
Kejadian lain pun terjadi membuat Roy tergelak melihatnya. Wanita itu terlihat takut ketika mulai mengaduk bumbu membuat isian untuk sandwich itu.
Tangannya mengoleh namun tubuhnya dijauhkan dari wajan itu.
"Akh, minyak itu akan menyiprat ke kulitku," teriak Karina.
"Ini tidak semenakutkan yang kau kira." Roy lalu mematikan kompor itu dan mulai berada di belakang Karina dan mereka mulai dari pertama. Dia yang kini mengendalikan tubuh wanita itu. Tangannya memegang kedua tangan Karina dan mengajarinya caranya memasukkan bumbu dan mengoleh makanan.
Akhirnya, makanan yang terlihat mudah itupun selesai juga. Sandwich telor gulung ala Roy terlihat tidak begitu menarik karena chef-nya masih belajar namun rasanya tidak buruk.
Mereka makan itu dan Karina sangat bangga dengan hasil memasaknya yang pertama.
"Ini tidak begitu sulit," ujar Karina menatap sandwich itu dengan wajah berseri-seri. Roy sendiri menghela nafas. Baru membaut sandwich saja harus membuat kehebohan di dapurnya. Jika dia tidak membantunya memasak dia yakin Karina akan menghancurkan dapurnya.
"Tapi kulitku sedikit terkena cipratan minyak," ucap Karina memperlihatkan kulitnya yang memerah.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi."
"Itu seru dan aku tidak ingin merusak momen itu dengan hanya luka kecil ini." Roy lalu bangkit, pergi, dia kembali dengan kotak P3K. Lalu mengoleskan krim luka bakar di tangan Karina.
"Apa kita akan benar-benar menikah?" tanya Karina.
"Apa agamamu?" tanya Roy. Selama ini dia memang atheis, tidak menganggap Tuhan itu penting.
"Lalu apa agamamu. Kenapa aku tidak memikirkannya?"
"Sebenarnya kalau papa Carl dan Ibu Janeta adalah Kristen ortodoks sedangkan Kakak ikut kedua istrinya, Islam sedangkan aku tidak mengenal tentang agama dan Tuhan. Tapi aku percaya itu ada ketika aku mulai ketakutan kehilangan kau. Aku berdoa dan memohon kepada Nya untuk pertama kalinya."
Karina terdiam, tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah menurut kepercayaan Karina ( Othornya g akan membahas tentang ini. Mereka selesai menikah saja, Okey)
Hal pertama yang mereka lakukan sebelum memulai semuanya adalah menemui ibu Karina. Wanita itu dalam keadaan baik di rumah sakit. Dokter mengatakan Ibu Karina hanya merasa sedikit shock.
__ADS_1
"Ibu... ," sapa Karina yang melihat ibunya sedang duduk di tempat tidur menatap pemandangan keluar jendela. Wanita paruh baya yang masih cantik itu menoleh dan tersenyum.
"Akhirnya kau datang juga," kata Ibunya. Karina lalu maju dan memeluk ibunya.
"Nak Roy," sapa Ibu Karina melihat pria itu dibelakang Karina.
"Ibu... ," Roy lalu mengulurkan tangan menjabat tangan ibu Karina.
"Kau kemari mengantar Karina," ucapnya canggung. Dia tidak pernah merasakan ini ketika bertemu dengan siapapun.
"Terima kasih atas semua bantuanmu ini dan terimakasih juga karena mau menjaga anakku ini. Aku tenang ketika melihat kau ada di dekatnya."
Roy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kami membawakanmu beberapa makanan dan baju ganti." Karina meletakkan paper bag di atas meja sebagian besar berisi pakaian bermerk dan satu tas berisi bekal makanan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Lilis, ibu Karina.
"Ini semua Roy yang membelikan."
"Aku harus mengatakan terima kasih berapa kali kepadamu. Kau sudah banyak membantu kami."
"Tidak usah sungkan. Anggap saja aku adalah bagian dari keluarga kalian."
Netra Lilis menerawang. Matanya tiba-tiba merebak. "Di saat semua orang menghindari dan menghujat kami, kau malah datang seperti seorang malaikat."
"Aku hanya manusia biasa, jangan memujiku seperti itu. Hal itu membuatku malu," ujar Roy.
