
Setelah mengantarkan Rama keluar rumah, Roy kembali lagi ke kamarnya. Di lorong dia bertemu dengan Carl dan Janeta.
"Bagaimana keadaan Hana?" tanya Janeta.
"Sudah lebih baik, Bu."
"Memang kau pernah melakukan hal buruk apa padanya?"
"Aku menodainya, itu tidak ku sengaja. Max, kawanku memberikanku obat, lalu aku butuh pelampiasan dan dia menyiapkan seorang gadis di kamar. Aku juga belum tahu pastinya, kenapa dia ada di sana."
"Bagaimana bisa kau tidak tahu?"
"Dia juga tidak tahu mengapa ada di dalam kamar itu," lirih Roy menunduk. "Dia masih sangat muda ketika mendapatkan perlakuan keji dariku." Ada nada penyesalan dalam kata-kata Roy.
"Ada konspirasi?"
"Mungkin."
"Kau sudah selidiki latar belakang keluarganya?"
"Sudah, keluarganya pemilik perusahaan plastik daur ulang di pinggir kota. Namun, ketika mereka tahu jika Hana hamil dia diusir keluar dari rumahnya karena mencoreng nama baik keluarga."
"Itu menyakitkan untuknya. Pantas saja jika dia nampak tertekan. Dia masih sangat muda untuk melalui semua itu," ucap Janeta.
"Tapi dia bisa melakukannya dengan baik," kata Roy.
"Ya, dia merawat dan membesarkan anak-anakmu dengan baik. Mereka anak yang sopan dan mandiri, tidak seperti Aaric yang manja," Janeta melirihkan ucapannya di kalimat terakhir, takut jika Raina atau yang lain mendengarnya. Itu bisa menimbulkan masalah lain.
"Kau yang selalu memanjakannya, Bu," ujar Roy.
"Bagaimana lagi, dia itu menggemaskan."
"Dia suka tidur di kamar kami ketika sedang ngambek dengan orang tuanya. Akhirnya aku mengalah tidur di sofa kalau seperti itu."
Mereka berdua tertawa kecil.
"Aaric memang lucu dan menggemaskan."
"Sekarang Bagus tidur bersamanya. Di kamar Aaric."
"Aku akan melihatnya." Roy lalu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Ayu tidur di kamar Rere, tadi aku melihat merek sedang memakai masker," ungkap Janeta.
__ADS_1
"Masker?"
"Rere mulai beranjak dewasa, dia mengikuti apa yang ibunya lakukan dan kini mengajari Ayu."
Roy melangkahkan kaki menuju kamar Aaric yang berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar Raina. Dia mulai membuka pintu dan melihat dua anak itu sedang asik bermain game dari handphone.
Roy mulai masuk. "Aaric adikmu harus sekolah besok jadi biarkan dia tidur lebih awal."
"Om sebentar lagi tanggung nih," kata Aaric.
"Tidak! Bagus berhenti, kalau tidak mau, ayah akan menyuruhmu tidur sendiri di kamarmu."
"Baik Ayah," kata Bagus menyerahkan handphone ke Aaric.
"Anak baik. Tidurlah ini sudah malam." Roy mengusap kepala Bagus lalu mencium keningnya.
"Ayah mau melihat Ayu." Roy hendak pergi tapi tangan Bagus meraihnya.
"Ibu mengapa tidak kelihatan dari tadi, Yah?"
"Dia sedang istirahat di kamar Ayah. Kalian bisa melihatnya besok pagi."
"Ibu tidak kenapa-napa kan?"
Setelahnya, Roy ke kamar Regina. Dia mengetuk pintu kamar namun tidak ada jawaban. Akhirnya, dia membuka pelan dan menemukan Ayu tidur dalam satu ranjang dengan Regina.
Roy lalu masuk dan membenarkan selimut keduanya.
"Paman," kata Regina membuka matanya. Roy meletakkan jari telunjuk di bibir sendiri. Dia lalu mencium dahi Ayu.
Roy keluar kamar. Dia pergi ke lantai tiga tempat di mana kamarnya berada. Membuka pintu kamarnya sendiri dan menatap ranjang yang kosong.
