Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pengecut


__ADS_3

Raina bangun di pagi hari dengan lesu. Tidak ada gairah dan semangat karena tidak ada pasokan imun yang masuk ke tubuhnya saat ini. Dia lalu berjalan ke kamar Leon dan melihat anak itu masih tidur lelap. Raina lalu pergi ke dapur tetapi sempat terhenti di depan kamar Adry. Dia membukanya pelan. Aroma musk yang kental masih tercium di dalamnya. Aroma parfum kesukaan Adry. Baru saja berpisah tetapi dia sudah merindukan pria itu.


Air mata Raina menggenang. Dia menutup lagi kamar Adry dan berjalan turun ke bawah. Rumah terasa sepi, sunyi dan seperti ada hilang. Padahal Adry bukan tipe pria yang banyak bicara.


Terkadang pria itu mengetik di laptop, bekerja hingga larut malam. Raina lalu berbaring di kakinya entah itu diantara dua kaki pria itu atau menjadikan kaki pria itu sebagai bantalnya. Dia menemani Adry sembari melihat layar televisi. Pernah Raina ingin membantu pria itu bekerja tetapi Adry malah menolaknya. Katanya kewajiban seorang wanita hanya melayani suaminya bukannya bekerja.


Dengan malas Raina lalu pergi ke dapur. Ingin membuat kopi namun diurungkan. Pria yang biasa dia buatkan, sudah kembali ke pemiliknya.


Akhirnya dia memilih mengambil jus dari lemari pendingin dan menuangkannya di gelas. Dia juga membuat susu untuk Leon.


Setelah itu, dia


"Kenapa Tuhan seneng banget sih mempermainkan aku?" omel Raina lirih sembari membuat telor orak-arik. Masakan itu adalah perumpamaan hatinya yang diorak-arik saat ini. Sembari menyeka air matanya.


( padahal othornya wkkkk wkkk)


"Apa Dia terlalu menyukaiku, hingga tidak memberikan aku kesempatan untuk dicinta dan mencintai," Raina mematikan kompor dan menundukkan kepalanya.


Sebuah pelukan hangat datang dari belakang menghampirinya. Kecupan hangat mampir di tengkuk wanita itu membuat merinding sekujur tubuhnya.


Raina lalu membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangan ke leher Adry.


"Apa kau merindukanku?" tanya Adry menatap mata yang masih basah. Raina tersenyum sembari mengerutkan hidungnya. Dia tidak percaya jika secepat itu Adry akan datang kemari pagi ini.


"Sangat!" Raina lalu mencium bibir tebal pria itu sembari mengeluarkan air mata. Asin, mint dan manis menjadi satu. Baru satu malam saja mereka berpisah tetapi seperti seabad.


Adry seperti biasa selalu ingin yang memimpin. Dia lidahnya bergerak membelit dan membelai lidah Raina membuat wanita itu memejamkan matanya merasakan sebuah sensasi yang indah.


"Raina, i want you now," kata Adry terengah-engah.


"Ke kamar," ajak Raina.


"Aku tidak punya waktu. Waktuku hanya sepuluh menit saja."


"Kau gila?" seru tertahan wanita itu tidak ingin jika Leon bangun.


"Tidak!" ucap Adry menaikkan dress wanita itu ke atas dan mereka bermain dengan masih memakai baju lengkap. Tanpa pemanasan terlebih dahulu.

__ADS_1


Sebuah erangan kepuasan menjadi akhir dari percintaan mereka. Raina dan Adry sama-sama terengah-engah.


Adry membersihkan cairan kental yang mengenai celananya dengan tissue. Lalu mencium pipi Raina. Wanitanya itu masih memegang pinggiran wastafel karena tubuhnya masih bergetar dan terasa lemas.


"Aku harus pergi bekerja dahulu. Jaga dirimu baik-baik dan selalu ingat jika aku mencintaimu." Adry mengacak rambut Raina lalu menciumnya.


Belum juga Raina mengatakan sesuatu pria itu sudah berjalan pergi meninggalkannya.


"Jangan katakan pada Nita juga aku datang kemari," seru Adry sebelum dia menghilang dibalik tembok.


