
"Merasakan menjadi ayah adalah sesuatu hal yang hebat," ucap Adry ketika menghadiri acara baby shower salah satu sahabat sekaligus teman pembisnisnya.
Acara itu berlangsung di sebuah resort mewah di daerah Pangandaran. Resort itu menghadap langsung ke laut, jadi semua tamu bisa menikmati keindahan yang ada.
Adry bisa melihat raut muka bahagia sahabatnya itu ketika dipanggil oleh istrinya untuk mendekat. Si ibu hamil nampak berseri-seri dan perutnya yang buncit menbah kecantikannya. Pasangan itu lalu berjalan ke lantai dansa yang berada di pinggiran kolam.Terlihat megah di tengah lantai dansa yang seadanya.
Mereka begitu terfokus satu sama lainnya sehingga Adry nampak ragu jika Kenan menyadari sekeliling mereka. Kenan nampak seperti mendapat dunia dan mungkin begitulah yang dirasakan ketika bersama orang yang dicintai. Mereka berciuman tanpa rasa malu di depan semua orang.
"Mereka tampak sangat menjijikkan," ucap Jo.
Adry mendongak dan melihat ke arah Jo yang memegang gelas anggur di tangan satunya sedangkan tangan yang lain dimasukkan ke saku celananya.
"Yeah, benar," jawab Adry. Mulut Jo nampak berkedut kesal. Adry terkekeh lagi.
Dev sudah dekat dengan perjalanan menuju akad, namun langkahnya terhenti. Dia menerimanya dengan lapang dada namun Adry ingin mengerjai sahabatnya ini.
"Tanjung masih sangat membuatmu takut?"
"Sangat," gumam Jo. "Keluarga dan keluarga Tanjung mempunyai kerja sama baru dan mereka inginkan kesepakatan itu bukan hanya dilakukan di dalam bisnis saja tetapi juga di realisasikan dalam pernikahan. Ini sudah abad milenial lagipula siapa orang tua yang masih menjodohkan putri mereka? Lagi pula siapa yang memasukkan pernikahan dalam ladang bisnis. Kau tahu ini sangat menggelikan. Aku tidak bisa memahaminya."
Jonathan dan Adry akhirnya berteman baik setelah mereka melakukan kerjasama dalam perusahaan. Sifat Adry yang dewasa dan berpemikiran dalam membuat Jonathan tidak segan membagi perasaannya pada pria itu. Dia memberi efek positif padanya.
Jonathan sendiri tidak habis dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Raina. Namun, dia bisa melihat jika pria itu kehilangan Raina dan patah hati walau disembunyikannya.
"Masih tidak ada kabar dari Raina?" tanya Jo meringis penuh simpati.
__ADS_1
Adry mengernyit lalu menggeleng. "Tidak, tapi aku sudah mencari tahu. Dia akan muncul."
"Kenapa kau mencarinya, Adry, kenapa kau ingin kembali membawanya ke masalah itu? Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu bersama dengan Nita. Dia lebih baik tanpamu. Kau bisa membuatnya gila jika memaksanya untuk hidup bersama denganmu."
Adry mencibir dan berbalik untuk menatap temannya. "Aku tahu dia lebih baik tanpa aku, aku tidak sedang mencarinya untuk memasukkannya kembali ke dalam hidupku."
"Jika memang seperti itu mengapa kau menyewa detektif untuk menemukannya? Lebih baik kau tetap menjadikan masalalu kalian tetap menjadi masalalu. Lupakan dia dan biarkan dia memulai hidup barunya dengan tenang."
Adry terdiam. Itu bukan pertanyaan yang benar-benar ingin dijawabnya. Bagaimana dia bisa menerangkan tentang keinginannya yang menyala-nyala untuk mengetahui keberadaan wanita itu. Apa yang dilakukan wanita itu?Apakah dia baik-baik saja.
Seharusnya dia tidak seperti ini! Dia seharusnya melupakan segala sesuatu tentang wanita itu setelah apa yang dia baca dalam surat pernyataannya. Namun, dia tidak bisa.
"Aku menginginkan beberapa jawaban," Adry akhirnya bergumam. "Dia tidak pernah memakai kartu yang dia bawa. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi padanya."