Mereka lalu lebih banyak membicarakan masa lalu dan Roy mendengarkan dengan penuh perhatian. Hingga saatnya mereka harus pergi.
"Ibu. Aku tahu, aku bukan manusia yang sempurna, aku punya banyak kekurangan yang mungkin akan kalian ketahui nantinya. Namun, aku punya keinginan kuat yaitu membina sebuah keluarga bersama Karina. Itupun jika kau mengijinkan."
Lilis lalu menatap anaknya. Matanya berkaca-kaca. "Aku malah akan tenang jika dia bersamamu. Kau datang disaat yang tepat ketika kami sangat membutuhkan seseorang untuk membantu kami keluar dari semua permasalahan ini."
__ADS_1
"Aku adalah orang yang akan paling bahagia melihat kalian berdua menikah."
"Kalau begitu bolehkah aku menikah hari ini di depanmu. Kita tidak tahu hari esok apa yang akan terjadi jadi aku tidak ingin menunda sesuatu yang baik."
Lilis terkesiap tidak bisa mengatakan apa-apa hanya menengadahkan tangannya ke atas sambil tersenyum lalu mengangguk.
"Kalau begitu lakukan sekarang."
Karina tersenyum lebar memeluk ibunya. "Terima kasih, Bu."
Lalu bagaimana cara Roy mengerjakan semuanya dalam waktu singkat, Karina tidak tahu. Seseorang datang membawa baju dan seseorang lagi akan merias dia di ruangan itu dan beberapa anak buahnya mulai mengatur pernikahan sederhana di ruang perawatan itu dengan cepat.
Akhirnya mereka berdua telah selesai melakukan pernikahan dan mereka meminta doa dan restu pada Lilis. Dengan berderai air karena bahagia mata Lilis merestui pernikahan mereka.
"Andai saja ayahmu melihat ini, dia pasti akan bahagia," ucapnya.
"Nak Roy. Kami orang tuanya, selalu mencintai dan menjaga Karina dengan baik. Selalu berusaha agar Karina mendapatkan yang terbaik pula. Kami pun selalu memberinya kasih sayang dan cinta yang utuh. Kini dia telah menjadi istrimu. Aku harap kau bisa mencintai dan menjaganya dengan baik pula."
Roy mengangguk.
"Aku tahu jika Karina bukan wanita yang sempurna dan banyak kekurangan. Jika kau merasa cintamu padanya telah hilang atau kau merasa tidak ada kecocokan lagi maka kembalikan dia padaku lagi. Tidak perlu kau berteriak atau memakinya karena hatinya tidak akan kuat menerima itu. Mungkin kau juga sudah tahu tentang penyakitnya. Andai kau berteriak marah padanya maka akan fatal akibatnya. Maka dari itu cukup kembalikan dia padaku atau jika aku pun sudah tidak ada, lepaskan dia dengan baik-baik."
"Aku tidak akan melepaskan tangannya kecuali dia sendiri yang memintanya," ucap Roy memegang tangan Karina dan menatapnya.
"Aku pun tidak akan melepaskan tanganku padamu," ungkap Karina mantap.
"Kalau begitu jadilah istri yang baik.Turuti keinginan suamimu selama itu baik bagi kalian. Cintai dia dengan sepenuh hatimu seperti yang Ibu lakukan pada ayahmu. Ingat satu hal, apapun yang terjadi kalian harus saling menguatkan satu sama lainnya. Jangan pernah menyerah dan satu lagi kunci keberhasilan berumah tangga adalah adanya kejujuran dan kepercayaan penuh. Jika salah satu kalian menodainya maka itu satu langkah menuju keretakan dalam sebuah hubungan."
"Aku sangat paham dengan itu. Aku pun tahu sakitnya ketika dikhianati, maka dari itu, aku tidak akan melakukannya pada Karina."
"Tidak usah banyak berjanji karena kita tidak tahu hari esok. Cukup lakukan yang terbaik untukmu dan pasanganmu."
"Iya, Bu," jawab Roy menunduk.
__ADS_1
"Aku percaya denganmu sepenuh hatiku maka dari itu jangan hancurkan kepercayaanku ini dengan menyakiti Karina."
"Baik Bu, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuknya."