Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pulang Kembali


__ADS_3

"Dia tidak memberikan solusi. Jika dia tahu bahwa Ibu salah seharusnya dia memberitahuku bukannya diam dan pergi begitu saja," geram Adry.


Raina terdiam tidak mengatakan jika Roy juga ikut terlibat dalam masalah itu. Entah mengapa, dia ingin melindungi pria itu seperti Roy yang berusaha untuk melindungi dirinya walau dengan keterbatasan yang ada.


"Kau mengatakan itu seperti kau sudah mengenal Roy dengan baik."


"Bukankah dia saudara angkatmu seharusnya kau lebih mengenal sifatnya dengan baik dari pada aku!"


"Roy selalu dekat dengan Ayah bahkan dia selalu menjadi orang kepercayaan kedua orang tuaku untuk mengatasi berbagai masalah diluar bisnis kami."


"Seperti mengurusi masalah pribadi?" tanya Raina serius. Dia ingin tahu lebih banyak tentang Roy yang misterius.


"Bisnis ini menyangkut hidup dan mati Raina. Jika kita tidak sigap dengan kelicikan lawan kita akan jatuh di Medan arena pertarungan terlebih dahulu. Dia membersihkan rintangan dan halangan di keluarga Quandt dan membuat mulus jalan kami. Sebagian besar pekerjaannya diluar dari bisnis walau posisinya sebagai asisten kepercayaan ku."


"Apakah bagi Roy, aku adalah penghalang bagi kebahagiaan keluargamu sehingga dia seringkali mengatakan jika aku seharusnya pergi dari awal?" Mata Adry melebar tetapi sedetik kemudian surut.


"Dia dari awal yang memberi tahu jika sebaiknya aku punya anak darimu," kata Adry.


"Tetapi dia menyuruhku tetap merahasiakan kehamilanku." Mereka sama-sama tertegun.


"Apakah pikiran kita sama?" lanjut Raina.


"Roy tahu semuanya makanya dia menyuruhmu tetap diam dengan kehamilan itu. Namun, apa yang diketahui dan coba disembunyikannya?"


"Dia saksi kunci semua masalahku. Apapun itu dia benar untuk membuatku diam dengan kehamilan ini jika tidak, aku tidak tahu hal buruk apa yang terjadi padaku dan bayiku," ujar Raina naik merangkak ke atas tempat tidur tetapi Adry meraih pinggangnya dan menariknya naik ke atas tubuh Adry.


"Aku lelah. Biarkan aku beristirahat. Pembicaraan ini kita teruskan besok. Okey!" Raina hendak mengangkat tubuhnya karena sebagian tubuhnya dipeluk kencang oleh Adry.


"Adry... ," tolak manja Raina. Adry terkekeh.


"Apakah kau tidak membenciku Raina?"


"Benci dan rindu," ungkap Raina jujur.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Adry mengatakan hal itu dengan tulus berharap Raina akan membalasnya.


"Aku tidak tahu apakah aku masih mencintaimu atau tidak setelah apa yang kau lakukan?" Raina lalu membalikkan tubuhnya ke samping. Kepalanya bersandar di lengan Adry.


"Oh, bagaimana bisa begitu, jangan bilang kau jatuh cinta pada pria lain, karena aku tidak akan menerimanya."


"Kau cemburu?" tanya Raina. Adry menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu bolehkah aku berkata jika aku pun cemburu jika kau bersama Nita?"


"Aku tidak pernah melihatnya dan aku ingin melihat kau marah ketika cemburu," Adry bergerak miring ke arah Raina. Satu tangannya mengambil rambut yang menutupi wajah wanita itu dan meletakkannya ke belakang.


"Aku tidak akan mengatakan apapun. Hanya cukup diam dan pergi tanpa kata."


Adry meringis, perutnya terasa melilit jika mendengar Raina mengatakan pergi.


"Jangan lakukan itu, Cantik. Hidupku tidak akan bergairah tanpa dirimu di sisiku," ujar Adry. Raina mencibir.


"Buktinya kau baik-baik saja sepeninggalku. Gombal!" Raina mendorong wajah Adry kesamping.


"Akh! Aku tidak percaya, dia buas," kata Raina membuat Adry terkekeh.


"Jika bersamamu, dia buas jika tidak dia seperti kucing jinak."


"Berarti jika bersama Nita dia jinak-jinak manja?" Raina mendorong tubuh Adry tetapi pria itu meraih tangannya.


"Aku tidak pernah tidur bersama Nita. Kau bisa tanyakan hal itu pada Leon karena aku selalu berada di kamar Leon setiap malam."


"Dia cantik dan seksi apakah kau tidak tertarik padanya?"


"Kau itu lebih cantik dan lebih seksi dengan perut besarmu. Tidak ada wanita hamil yang bisa secantik dirimu. Aku adalah pengagum mu nomer satu."


Wajah Raina merona merah mendengar hal itu. Adry mengusap perut Raina dengan lembut.

__ADS_1


"Aku ingin menyapanya." pinta Adry.


"Menyapa diluar, Okey," tegas Raina.


Adry tersenyum manis. Ini Rainanya, yang manja dan apa adanya.


"Sekarang hanya menyapa saja tidak menengok." Adry mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya.


Raina lalu tidur terlentang. Adry menyibak gaun Raina sehingga dia bisa melihat jelas perut bundar wanita itu tanpa penghalang. Satu kecupan panjang diberikan ke perut wanita itu.


"Sayang, sedang apa kau di sana? Apakah kau membuat lelah ibumu seharian ini?" Adry menunggu reaksi dari dalam perut Raina. Biasanya calon bayinya akan bergerak meresponnya.


Benar saja sedetik kemudian Adry merasakan gelombang dibawah kulit Raina menggelitiknya. Adry mengajak bicara anak itu lama. Raina sendiri mengusap rambut Adry lembut, hingga terlelap.


"Kau harus selalu ingat jika Ayah sangat mencintaimu," ucap Adry mengakhiri pembicaraan itu. Dia lalu menutup kembali baju Raina. Menatap Raina yang sudah memejamkan matanya. Adry lalu menyelimuti dan ikut masuk ke dalam sana. Dia mencium pipi Raina, memandanginya tanpa pernah merasa bosan.


"Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Beri waktu padaku." Adry lalu mengambil handphonenya. Menghubungi seseorang.


***


Sedangkan di tempat lain, Nita sedang berjalan di lorong apartemen. Langkah kakinya seperti diseret, sesekali dia bersandar di tembok dan menangis. Lalu meneruskan langkahnya lagi hingga berhenti di salah satu pintu. Nita mulai memencet bel.


Namun, dia melihat kunci apartemen dan mencoba memencet kode yang dia ingat dulu sembari tertawa geli. Tidak mungkin kodenya masih sama seperti dulu. Batin Nita.


Pintu terbuka dan Nita terhenyak. Dia memegang keningnya sendiri. Dia lalu masuk ke dalam unit itu dan menutup pintunya.


Nita masih merasakan bau Citrus yang dulu sering dia gunakan untuk membuat ruangan ini harum. Kenangan demi kenangan tentangnya dan Roy berkeliaran di depan matanya.


Semua masih sama. Sofa hitam ini, tempat mereka biasa menghabiskan waktu setelah selesai kuliah dengan banyak hal, seperti makan bersama, bercanda dan bermanja-manja.


Nita menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada yang berubah. Dia lalu duduk sendiri dan menunduk memegang kepalanya. Isak kecil, tangisnya mulai terdengar.


Sebuah sentuhan lembut terasa di kepala wanita itu. Bukannya mengangkat wajah tangis Nita malah semakin keras.

__ADS_1


Roy duduk di samping wanita itu dan memeluknya erat. Kepala pria itu disandarkan ke kepala Nita, sesekali mencium rambut wanita itu dalam. Tidak ada kata yang terucap namun apa yang mereka lakukan menggambarkan semuanya.


"Akhirnya kau pulang juga ke rumah kita," ucap Roy setelah lama mereka terdiam. Terdengar suara ******* yang berat dari Nita.


__ADS_2