
"Apa-apain ini Adry, kau melalaikan tugasmu sebagai CEO dari pabrik kita di Indonesia." seru Carl ketika Adry menerima panggilan telephon dari ayahnya.
Adry langsung berjalan keluar dari kamar meninggalkan Raina yang sedang memilih baju untuk pergi tidur. Raina sekilas melihat Adry menerima telepon dengan wajahnya yang pucat.
"Yah, aku sudah menyatakan akan cuti selama waktu yang belum ditentukan. Aku mengirimkan salinannya pada Daddy." Adry menjawab telephon itu di balkon memastikan jika Raina tidak akan mendengar pembicaraan mereka.
"Bersikaplah profesional! Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan!"
"Yah, kau pasti tahu jika Raina sedang hamil," kata Adry.
"Aku sudah mendengarnya dari ibumu. Ini berita yang bagus sekaligus tidak mengenakkan. Ingat Adry, walau dia sedang hamil aku tidak akan menerimanya lagi jadi bagian dari keluarga kita setelah apa yang dia lakukan!"
"Yah, kita baru mendengarnya dari satu pihak akan tidak adil jika tidak mendengarnya dari sisi Raina."
"Ingat dia sudah mengakui kejahatannya," ungkap Carl.
Adry menghela nafasnya. "Aku kenal Raina, dia tidak akan menyerang tanpa sebab pasti."
Terdengar suara tawa keras dari seberang telephon. "Kau yang sudah bertahun-tahun hidup bersama Nita saja masih bisa tertipu. Apalagi bersama dengan Raina yang baru kau kenal beberapa saat saja."
"Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini, Ayah. Hanya saja hatiku ingin bersamanya.
Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana.
"Ayah, untuk sementara ini aku tidak akan pergi ke kantor."
"Aku menolak cutimu. Kau harus bertanggungjawab dengan pekerjaanmu."
"Jika Ayah tidak setuju maka aku akan membuat surat pengunduran diri.''
"Adry. Selama ini kau tidak pernah membangkang perintahku. Wanita itu telah menguasai otakmu sehingga kau tidak bisa melihat kenyataan yang ada. Kau terbuai dengan cinta semu yang dia tawarkan. Padahal dia hanya mengincar hartamu saja."
"Raina bukan wanita seperti itu, Yah. Namun, yang ayah katakan memang benar jika aku buta olehnya. Terserah apa pendapat Ayah yang jelas untuk waktu yang tidak bisa kutentukan, aku ingin keluar dari perusahaan. Aku ingin fokus dengan anakku yang akan lahir. Jadi jangan halangi aku untuk melakukan tanggung jawabku sebagai suami dan ayah." Adry menghela nafas dan mematikan panggilan itu segera sepihak.
__ADS_1
Dia menatap jauh keluar jendela kaca di depannya tidak sadar jika Raina mencuri dengar pembicaraan itu dari balik tembok.
Setelah merasa tenang, Adry kembali ke kamarnya. Dia melihat Raina sedang menyisir rambut di pinggir tempat tidur.
Adry duduk di dekat Raina, menunduk untuk mengangkat kaki wanita itu dan meletakkannya di pangkuan Adry. Dia mulai memijit kaki itu perlahan. Seperti seorang dokter dia memeriksanya.
"Bengkaknya, tidak seburuk Minggu lalu. Sedikit mengecil."
"Kau merawatku dengan baik." Raina meletakkan sisir di atas nakas. Menikmati pijitan di kakinya.
"Aku khawatir kau kelelahan setelah kita keluar tadi. Aku jadi menunda kepergian kita ke pantai. Bagaimana jika besok pagi?"
"Aku baik-baik saja. Bahkan merasa bersemangat hari ini. Sudah lama aku tidak berkeliling kota Jakarta." Sebelum pulang Adry membawa Raina berputar, menikmati keindahan gemebyar kota ini.
Adry seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi urung dia lakukan.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Raina menatap lekat manik mata Jamrud milik pria itu.
"Raina mengapa dulu kau tidak memakai kartu yang kuberikan? Jika kau melakukannya kau bisa hidup dengan nyaman tanpa harus bekerja seperti itu."
"Apakah itu hal terlarang?"
"Aku tidak menyukainya."
