Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Gaya Ekstrim


__ADS_3

Ketika pagi tiba. Anak-anak sudah dikejutkan dengan banyaknya makanan di rumah itu. Roy meminta pelayannya datang untuk membawakan sarapan serta mengerjakan pekerjaan rumah.


Mereka bahkan membantu memakaikan baju Ayu dan Bagus. Sedangkan Hana yang sudah tenang nampak duduk termangu. Roy membawakannya semangkuk bubur kaldu yang berbau harum rempah-rempah. Dia mencoba bersikap biasa saja dan menghindari sentuhan secara langsung dengan Hana. Dia tidak ingin wanita itu histeris dan menangis lagi.


"Aku tidak tahu apa kau suka ini atau tidak? Tapi pelayanku mengatakan jika ini baik untuk kesehatanmu."


"Aku tidak sakit, masih bisa berjalan dan berkerja."


"Kau memang tidak sakit namun ini baik untukmu. Cobalah jika kau tidak suka, aku akan meminta mereka mengambilkan makanan yang kau inginkan!"


"Mengambilkan di mana?"


"Di rumah makan mungkin karena akan sangat lama mengambil dari rumahku."


"Itu namanya membeli."


"Berapa pelayan yang kau bawa kemari?"


"Hanya lima. Aku tidak tahu bagaimana cara mengurus anak yang mau berangkat ke sekolah. Tidak tahu pekerjaan rumah. Tidak bisa memasak pula. Jika beli di pinggir jalan aku belum pernah melakukannya."


"Lima itu hanya? Aku saja hanya punya tiga pelayan di rumah ku dulu." Hana nampak mulai membuka diri. Dia tersenyum sedih lalu melanjutkan makannya.


"Bu, kami mau berangkat sekolah dulu," pamit si kembar. Mereka menyalami Hana dan Roy.


"Om, enak ya jadi orang kaya. Sepatu pun dipakaikan. Katanya mereka akan mengantarku ke sekolah dengan mobil," ujar Bagus dengan mata berkilat.


"Ya, sudah kalau begitu nanti kalian pulang saja ke rumah, Om. Jadi kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada."


"Aku mau kalau Ibu ikut," ujar Ayu cepat.


"Aku juga."


"Ini sudah siang sebaiknya kalian cepat ke sekolah kalau tidak akan terlambat," ujar Hana mengalihkan pertanyaan mereka.


"Ya, sudah kalau begitu. Dah Ibu. Om jangan nakal lagi dengan Ibu. Jika tidak kami akan marah!" ancam Bagus.


Roy memegang lehernya. "Aku janji tidak akan nakal dengan Ibumu lagi."


"Buat Ibu tersenyum ya, Om," ujar Ayu mengerlingkan mata pada Roy.


"Ck kalian ini." Hana melotot pada kedua anak itu. Mereka lalu lari keluar kamar.


"Anak nakal!" tersenyum meneruskan makannya lagi.


"Mereka anak yang manis. Dari awal aku bertemu mereka aku sudah suka. Kau mendidik mereka dengan baik. Aku bangga padamu."


Hana yang sedang makan lalu mengangkat wajahnya menatap Roy.

__ADS_1


"Aku hanya melakukan semua sesuai yang ku bisa. Mencoba bertahan hidup di tengah semua kesulitan."


"Tidak mudah membesarkan anak sendiri."


"Nyatanya aku bisa melakukannya."


"Kau memang Ibu yang hebat."


Mereka lalu terdiam.


"Ibu anak-anakku, ikutlah denganku ke pulang."


"Pak Roy, aku bukan istrimu yang harus ikut denganmu pulang."


"Kalau begitu menikah saja denganku! Bukankah itu mudah?"


"Bukankah katamu kau punya keluarga di Jerman?" Hana masih mengira jika Roy punya anak dan istri di Jerman.


"Ya. Kau akan bertemu dengan mereka nanti."


"Apakah mereka akan menerimaku? Aku rasa tidak kan. Tidak akan ada yang mau berbagi."


"Wanitaku akan menerimamu dengan senang hati." Roy malah mempermainkan perasaan Hana sekalian. Dia menahan diri untuk tidak tertawa.


"Aku juga tidak mau menikah denganmu, kau terlalu tua untukku."


"Pokoknya aku tidak mau dekat-dekat denganmu apalagi menikah denganmu."


