Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Keinginan Gila


__ADS_3

Setelah pemeriksaan Roy baru boleh di temui oleh keluarganya tapi hanya untuk sebentar karena kondisi tubuhnya yang belum stabil.


Letak peluru yang ditembakkan oleh Janeta dengan jantung Roy itu hanya se-inci saja. Jadi hanya mengenai tulang rusuk dan sendi dalam dada serta pembuluh darah yang masih bisa dokter atasi dengan baik. Dia hanya butuh banyak istirahat untuk waktu yang lama.


"Aku bersyukur kau telah siuman," ungkap Adry yang berdiri di sisi kanan Roy bersama dengan Raina sedangkan Carl duduk di sisi kiri, memandangi putranya.


"Aku kira yang akan membangunkanmu itu Karina ternyata tidak, Ayah yang menyadarkan mu dari koma." Roy lalu menoleh sedikit ke arah Carl.


"Kata Dokter kami tidak boleh banyak berbicara denganmu. Sebaiknya aku pergi keluar saja."


"Ya, Ayah juga akan menemui ibumu," ujar Carl. Mata Roy terlihat bersedih.


"Tapi jangan khawatir, Ayah akan kembali lagi kemari nanti untuk menunggumu," imbuh Carl. Roy menganggukkan kepala lemah.


"Kau biar ditemani oleh Karina saja. Sedari tahu kau terluka dan ada di rumah sakit, dia menangis terus." Ledek Raina menahan senyum sembari melirik pada Karina yang berdiri di belakangnya.


Karina sendiri memerah wajahnya, mencubit lirih Raina. Raina lalu menepuk tangannya.


"Memang seperti itu kan? Dia sangat mengkhawatirkanmu. Aku dan Adry yang jadi buktinya. Dia selalu menunggumu di sisi tempat tidur dan hampir tidak mau beranjak walau untuk sekedar makan saja."


Roy menatap dingin pada Karina. Tidak mengatakan apa-apa. Matanya mulai terasa berat lagi mungkin akibat efek obat yang masih terasa kuat.


"Sebaiknya kami pergi dulu. Cepatlah pulih agar kita bisa bersama lagi mengurus Heaven Of Love." Adry menepuk lirih pundak Roy.


Carl menarik nafas, dia berharap dua putranya kembali bekerja bersamanya, bukannya larut dan asik dalam kehidupan di pulau terpencil. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Keluarga Quandt keluar dari ruangan itu.


"Karina, aku titip Roy dulu, ya," ujar Raina sebelum meninggalkan kedua orang itu.


Roy memandangi Karina yang melangkah canggung mendekat padanya.

__ADS_1


"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Karina.


"Minum," ucap Roy singkat. Karina langsung mengambil sebuah botol air mineral membuka, menuangkannya di gelas baru menyuapi air itu dengan sendok. Mengikuti apa yang perawat lakukan tadi.


"Terimakasih," ucap Roy lirih dan hampir tidak terdengar. Karina mengangguk kepalanya.


"Kau bisa pulang untuk beristirahat," imbuh Roy lagi.


"Tidak, aku tidur di sini saja. Lagipula aku belum memesan hotel samasekali," ungkap Karina.


"Aku tidak ingin merepotkanmu," lanjut Roy.


"Aku senang melakukannya. Mungkin ini sebagai balas budi karena kau bisa membawaku menemui ayah di saat terakhirnya."


"Tidak perlu, aku senang melakukannya," ujar Karina.


"Ya, sudah. Aku tidak memaksamu."


"Tidurlah! Aku akan menjagamu di sini. Jika kau butuh apa-apa panggil aku." Mata Roy memang sudah terasa berat sekali sedari tadi. Kini dia mulai memejamkan matanya. Sebentar saja pria itu sudah terlelap. Karina lalu memilih duduk di sofa panjang dan bersiap untuk ikut pula membaringkan tubuhnya.


Untung saja Raina sudah membawakannya selimut dan baju serta keperluan lainnya. Dia juga mengirimkan makanan dari restoran serta cemilan bila waktu makan tiba. Jadi dia tidak perlu bingung lagi untuk mencari barang kebutuhannya di luar.


Adry menawarkan diri untuk menggantikan Karina tetapi wanita itu bersikeras untuk menjaga Roy hingga pria itu pulih dan kembali ke rumah. Jadi, dia menyerahkan semua tanggung jawab itu pada Karina. Adry dan Raina mendukung keinginan Karina itu. Berharap kedatangan dan perhatian Karina membuat Roy bisa melupakan kesedihannya karena kehilangan Nita.