Raina lalu merapikan bajunya dan pergi ke kamarnya untuk mandi. Dalam hatinya dia bertanya, haruskah dia bahagia dengan kedatangan Adry atau sedih dengan kata-kata terakhirnya.


Entahlah tetapi dia tahu jika dirinya kini bukan sekedar rahim sewaan lagi. Status istri mulai diakui oleh Adry walau tidak di depan khalayak banyak.


Itu satu langkah lebih maju dari rencananya. Kini tinggal menjadikan dia satu-satunya atau membuat Nita mau berbagi dengannya? Dua pilihan itu terdengar tidak menyenangkan untuknya.


Membuat Nita pergi sama saja melukai hati wanita lain menjadi yang kedua? Hidup tidak akan tenang karena hanya akan ada persaingan saja. Persaingan memperebutkan cinta dan perhatian suami.


"Bu," panggil Leon dari luar kamar.


"Kau sudah bangun?" tanya Raina mengusap rambut Leon.


"Sudah tadi sewaktu ibu mandi." Wajahnya terlihat tidak senang.


"Ada apa?" tanya Raina menyentuh dagu Leon.


"Tante Nita datang," kata Leon.


"Oh, dia datang juga, padahal ini masih pagi."


"Humm. Dia ingin mengajakku berjalan-jalan ke mall bersamanya."


"Oh, itu bagus. Kalian akan lebih dekat."


"Namun, ketika aku ingin mengajak ibu juga dia menolaknya. Katanya ingin agar bisa berkenalan denganku lebih," ujar Leon.


Raina mengangkat kedua alisnya ke atas.

__ADS_1


"Sekarang kau mandi dulu, biar nanti ibu yang akan menemaninya."


"Jika Ibu tidak ikut aku tidak ingin pergi bersamanya."


"Akh, kau itu. Ibu tidak apa-apa di rumah sendiri."


Raina lalu meninggalkan Leon ke ruang tamu yang berada di bawah. Sepanjang perjalanan dia memikirkan Adry yang tergesa-gesa pergi. Ternyata ini masalahnya. Istrinya akan datang kemari.


Raina menghela nafasnya ketika melihat Nita dan sedang berdiri di ruang tengah dekat dengan jendela kaca besar.


"Hai," sapa Raina tersenyum lebar. Nita membalikkan tubuhnya dan memeluk Raina.


"Kau nampak segar pagi ini?" tanya Nita.


"Seperti yang kau lihat," jawab Raina. Itu karena suamimu baru saja memberikan imun baik dengan datang kemari.


"Silahkan duduk," kata Raina. Nita lalu duduk di sofa panjang ruang tengah. Satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu.


Raina lalu duduk di sudut kursi yang satunya. Dia memandang sikap Nita yang terlihat anggun dan menawan sangat berbeda dengan pembawaannya yang apa adanya.


"Hunian yang nyaman," ucap Nita.


"Kak Adry, memilihnya karena dekat dengan rumah sakit walau kami harus jalan memutar jika memakai mobil."


"Oh, ya bagaimana dengan proses bayi tabungnya? Apakah kau menemui kendala?"


"Tidak ada hambatan, semua berjalan lancar?" ujar Raina menunduk sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"Dulu aku tidak boleh berjalan-jalan dan melakukan kegiatan berlebih.''


"Aku hanya berjalan-jalan di rumah saja. Semoga semua baik-baik saja." Raina menoleh ke samping dan menarik nafas berat karena membahas sesuatu yang tidak dia pahami.


"Ya, banyak harapanku tertanam di sana. Adry bahkan rela membayar mahal dengan pengobatan Leon agar anak impian kami itu bisa lahir dengan selamat,'' ucap Nita lemah sembari melirik ke Raina.


Raina tersenyum kaku. "Anak? Apakah aku rela menyerahkan Adry dan anakku nantinya pada wanita lain?" Batinnya.


Di dunia hanya ada dua pilihan, kalah dan menang. Jika menang kau akan memiliki semuanya jika kalah kau hanya akan jadi pecundang.

__ADS_1


__ADS_2