukur bersih dan kedua bola mata berwarna cokelat gelap yang tajam menatap ke arahnya, lebih tepat ke arah bikininya. Sial, dia merasa terekspos sempurna.
"Ada yang salah?" tanya Roy. Karina memicingkan matanya dan tersenyum kaku.
"Kau memakai pakaian berlebihan di kolam renang," ucapnya membenarkan kembali letak kacamatanya.
Tatapan mata itu menjelajahi kulit tubuh Karina yang terbuka. Kain yang sedikit yang berwarna merah itu menutupi bagian penting tetapi tidak menghalangi seorang pria untuk berimajinasi. Karina tidak tahu apakah bibir Roy berkedut karena mengaguminya ataukah dia tidak suka dengan hal ini. Dia merasa datang di sebuah pesta dengan kostum yang salah.
Tatapan Roy beralih ke arah pa*a Karina. Membuat wanita itu mempunyai keinginan untuk mengeliat. Namun, dia malah menegurnya tidak senang. "Kau menatapiku."
"Ini mataku dan aku bisa melihat apa saja yang ada di depanku."
Karina lalu duduk menyambar handuk yang tersampir di kursi berjemur. Lalu menutupi bagian pinggang bawah.
"Kau selalu membuat hariku buruk," gumam Karina lirih.
"Kau mengatakan apa?" tanya Roy pura-pura tidak mendengar.
"Bukan hal penting."
"Untuk apa kau kemari? Aku kira bukan untuk mendekatiku kan?" Mendengar hal itu Roy menaikkan satu alisnya ke atas.
"Untukku atau semua rombongan?" tegas Karina.
"Kau tetapi jika ingin mengundang yang lain itu tidak masalah," kata Roy.
"Apakah semua pengunjung diberi layanan ini?"
"Tidak, tetapi sepertinya Kakak Ipar sangat menyukaimu. Dia ingin mengenal dekat denganmu," kata Roy membuat bibir Karina terkatup. Dia takut sendiri jika aksinya diketahui oleh keluarga itu.
"Hanya karena itu?" tanya Karina curiga.
"Kau bisa tanyakan hal itu pada Kakak ipar sendiri mengapa dia mengundangmu makan siang."
Mereka lalu terdiam melihat kolam renang yang ada di depannya.
"Bagaimana perjalanannya kemarin?"
"Menyenangkan," kata Karina. "Semua orang terlihat ramah pada kami."
__ADS_1
Roy memandang lekat ke arah Karina membuat dada wanita itu berdegub kencang.
"Bagaimana dengan makan siangnya?" tanya Roy.
"Apakah formal?"
"Tidak hanya makan siang biasa seperti sebuah keluarga."
Karina lalu melihat penampilan Roy. "Bisakah kau memakai pakaian yang kasual. Aku bisa membayangkan kau berenang di pantai dengan pakaian itu."
"Tentu saja tidak, aku akan melepaskan semuanya jika berenang."
"Semua?!" seru Karina tanpa sadar. Imajinasinya berkeliling. "Apakah karena itu kau memasang CCTV di seluruh pulau ini agar tahu dimana kau bisa berenang tanpa terganggu orang lain?"
"Aku tahu tempat dimana CCTv tidak akan mengekspos tubuhku. Jika kau mau ikut, akan kuberitahu tetapi jangan lupa pakai bikini ini, terlihat manis ketika kau mengenakannya," kata Roy mendekat di samping telinga Karina membuat wanita itu merinding.
"Apa kau sedang mengoda?" Karina menggerakkan kepalanya sehingga ujung hidung mereka hampir saja bersentuhan. Tatapan mereka saling beradu.
Mereka adalah pria dan wanita dewasa yang terbiasa hidup di negara bebas. Tahu apa artinya ajakan itu.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu yang tersipu." jari Roy menyentuh pipi tirus Karina.
"Itu jika kau tidak keberatan." Roy memundurkan wajahnya dan berdiri.
"Aku akan menjemputmu saat makan siang nanti," lanjutnya berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang.
Karina menggigit bibirnya yang sensual. Pria itu terlihat sangat menarik untuknya tugas dari pemilik agensinya sangat berat kali ini. Dia malah takut dirinya yang akan masuk dan terjebak dalam lingkaran penghuni pulau. Terutama Roy, dia bisa terikat padanya lebih dalam jika membiarkan pria itu lebih mendekat ke arahnya.
Sedangkan Roy datang ke dalam kantor dan menemui Adry yang sedang menatap aktifitas orang-orang di kolam renang dari dalam ruangan khusus pria itu. Ruangannya dengan Adry memang bersebelahan dan itu menghadap ke kolam renang dan pantai dikejauhan.
"Aku sudah mengundangnya," kata Roy berdiri di depan Adry.
"Bagus. Waktumu hanya tiga hari untuk membuat dia bertekuk lutut di hadapanmu dan mengatakan apa yang dia inginkan di pulau ini Jika tidak aku bisa membunuhnya."
"Baik, Kak!"
"Jangan ulangi lagi menyembunyikan masalah dari diriku. Semua aktivitas di pulau ini aku ketahui jadi aku harap kau tidak mengkhianati ku lagi seperti dulu."
Roy hanya menundukkan wajahnya.
"Kau boleh pergi sekarang juga." Roy lalu keluar dari ruangan Adry.
__ADS_1
Adry lalu melihat layar laptopnya yang memperlihatkan seorang wanita yang memakai pakaian serba hitam di tengah malam. Bayangan hitam itu mendekati gedung utama dan berusaha masuk ke dalam ruangan Adry. Namun sistem ruangan ini tidak semudah itu untuk dibuka walau terbuat dari kaca transparan. Ada sinar laser yang menjaga pintu ini agar tetap aman. Bahkan Roy sendiri tidak bisa masuk ke dalam tanpa seijin Adry.
Dia lalu menekan sebuah nomer dari handphonenya. Panggilannya tersambung. "Bagaimana keadaan Leon di sana sekarang?"