Di luar Carl mengajak Adry untuk menemui Janeta tetapi Adry menolaknya.


"Tidak setalah apa yang Ibu lakukan kepada kami. Aku ingin agar Ibu sadar dengan kesalahannya terlebih dahulu baru kami akan menerimanya kembali," ungkap Adry. Raina mengeratkan genggaman tangan pada Adry.


Carl hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ungkapan hati Adry. Dia bisa melihat luka dan bara api kemarahan di mata anaknya.

__ADS_1


"Aku sudah memesan kamar terbaik di hotel terdekat. Nanti biar sopirku menunggu Ayah di depan ruangan. Jika Ayah ingin beristirahat dia bisa mengantar Ayah ke tempat peristirahatan."


"Ya, sudah. Bagaimana pun kau sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan tidak untuk kau lakukan. Ingat sejelek apapun ibumu. Dia tetap orang yang melahirkan dan membesarkan mu."


"Aku tahu itu, Yah. Aku juga lelah dengan semua ini. Maka dari itu, aku ingin agar ibu segera sadar dengan kesalahannya." Mereka terdiam.


"Yah, jika Polisi datang hubungi aku. Aku akan mengurus semuanya. Aku sudah meminta agar masalah ini tidak tercium oleh media."


Carl mengangguk lalu pergi dari hadapan Adry tanpa mengatakan apapun. Adry menatap Raina.


"Apakah yang kulakukan salah?" tanya Adry.


"Semua yang terjadi tidak kita harapkan dan inginkan. Semua sudah kehendak Tuhan. Mungkin dengan jalan ini semua akan membaik. Leon sudah kembali pada kita. Roy sudah sadar dan aku harap dia menemukan cintanya pada diri Karina. Hanya satu yang belum terselesaikan. Hubungan kita dengan Ibu, terutama hubunganku dengannya."


"Aku sudah tidak berharap dia akan menerimamu lagi. Kita bisa hidup bahagia tanpa ada dirinya." Kata-kata Adry menyiratkan kekecewaan pada Janeta.


"Tapi aku ingin bisa mengambil hatinya. Aku ingin kau kembali bersama keluargamu dengan baik. Itu artinya kemenangan sempurna untuk kita."


Adry menatap tidak percaya dengan keinginan Raina. Setelah apa yang Janeta lakukan, dia tidak mengira jika Raina masih ingin bisa meraih hati Janeta. Padahal untuk beberapa tahun terakhir ini, Raina terlihat trauma dengan apa yang Janeta lakukan. Dulu bahkan mereka beberapa kali ke psikiater untuk mengatasi ketakutan Raina.


"Apa kau yakin? Aku tidak ingin kau melakukan ini untuk diriku. Aku hanya ingin kau tenang dan bahagia."


"Aku juga ingin melakukan ini untuk kesehatan psikisku. Aku tidak ingin lagu kita hidup dalam bayangan ketakutan. Aku ingin hidup normal layaknya orang kebanyakan."


Adry menarik rambutnya ke belakang. Dia tidak mengerti dengan pemikiran perempuan. Ada saat Raina tidak ingin mendengar nama Janeta di sebut tetapi kini tiba-tiba dia ingin berada di dekat Ibunya. Pikirnya gila apalagi ini? Yang ada Raina hanya akan terluka lagi. Dia tidak ingin istrinya melakukan hal ini sampai kapan pun.


"Sebaiknya kita pulang saja ke rumah terlebih dahulu. Kita sudah sangat lelah setelah seharian melalui banyak peristiwa. Leon pun sepertinya sudah lelah menjaga Rere sedari tadi di hotel."


Setelah lama menunggu, Leon akhirnya diantar oleh sopir menuju kamar Hotel. Rere ingin ikut bersama Leon. Mau tidak mau, Raina mengijinkannya walau berat meninggalkan Rere sendiri bersama Leon yang tidak pernah punya pengalaman menjaga adiknya. Namun, sampai sekarang Leon tidak menelfonnya. Padahal handphone Raina diberikan pada Leon untuk mempermudah komunikasi. Mungkin tidak ada masalah yang berarti pikir Raina.

__ADS_1


"Kau benar. Aku rindu berbincang dengan Leon."


__ADS_2