
"Jika kau lebih suka pekerjaanmu maka kau tinggal saja dengan itu. Aku dan anak-anak bukan cuma pajangan di rumah yang hanya dilihat sekilas lalu di tinggal pergi. Peliharaan juga butuh diperhatikan," ucap pedas Hana.
Roy terkejut dan terdiam mendengar Hana ucapan Hana.
"Kami baru sebulan lebih tinggal di sini dan kita belum menikah tapi kau sudah mulai pulang larut malam dan tidak peduli denganku. Aku sudah menunggumu sedari sore dan kau pulang tidak melihatku hanya laptop itu yang kau perhatikan dari pagi hingga sore. Jika begitu kau menikah saja dengan laptop itu!"
Roy memegang baju Hana tapi dia menyingkirkannya.
"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."
"Maaf... maaf dan selalu maaf, sampai kapan aku harus memaafkanmu dan mengerti dirimu. Cobalah mengerti, aku dan anak-anak butuh kau bukan uang atau kekuasaanmu. Jika kau lebih mencintai uang, kami bisa tinggal di rumah kecil kami. Di sana aku bisa memeluk anakku setiap malam dan melihat mereka setiap waktu dan menit. Di sini, aku dan anak-anak tidur terpisah. Kau menyuruhku tidur menemanimu sedangkan kau sendiri sibuk dengan dirimu, lalu untuk apa aku disini? Tidak ada gunanya!"
"Sudah!" tanya Roy. Membuat Hana terdiam.
"Sekarang kita tidur," Roy lalu memeluk Hana dan meletakkan kepala wanita itu di dadanya. Ucapan Hana mengiris hati walau kenyataan itu benar. Dia sibuk dengan pekerjaannya hanya menatap anak-anak ketika pagi saja. Wajar jika Hana marah.
"Jika ada unek-unek lagi tinggal katakan saja karena aku bukan pria yang pandai menebak isi hati seorang wanita."
"Aku akan memperbaiki diri, tegur saja bila aku salah." Roy menghela nafasnya. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, sebab sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan kau pergi dariku. Tempatmu di sini Hana, di dada dan hatiku."
"Jika kau memang membuka sepenuhnya hari dan jiwamu jika tidak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menjangkaunya."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kau terkadang masih membandingkan aku dan mendiang istrimu. Aku tidak suka. Sudah ku katakan aku adalah aku, tidak mau dibandingkan dengan wanita manapun."
"Oh, tadi, karena itu kau marah? Aku tidak membandingkan mu hanya saja aku bercerita jika aku bisa melakukan segalanya yang aku bisa untukmu."
"Untukmu atau diriku?" balik Hana.
"Kau tadi menyinggung soal pernikahan dan kujawab. Semua keputusan kembali padamu."
"Entahlah, aku merasa sendiri dan kesepian. Anak-anak pulang sore dan kau pulang malam. Aku bahkan tidak punya kegiatan yang berarti. Hidup begini-begini saja tidak ada tantangan."
"Bukankah kau juga banyak kegiatan dan jadwal?" ujar Roy.
"Jadwal yang kau buat sesuai dengan selera hidupmu bukan aku."
"Okey, kau mau apa, asal jangan pergi dariku." Roy mulai bersikap lunak sekarang.
Hana menghela nafas.
"Jangan bandingkan aku dengan mendiang istrimu dan aku ingin punya kegiatan sendiri sesuai dengan keinginanku. Aku yang mengaturnya," kata Hana.
"Baik hanya saja untuk latihan olah raga dan yoga tidak bisa diganggu gugat."
"Kau harus berolahraga minimal dua jam setiap harinya. Jika perlu bangun bersamaku dan kita olahraga bersama."
Setiap pagi sebelum berangkat kerja Roy memang melakukan gym di rumah. Dulu dia lakukan ketika malam hari bersama teman-temannya kini setelah punya anak dan wanita dia mengganti jadwalnya.
"Itu jam ku dan anak-anak," ujar Hana. "Aku harus menyiapkan sarapan kalian, menyiapkan sekolah mereka dan juga memastikan mereka berangkat sekolah dalam keadaan siap semuanya. Kau juga kan?"
"Maka dari itu aku jadwalkan jika anak-anak sedang sekolah." Roy menyentil hidung Hana.
"Lalu kau ingin melakukan apa? Berbelanja, ke tempat perawatan atau apa? Tinggal katakan dan kau pergi."
"Aku ingin membuat hidupku berarti," jawab Hana.
"Maksudnya?"
"Aku ingin memasak banyak untuk ku bagikan pada orang-orang yang di pinggir jalan atau membagikan sembako atau uang sejenis itu."
__ADS_1
"Kau bisa ikut perkumpulan bakti sosial yang ada di perusahaan."
"Tidak, aku tidak suka itu. Itu seperti pencitraan. Aku ingin melakukan itu secara spontan tanpa diketahui orang lain tanpa ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Selain itu, aku ingin mengadopsi anak-anak yang terlantar. Aku dulu sering bertemu dengan anak-anak seperti itu. Mereka tidak punya orang tua dan diharuskan mengemis di pinggir jalan oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab."
"Kalau begitu kau ingin buat yayasan yang menampung anak-anak itu? Itu merepotkan Hana."
"Tidak, aku tidak ingin membuat yayasan, aku hanya ingin membesarkan mereka di rumah agar mereka tahu bagaimana rasanya punya keluarga."
Kepala Roy langsung pening seketika. Dia tidak mengira jiwa sosial Hana begitu besar. Sehingga ingin menjadikan rumahnya sebagai tempat penampungan anak terlantar.
"Hana dua anak saja sudah menguras emosi dan jiwamu kau mau menambah anak yang bukan anak kita, coba pikirkan lagi? Lebih baik kau hamil saja agar tidak perlu mengadopsi anak lain."
"Aku pikir kau terlalu kaya sehingga untuk membesarkan beberapa orang anak lagi itu tidak masalah."
"Ini bukan soal uang saja Hana tetapi soal waktu perhatian dan tugas kita ketika mengurusnya tidak mudah."
"Aku mengerti, kau dan aku memang berbeda."
"Hana... aku memperbolehkan mu melakukan bakti sosial tetapi tidak membawa anak orang ke dalam rumah ini."
"Sayang...."
"Sekali tidak tetap tidak! Tidak ada kompromi, okey!" Hana menghela nafas mendengar jawaban Roy.
Dia memang punya dua anak yang sering membantunya ketika berjualan dulu. Mereka tidak ingin uang Hana, mereka mendekati Hana hanya karena wanita itu suka berbuat baik pada mereka dan menganggap Hana sebagai ibunya. Entah, bagaimana nasib kedua anak itu sekarang. Mendadak Hana teringat dengan keadaan mereka.
"Sudah kita tidur saja daripada memikirkan hal yang akan membuat kita bertengkar," ajak Roy memeluk Hana.
Hana memaksakan dirinya untuk tersenyum. Roy mengecup bibir Hana cepat berkali-kali.
"Sayang sudah...," rajuk Hana manja.
"Tidak... aku ingin kau sekarang...."
***
"Untuk apa bingkisan itu?" tanya Roy pada Hana.
"Itu untuk anak-anak Ibu di pinggir jalan," terang Ayu.
Roy mengangkat alisnya.
"Iya, ayah... jika Ibu jualan anak-anak perempatan yang suka mengemis itu suka berteduh di gerobak jualan Ibu. Ibu terkadang membeli buku untuk mereka menulis dan belajar. Maka dari itu kami tidak tega jika harus meminta uang jajan pada Ibu, kami lebih suka mencari barang bekas untuk uang jajan kami karena Ibu kami itu milik semua anak-anak."
"Kalian mencari barang bekas?" tanya Hana terkejut.
"Hanya iseng Ibu," bela Bagus menendang kaki Ayu yang keceplosan bicara.
"Kau jangan marahi mereka, aku malah suka dengan semangat dan kegigihan mereka dalam berjuang memperoleh apa yang mereka mau. Dulu karena mereka sedang mencari barang bekas jadi bertemu denganku jika tidak aku belum akan menemukan kalian hingga saat ini."
"Tapi..."
"Sudah jangan bahas lagi masalah itu. Ini isinya apa saja?" tanya Roy mengalihkan pembicaraan beralih ke tas kain berisi beberapa barang.