Adry mengangkat bahu, "Mungkin." Leon bahkan tidak pernah menanyakan kabar ibunya lagi. Namun, dia tidak bisa mengusir perasaan bahwa dia sangat mencintai Raina. Dia merasa cemas dan peduli padanya walau dia telah melakukan hal buruk pada ibunya.
Dia pergi tanpa uang sepeser pun, dia bahkan tidak menjual cincin nikah mereka atau cincin lain yang pernah diberikan dahulu. Jika sampai cincin itu dijual maka akan diketahui letak keberadaannya. Kedua cincin itu bukan cincin biasa dan dia sudah mencarinya ke semua toko yang ada di kota besar di pulau ini.
Adry tidak bisa mengusir Raina dari pikirannya. Dia bahkan menghantuinya terus. Selama enam bulan Adry hidup bersama Nita dan setiap malam bangun dari tidur dan terjaga hanya karena bermimpi tentangnya. Lalu memikirkan keberadaan wanita itu. Apakah dia aman dan dalam tempat yang nyaman.
Roy yang telah bersama Raina terakhir kali bahkan mengatakan jika dia pun kehilangan wanita itu sewaktu mereka berada di pom bensin. Diketahui dari CCTV jika Raina kabur melarikan diri dari Roy.
Dia tidak punya orang yang bisa dia percaya. Roy telah berhenti bekerja dari perusahaannya. Ibunya terlihat bahagia dengan kehidupannya sekarang bahkan hampir sebulan sekali wanita itu datang untuk menjenguk Leon dari Jerman.
Ayahnya, baginya yang penting Adry bahagia punya keturunan tidak peduli siapa yang bersamanya. Namun, insiden itu membuat Ayahnya murka. Dia melarang dirinya untuk mencari Raina. Nita kini memilih sibuk dengan urusan rumah dan mengurangi kegiatan luarnya. Namun, itu semua tidak membuatnya bahagia. Sesuatu terasa kosong, dia hidup tetapi tidak punya semangat.
__ADS_1
Kantong Adry bergetar, dia merogoh untuk meraih ponsel bersiap untuk memencet tombol 'abaikan' ketika dia melihat siapa yang menelfonnya. Adry mengernyit.
"Permisi, aku harus menjawab panggilan ini."
Jonathan lalu mengibaskan tangannya dan pergi mencari teman wanita sebelum masa perjodohannya dimulai. Dia bergegas keluar dari suasana ramai itu dan mencari tempat sunyi. Dia memilih mendekat ke arah pantai.
Semilir angin laut menerpa rambutnya yang kecoklatan dan aroma air garam memenuhi rongga hidungnya.
Adry berpaling menatap ombak di kejauhan dan mengangkat telepon ke telinganya.
"Sersan Andika?" panggil Adry. Dia adalah mantan Intel yang dia sewa untuk mencari keberadaan Raina.
"Kurasa aku menemukannya," balas suara dari balik benda pipih itu tanpa basa basi.
Tubuh Adry menegang, dia memegang ponsel itu hingga buku jarinya keputihan dan mati rasa. "Dimana?"
"Aku belum sempat menemukan orang dan mendapat informasi tambahan hanya saja aku baru mendapatkan kabar ini beberapa menit lalu. Aku sangat yakin dengan identitasnya dan langsung memberi tahukan kal ini pada Anda. Aku akan memberikan informasi yang lengkap besok."
"Dimana?" tanya Adry dengan suara yang tercekat.
"Di Bekasi. Dia bekerja di salah satu kedai makan. Awalnya ada kekeliruan saat majikanya memasukkan nomer jaminan sosialnya. Setelah dikonfirmasi wajah wanita itu muncul. Aku akan mendapatkan foto-foto serta semua informasi untuk Anda besok sore."
"Bekasi!" gumam lirih Adry. Kenyataan ironis itu tidak luput dari pikirannya. Ternyata Raina sangat dekat dengannya selama ini tetapi dia tidak pernah mengetahuinya.
"Tidak, aku ada di Pangandaran, aku akan sampai ke Bekasi beberapa jam lagi."
__ADS_1