Adry menghela nafas namun dia butuh jawaban Raina untuk meluruskan satu masalah secara berurutan.
"Aku begitu terkejut melihatmu bekerja di kedai kopi itu. Tahukah kau bagaimana perasaanju mengetahui itu? Kau bahkan tidak punya makanan di rumah kontrakanmu."
"Aku makan di sana dan pulangnya aku membawa sisa makanan yang ada dan itu sudah cukup untukku."
"Kau bahkan bisa hidup lebih baik dengan kartu itu kenapa kau malah menyiksa dirimu dan bayi kita." Raina menatap tajam ke arah Adry.
"Harga diriku akan terkoyak jika aku melakukannya. Mungkin aku akan melakukannya jika aku tidak menemukan pekerjaan dan kelaparan. Nyatanya, tanpa uang darimu aku masih bisa hidup."
__ADS_1
Dada Adry terasa nyeri. Adry menelan Salivanya sendiri.
"Apa kau begitu membenciku Raina hingga kau lebih memilih hidup kesulitan dan bekerja dengan kondisi yang menyedihkan dari pada menerima apapun dariku."
"Aku berpisah darimu karena keinginanku sendiri. Kau tahu, aku merasa menjadi perempuan kotor jika memakai uangmu. Itu menandakan bahwa aku hanya memanfaatkan mu saja padahal kita sudah berpisah."
"Tapi ini anak kita dan dia berhak atas apa yang kumiliki."
"Kau tahu, ibumu menawariku cek kosong yang masih kusimpan dengan baik. Tunggu," ucap Raina melepaskan kakinya dari tangan Adry lalu bangkit dan berjalan ke kamarnya. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi membawa satu amplop yang telah usang dan keriput."
Raina menyerahkannya pada Adry. "Ini berisi cek itu. Aku bisa mengisi berapapun yang kumau agar bisa meninggalkanmu dan Leon. Lima belas milyar tawar ibumu dulu, atau mungkin lebih jika aku mau."
Wajah Adry memucat, dia mengambil amplop itu melihat ke dalamnya. Selembar cek atas dengan tanda tangan ibunya. Adry tidak mengatakan apapun, hanya mengusap wajahnya kasar.
Sejenak mereka terdiam. Adry menarik nafas dalam.
"Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal padaku?"
"Untuk apa? Ketidakpercayaan mu telah membuktikan bahwa kau ragu dengan diriku. Aku tidak akan mempertahankan hubungan yang tidak ada rasa percaya di dalamnya. Kau diam tetapi tatapanmu menuduhku. Apakah jika aku mengatakan yang sebenarnya saat itu, semua orang akan percaya padaku? Nyatanya, tidak."
Adry terdiam. Menangkup pipi Raja dan mencium dahinya. Dia tersenyum dalam kesedihan.
"Waktu itu aku marah, padamu dan pada ibu. Aku tidak tahu yang terjadi tetapi aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Kau istriku dan dia adalah ibuku. Aku tidak ingin merusak hubungan kita dan hubungan keluargaku. Aku butuh waktu untuk mencerna dan berpikir tetapi kau pergi dengan cepat tanpa kata."
"Aku tidak sanggup melihat kebencian di matamu dan Leon." Adry lalu menarik Raina dalam dekapannya.
"Aku marah dan membencimu ketika melihat rekaman dan foto jika kau dan Roy sering terlihat bersama."
"Nah, itu berapa lama waktu yang kau perlukan untuk sadar bahwa itu semua adalah sebuah kebohongan?"
"Itu memang benar kan, Raina. Kau memilih menyerahkan masalah ini pada Roy daripada meminta bantuanku."
"Kau ingat ketika kau menamparku dulu? Apakah kau bertanya dulu padaku, apa yang terjadi? Kau lebih percaya mereka daripada diriku. Dan ini masalahnya lebih besar dan kompleks dari masalah itu. Sedangkan saat itu, semua bukti kesalahan mengarah padaku. Aku bisa apa? Hanya Roy yang selalu memberiku solusi dari semua masalah."
__ADS_1
"Dia tidak memberikan solusi. Jika dia tahu bahwa Ibu salah seharusnya dia memberitahuku bukannya diam dan pergi begitu saja," geram Adry.