"Jika kau tidak mau maka aku akan mengambil Ayu dan Bagus dari tanganmu. Kau tidak akan bisa melawannya. Aku punya alibi kuat untuk mengambil mereka darimu. Aku lebih mapan secara finansial selain itu aku juga sehat secara fisik dan mental. Apa jadinya jika para petugas tahu kalau kau mengidap penyakit mental?"


Hana menggigit bibirnya dengan cemas.


"Mau tidak mau kau harus ikut denganku jika masih ingin bersama anakku. Jika kau mau, kau akan dapat semua yang diinginkan wanita, kehormatan, harta dan harga diri mu naik di mata semua orang."


"Ini pemaksaan!"


"Aku memang memaksa. Sudah ku katakan aku bukan pria baik yang akan berbasa-basi dan merayu mu dengan kata-kata cinta seperti anak remaja lalu mengajakmu menikah dengan lamaran yang indah."


"Ayo kita menikah. Kau bisa mendapatkan banyak keuntungan dari menikah denganku. Kau tidak perlu bersusah ria dan kepanasan untuk mendapatkan uang dua ratus ribu."


"Itu seperti pernikahan sebuah bisnis."


"Ya, terserah kau akan menganggapnya apa!"


"Apakah jika suatu hari kita tidak cocok kita bisa bercerai?"


"Jalani saja dulu jangan berandai-andai sesuatu yang buruk sebelum melakukannya."

__ADS_1


Hana berpikir. Mengamati penampilan Roy.


"Apakah kau itu seorang mafia?" tanya Hana tiba-tiba. Dia melihat badan Roy yang besar dan berotot serta banyak tatto tersebar di sebagian tubuhnya.


Pria itu bisa saja menculik dan memaksanya melakukan yang dia inginkan jika dia terus melawan, dia mungkin akan dibunuhnya. Hana bergidik membayangkannya.


"Mantan, sekarang masih jika diperlukan."


"Kenapa?" lanjut Roy dia hendak menyentil kening Hana namun ditariknya lagi.


"Jangan berpikir macam-macam."


"Bukan macam-macam, hanya satu macam. Apa yang akan kau lakukan jika aku menolaknya."


"Aku tidak suka penolakan. Tidak suka membuat pilihan untuk lawanku. Mereka harus mengikuti semua yang ku inginkan. Aku akan melakukan yang kau pikirkan itu."


Wajah Hana memucat. Dia mengambil segelas air putih di tangan Roy dan menghabiskannya dengan sekali teguk.


"Jadi, aku tidak punya pilihan!" kata Hana sambil menyeka bibir dan dagunya yang basah. Roy mengambil sapu tangan dari kantong bajunya dan menyerahkan kepada Hana.


"Ya, seperti itu. Aku akan baik selama kau menurut."


"Baiklah aku akan menikah denganmu karena kau memaksa tapi aku tidak ingin kau sentuh!"


"Semua sesuai dengan keinginanmu. Kau akan jadi ratu di rumahku. Kau akan bebas melakukan apapun yang kau inginkan kecuali membawa pria lain ke rumah dan pergi dari rumahku tanpa ijin."


"Kalau kau setuju kita akan pulang sekarang."


"Anak-anakku?"


"Kita akan menjemput mereka terlebih dahulu mungkin meminta ijin pada wali kelasnya untuk pulang lebih dini."


Hana terdiam memegang jatung dengan kedua tangannya.


"Kenapa jantungku berdetak lebih cepat! Mungkin aku terkena penyakit jantung," ucap Hana dengan wajah polos.


"Kau berdebar karena dekat denganku," jawab Roy malas.


"Untuk apa berdebar dekat denganmu yang ada aku malah takut padamu. Aku pikir sebaiknya kau diet agar tubuhmu yang besar itu mengecil sedikit. Kau juga terlihat menakutkan dengan penampilan seperti itu. Wajahmu kaku dan penuh dengan bulu, serta rambut yang panjang seperti mafia. Badanmu pun penuh tatto."


"Ini gayaku dan kau harus terbiasa."


"Sepertinya kau harus merubahnya. Gayamu terlalu ekstrim. Aku malu jika harus menikah dengan pria dengan gaya seperti itu."


"Aku keren dan tampan, apanya yang membuat malu." Baru kali ini ada yang protes dengan gayanya.


***

__ADS_1


Udah tiga bab nih... ayo votenya biar besok semangat crazy up lagi


__ADS_2