Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pelakor


__ADS_3

Setelah Adry pergi ke dapur, Raina meluruskan kakinya di sofa. Dia lalu mengambil selimut yang tersampir di sandaran sofa dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Men de sah puas karena ditinggal sendiri.


Dia lalu memandang panel kaca jendela dan melihat ke arah luar. Hujan masih turun dengan lebat dan sinar kilat masih sesekali terlihat di kejauhan. Raina menarik selimutnya hingga ke bawah dagu.


Dia lalu mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Lama kelamaan matanya yang sendu terasa berat dan dia tidak dapat menahan dorongan untuk tidur. Kehamilan ini membuatnya cepat lelah.


Adry pasti akan membangunkannya ketika makanan telah siap. Beberapa saat kemudian dia sudah tertidur.


Ketika Adry sudah menyelesaikan pesanan Raina dia lalu masuk ke ruang tamu yang menjadi ruang keluarga juga. Dia menemukannya Raina sudah memejamkan matanya dengan tangan yang menjadi bantalan pipinya.


Raina terlihat begitu lemah dan polos. Sama sekali tidak seperti wanita kejam yang akan melukai seseorang dengan sengaja.


Adry merasa tidak adil jika berpikir demikian sementara dia sudah berjanji akan melupakan masa lalu. Namun, kenyataan itu pasti akan segera mereka temui nantinya cepat atau lambat. Pikiran gelap itu merayap memasuki benaknya.


Ibunya adalah segalanya untuk Adry sebelumnya. Ibu selalu ada untuknya sangat berbeda dengan ayah yang tidak bisa selalu bisa menemaninya karena pekerjaan pria itu begitu banyak. Adry sangat jarang mendapat perhatian ayahnya ketika kecil.


Untuk semua yang ibunya lakukan, dia selalu mendahulukan ibunya dari apapun. Bahkan Nita terkadang dia tinggalkan di Indonesia karena ibunya sedang sendiri di Jerman dan merasa kesepian jika ayahnya sedang berada di luar negeri untuk waktu yang lama. Atau dia akan langsung terbang jika mendengar ibunya sakit.


Mungkin sifat itu yang dia turunkan pada Leon sehingga anak itu juga sangat mencintai Raina. Leon peduli dengan Raina dan selalu khawatir jika ibunya suatu hal membuat ibunya sedih. Hal itu pula yang membuat dia rasakan.


Seharusnya tidak ada yang boleh ada yang membuat ibunya sedih atau terganggu. Namun, wanita lain melakukannya, dia adalah istri serta ibu dari anaknya. Bukan hanya menghancurkan hubungannya dengan Janeta tetapi juga menghancurkan hubungan mereka. Hubungan yang kini Adry ingin jalani kembali dengan penuh tekad.


Mereka telah berjanji untuk tidak melihat masa lalu. Sedangkan untuk menuju ke masa depan kita harus menyelesaikan beberapa masalah yang ada. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau semua harus dihadapi karena hal itu tidak bisa diabaikan untuk selamanya.


Adry diam-diam pergi keluar dari unit apartemen itu dan menghubungi orang kepercayaannya. Sersan Andika yang telah menemukan Raina.


***

__ADS_1


Esok harinya Adry mengantar Raina ke rumah sakit dan tetap berada di sisinya. Adry memang tetap berada di sisinya. Pria itu bahkan membawa beberapa makanan sehat dan minuman agar Raina tidak bosan menunggu antrian ibu hamil.


Beberapa wanita terlihat cemburu ke arah Raina karena perhatian pria itu pada istrinya. Selain itu, wajah Adry yang tampan dan penampilannya yang maskulin membuat para wanita itu ogah mengalihkan pandangannya kearah lain.


Raina pikir dia harus segera menguruskan tubuhnya setelah melahirkan. Dia sedikit takut dengan para pelakor yang menatap lapar pada suaminya itu. Dalam hati dia bertanya apakah dia masuk katagori pelakor? Jika iya mengapa dia juga harus takut terhadap mereka? Pikiran itu membuatnya tertawa sendiri.


Setelah menunggu antrian lama akhirnya mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Seperti biasanya sang dokter akan memeriksa kondisi janin melalui USG. Bayi dalam perut Raina sudah terlihat jelas. Dia sehat dan pertumbuhannya bagus.


Adry orang yang paling antusias jika melihatnya. Netranya terus menangkap pergerakan bayi itu seakan tidak sabar untuk menunggu kedatangannya.


"Dia sepertinya lebih mirip dengan ayahnya. Hidungnya terlihat jelas tinggi," ujar sang dokter.


"Cantik," gumam Adry.


"Apakah Anda yakin bayinya perempuan?" tanya Dokter itu yang tahu jika pasangan ini tidak ingin jenis kelaminnya diketahui terlebih dahulu biar menjadi kejutan.


Setelah menyelesaikan USG, dokter itu memegang kaki Raina lalu memencetnya perlahan. Setelah itu mereka kembali ke tempat duduk.


"Bukankah sudah kukatakan untuk menjaga kondisi Anda Nyonya, kau harus banyak beristirahat, tidak boleh banyak bergerak. Bengkak di kaki Anda bertambah parah."


Adry menghela nafasnya. Mengatakan hal ini pada Raina itu sulit, dia selalu bergerak ke sana kemari walau tidak mengerjakan pekerjaan apapun.


"Kandungan protein di urin anda juga sangat tinggi, bahaya preklamsia mengintai. Saya harap Anda menjaga pola makan dan istirahat dengan teratur."


"Dia selalu mengganggu istirahat saya dokter," ungkap Raina dengan wajah polos.


"Aku," Adry menunjuk ke wajahnya sendiri menatap tidak percaya Raina menyalahkannya atas hal ini.

__ADS_1


"Ya, dia sering memintaku melayaninya," tambah Raina mengadu pada sang dokter. Adry menelan Salivanya dalam-dalam dan mengusap ujung hidung sendiri.


Dokter yang memeriksa Raina tertawa kecil.


"Itu bagus Nyonya akan memudahkan jalan lahir janin karena Anda sedang dalam kondisi hamil tua," ujar dokter itu.


Raina menganggukkan kepalanya sedangkan Adry mengibaskan bajunya yang terasa sesak sembari tersenyum puas dengan keterangan. dokter itu.


"Itu bagus Sayang, kalau begitu aku akan sering mengunjungi bayiku agar selalu ingat siapa bapaknya." Semangat Adry kian menggebu mendapat dukungan dari dokter itu.


"Namun jangan membuatnya lelah karena bisa membuat kontraksi diperutnya."


"Nah, dengarkan!" sela Raina. Adry mengatupkan bibirnya. Pernyataan dokter itu membuat dia tidak bisa berkata-kata. Beberapa hari lalu dia memang terus menggempur Raina tetapi wanita itu juga menginginkannya.


"Tekanan darah ibu normal untuk saat ini namun cenderung tinggi. Ini bisa sangat berbahaya jika tekanan darah kembali naik. Suami anda harus selalu menjaga mood Anda agar selalu tenang dan bahagia. Jika tidak, saya sarankan untuk dilakukan operasi sesar saja untuk mengurangi resiko ini."


Adry menatap Raina.


"Bisakah secara normal saja Dokter?"


"Bisa, hanya saja Anda harus benar-benar menjaga diri dan bayi. Sangat ayah juga harus memantau keduanya."


Adry menatap Raina merasa dilema dengan situasi ini. Dia ingin yang terbaik untuk Raina dan kata dokter harus dilakukan operasi.


"Sayang, kita operasi saja agar lebih aman," bujuk Adry.


"Dokter mengatakan aku bisa melahirkan dengan normal. Aku menyukai proses itu dimana aku harus berjuang untuk mengeluarkan bayi dalam perutmu sendiri. Kumohon jangan halangi aku jika itu memungkinkan untuk bisa dilakukan." Raina menatap Adry dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


Adry menarik nafas dalam melihat ke arah dokter. Dia ingin mencari pendapat terbaik dari dokter itu.


__ADS_2