Dia mencari Hana di kamar mandi, wanita itu tidak ada di sana. Lalu mulai menatap ke arah pintu balkon yang terbuka.
Hana nampak berdiri tegak di sana. Dia memakai gaun tidur berwarna hitam yang tadi diberikan oleh Roy. Jubahnya menari-nari di lantai ketika terkena sapuan angin malam yang dingin. Rambutnya yang panjang dan di gerai, s bergerak bagai selendang dewi yang sedang terbang di langit menuju ke kahyangan.
"Hana," panggil Roy mendekat di sebelahnya.
"Aku tidak bisa tidur jadi keluar sini. Ternyata pemandangan dari sini indah karena tidak terhalang oleh tembok dan bangunan rumah orang lain." Mereka memang tinggal di kawasan perumahan padat penduduk.
"Karena itu aku memilihnya," kata Roy bersandar pada pagar pembatas yang terbuat dari besi. Dia mengambil rokok dari dalam kantong celananya.
"Apakah kau keberatan jika aku merokok?"
__ADS_1
"Tidak. Semua pria dalam lingkunganku merokok. Aku sudah terbiasa." Hana menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Roy mulai mengambil sebatas dari kotak rokok miliknya dan menyalakannya. Asap putih berbentuk bulat mulai keluar dari mulutnya.
"Pria tidak terlihat pria jika tidak merokok," ujar Roy.
"Tidak juga, mereka yang tidak merokok adalah tipe pria yang sayang pada keluarganya."
"Kok bisa?"
"Dari segi uang, itu mengeluarkan biaya jika itu digunakan untuk anak mereka atau ditabung maka lebih baik kan? Dari segi kesehatan juga. Kau menjaga kesehatan keluargamu dari asap rokok."
Roy lalu menghentikan mulutnya untuk menyesap rokok.
"Aku bukan tipe wanita yang suka melarang seseorang ketika merokok. Itu kebebebasanmu, asal jangan dekat anak. Bagus bisa mencontohnya."
Hana menatap Roy dengan tersenyum, wajahnya yang teduh membuat Roy terkesiap sejenak.
"Apa kau lapar?" tanya Roy.
"Tidak. Aku hanya ingin duduk di luar saja." Hana lalu duduk di kursi dari besi.
"Kau pasti menikmati harimu di sini. Kamarmu nyaman dan rumahmu indah." Hana tidak tahu harus mengatakan apa jadi asal berkomentar saja.
"Tidak juga. Aku hanya menjalani hidup tanpa tujuan. Bangun, bekerja pulang lalu tidur. Jika akhir Minggu keluar bersama teman ke klub."
"Mencari wanita?"
"Hmmm, tidak. Aku tidak suka dengan wanita yang murahan dalam arti dia sudah bersama dengan pria-pria lainnya. Membayangkannya saja sudah membuat perutku mual."
"Lalu mengapa, kau mengatakan jika pernah menyewa ku? Artinya kau memang sering melakukannya!"
Roy menginjak rokoknya di lantai. Menatap ke atas langit. Menghela nafas panjang sebelum bercerita.
"Max melihatku tidak pernah menyentuh wanita jadi dia memberikan obat perangsang di minuman ku. Dia mengatakan sudah menyewa seorang gadis. Tadinya aku tidak ingin menyentuhmu, aku melampiaskannya di kamar mandi hanya saja ketika melihatmu hasrat ku tumbuh lagi dan aku tidak bisa mengendalikan hal itu. Maaf."
"Jadi kau pun tidak dalam keadaan sadar ketika melakukannya?"
Roy lalu duduk bersimpuh di depan Hana.
"Aku sadar, hanya saja aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku tahu dengan siapa aku berhubungan. Aku begitu terkejut menyadari kau itu masih virgin, tetapi dari dalam tubuhku menuntut untuk mencari kepuasan dan itu menyiksaku sebelum aku mendapatkannya," tutur Roy.
Hana menitikkan air matanya. Kali ini dia tidak menjerit histeris. Roy bingung ingin menyeka air mata Hana tapi tidak ingin melihat wanita itu ketakutan.
__ADS_1