"Hanya makanan, minuman dan jaket. Aku menyiapkan lima belas bungkus untuk anak-anak itu."
"Kenapa jaket bukan uang saja mereka bisa membeli apa yang mereka mau?"
"Jangan, jika uang malah diambil oleh para preman itu," ujar Bagus yang tahu dengan keadaan anak-anak pinggir jalan. Roy mengangguk.
"Mereka tinggal di kolong jembatan. Di bawahnya sungai kalau malam pasti sangat dingin."
__ADS_1
"Lakukan apa yang kau mau. Aku berangkat pagi karena ada urusan keluar kota jadi sekalian aku antarkan anak-anak sekolah."
"Kau keluar kota lagi?" kata Hana nampak keberatan.
"Aku usahakan tidak menginap, pulang nanti malam walau sedikit terlambat. Kenapa rasanya berat ya, padahal belum berangkat, kok sudah rindu." Roy memeluk pinggang Hana.
"Jangan lupa selalu ingat aku," ucap Roy lagi mengecup bibir Hana di depan anak-anak.
"Mana mungkin aku melupakanmu," ujar Hana menatap mata Roy sambil tersenyum.
"Ciye ayah dan Ibu, mesra seperti Ayah dan Ibu Aaric." Ayub dan Bagus bersorak riang melihat kemesraan orang tua mereka.
"Cincinnya mau datang sore ini, kau di rumah ya!" ujar Roy ketika dia sudah berada di mobil bersama anak-anak.
"Ya kau sudah mengatakannya tadi. Aku hanya mengantar ini saja langsung pulang kok," jawab Hana. Roy menatap Hana lekat rasanya kok berbeda. Dia seperti tidak ingin meninggalkan wanita jauh-jauh. Ingin mengajaknya ikut serta tetapi itu tidak adil untuk anak-anaknya. Mereka juga butuh ibunya.
"Kita berangkat, Tuan," tanya sopir.
"Tunggu." Roy kembali membuka pintu mobil dan berjalan ke arah Hana.
"Apakah ada yang ketinggalan?" tanya Hana.
"Kau... aku ingin menciummu sebelum pergi, untuk bekal ku di perjalanan."
Roy memeluk Hana dan mencium bibir nya di depan semua orang. Anak-anak menutup matanya dengan tangan.
Setelah puas, Roy baru melepaskan Hana.
"Ingat jaga dirimu baik-baik. Huh, kenapa aku rasanya tidak ingin pergi ya...."
"Sudah sana pergi saja. Aku akan baik-baik saja karena ada tiga pengawal mu yang selalu menjaga setiap langkahku."
"Kau benar, aku memang terlalu khawatir." Roy menyukai rambutnya lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
"Tiga hari lagi kita ke Jerman untuk menikah, kau ambil baju nikah kita di butik sendiri ya, karena aku tidak bisa menemanimu."
"Iya... gih sana berangkat."
"Dadah Ibu... kami sayang padamu!"
***
Hana telah selesai membagikan semua bingkisan untuk semua anak-anak di pinggir jalan. Dia dikerumuni oleh beberapa anak jalanan.
"Bu Hana, kapan kembali lagi? Kami rindu. Setelah Ibu pergi tidak ada lagi yang memberi air minum atau sempol gratis," ucap salah seorang anak jalanan.
"Lani, Ibu Hana sudah kaya jadi tidak jualan lagi, lihat ibu itu baguskan?" ujar Ojim. Mereka melihat mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Ibu akan sering kesini untuk menengok kalian. Kalian baik-baik ya?" ucap Hana.
"Kalau tidak ada Ibu kami merasa kesepian. Ibu adalah ibu kami semua. Aku sayang Ibu," ujar Lani memeluk Hana.
"Kami juga sayang, Ibu," ucap semuanya memeluk Hana.
Setelah berpamitan Hana berjalan ke mobilnya. Meninggalkan tempat itu. Di tengah jalan satu mobil mulai menghadang jalan mobil Hana, membuat sangat sopir mengerem mendadak.
Ciit!
Satu mobil lain datang, sengaja menabrak keras bagian belakang mobil Hana. Mobil Hana mulai berputar-putar hingga menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam sungai besar.
Brak!
__ADS_1
Byur!
"Itu hadiahnya jika mencoba bermain denganku!"