Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Apakah Kau Marah?


__ADS_3

Setelah satu jam menunggu operasi Leon, Kaira benar-benar datang rumah sakit untuk menemui Raina.


"Jo memberitahuku jika anakmu akan dioperasi, jadi aku mengatakan akan kemari untuk memberi dukungan padamu."


"Maaf, aku datang terlambat," kata Kaira mendekat ke arah Raina dan mencium pipi kiri kanannya.


"Tidak apa-apa, aku senang kau datang kemari," balas Raina.


"Selamat siang Tuan Quandt, kami kemari untuk memberi dukungan pada Raina." Adry menganggukkan kepalanya, masih tetap dengan wajah datarnya. Kaira menatap Jonathan dan menunjuk ke arah Adry dengan gerakan mata lalu memutar bola matanya malas.


Jonathan menahan tawanya. Kaira lalu memberikan tas berisi makanan.


"Aku bawa makanan dan minuman untuk kita, Raina minum dulu" tawar Kaira menyerahkan sebotol jus jeruk pada Raina.


Adry menatap dingin pada bungkusan itu. Mereka kira dia tidak bisa membawanya sendiri mungkin.


"Terima kasih," kata Raina tulus. "Kau masih tahu kesukaanku."


"Sebenarnya Jo yang memesannya tadi sebelum aku datang kemari, karena itu aku datang terlambat," terang Kaira.


"Terima kasih, Jo," ujar Raina.


Jonathan tersenyum pada Kaira. "Apa yang tidak akan kulakukan untukmu, bahkan aku rela menyerahkan separuh hartaku padamu." batin Jonathan.


Mereka lalu bercerita tentang masa lalu membuat Raina sedikit terhibur tetapi membuat Adry tersisih. Raina bisa mendengar hembusan kasar nafas Adry yang tidak nyaman dengan suasana ini. Raina memegang tangan Adry dan menatapnya lalu tersenyum.


Entah mengapa tindakan kecil Raina membuat takjub Adry yang melihat tatapan wanita itu. Rasa hangat merasuk ke jiwanya melalui genggaman tangan Raina. Seolah waktu berhenti untuk sejenak.


Setelah tiga jam menunggu, akhirnya lampu ruang operasi dimatikan. Adry dan Raina langsung berdiri.


Seorang dokter lalu keluar dari ruang operasi. Raina dan Adry berjalan mendekat.


"Apakah ada orang tua dari anak ini?" tanya Dokter itu.


"Kami orang tuanya Dok!" jawab Adry. Dokter itu mengulurkan tangannya.


"Selamat Tuan dan Nyonya, operasi telah berjalan lancar dan sukses tanpa terkendala. Kita hanya perlu menunggu reaksi dari tubuh anak Anda, apakah dia bisa menerima ginjal baru yang ada di tubuhnya ini."

__ADS_1


"Operasi telah berhasil," kata Adry memberitahu Raina dengan bahasa mereka sendiri. Raina bersorak gembira. Dia lalu memeluk tubuh Adry. Adry ikut memeluknya erat. Terdengar Isak tangis Raina.


"Hei, kenapa kau menangis," kata Adry merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Raina. Raina menggelengkan kepalanya lalu memeluk Adry lagi.


"Jangan menangis lagi, sekarang ada aku semua akan baik-baik saja." Adry mengusap kepala Raina penuh kasih sayang.


"Sampai kapan?" Batin Raina.


Sedangkan Kaira serta Jonathan menyaksikan kemesraan mereka.


"Kau lihat Jo, mereka itu saling mencintai," ujar Kaira. Jonathan hanya terdiam.


"Sepertinya akan sulit memisahkan mereka nantinya," ujar Kaira.


"Aku akan menunggu hingga waktunya tiba dan tidak akan berhenti berharap untuk itu," kata Jonathan. Kaira dan Jonatan lalu mendekat ke arah Raina. Raina melepaskan pelukannya dari tubuh Adry.


"Raina, Tuan Quandt selamat, akhirnya operasi ini telah berjalan dengan lancar dan sukses."


"Ya." Jawab Raina tersenyum cerah.


"Sebaiknya kami pergi terlebih dahulu, aku ada urusan lain yang harus kuselesaikan."


"Kau sudah tidak menginap lagi di rumah sakit?"


"Tidak, kemarin aku telah keluar dari rumah sakit."


"Jangan lupa kalian harus di acara pernikahanku lima hari lagi," kata Kaira pergi dari tempat itu bersama dengan Jonathan.


Malam harinya mereka sudah berada di apartemen setelah memastikan keadaan Leon baik-baik saja. Raina terlihat lelah jadi mereka makan di luar tadi. Setelah sampai di rumah Raina langsung pergi ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melakukan apapun jadi dia hanya memakai dalaman saja dan langsung masuk ke dalam selimut di atas tempat tidur miliknya lalu tertidur lelap.


Adry sendiri menunggu Raina datang ke dalam kamar namun tidak kunjung hadir. Dia lalu mencarinya ke bawah tidak ada dan kembali naik ke atas mengetuk pintu kamar Raina namun tidak terdengar jawaban. Dia mulai membukanya dan melihat Raina sedang tidur pulas di atas tempat tidur.


Adry tersenyum tipis lalu menutup pintu itu kembali. Dia pergi ke kamarnya dan mulai berbaring di atas tempat tidur.


Setelah, satu jam mencoba untuk menutup mata Adry mulai merasa ada yang aneh. Dia tidak bisa tidur tanpa ada Raina di sisinya. Adry lalu pergi ke kamar Raina ikut berbaring bersama Raina dan masuk dalam selimutnya.


Tangannya memeluk tubuh Raina yang bergelung di tempat tidur. Dia tersenyum licik mengetahui Raina tidak mengenakan baju hanya dalaman saja.

__ADS_1


Bersama Raina, libido di tubuhnya langsung naik seketika. Bukit gairah miliknya mulai mengeras. Dia mencium tengkuk wanita itu dalam merasakan aroma bunga-bungaan yang melekat di tubuh wanita itu. Tangannya mengusap kulit perut lembut milik Raina lalu turun ke bawah dengan nakal membuat wanita itu mengerang dan membuka matanya.


"Adry," ucapnya dengan nafas terengah-engah.


"Aku menginginkanmu," pinta Adry. Raina membalikkan tubuhnya. Dengan setengah mata terbuka Raina tersenyum dan mengecup bibir Adry.


Adry tidak menyiakan kesempatan itu, dia memegang tengkuk Raina dan memperdalam ciuman mereka.


Percintaan mereka selalu panas, Adry selalu menggempur Raina dan selalu merasa tidak puas. Membuat wanita itu yang ingin tidur karena lelah menjadi bertambah lelah tapi kenikmatan itu tidak bisa dia cegah. Dia menikmati apa yang Adry kerjakan dan coba untuk mengimbanginya.


Hingga erangan keras Adry mengakhiri permainan itu dan miliknya telah basah oleh cairan putih kental.


Tubuh Adry berada di atas tubuhnya berbaring lemas.


"Raina, kau sangat cepat sekali belajar," kata Adry seraya mengecup dahi Raina.


"Apakah itu buruk," ucap Raina dengan nada menggoda. Adry menyentil hidung wanita itu gemas. Dia lalu turun ke samping Raina dan memeluk tubuh wanita itu erat. Seolah dia takut kehilangannya.


"Aku melihat mantanmu itu masih mencintaimu?" kata Adry tiba-tiba.


"Kau menyadarinya?"


"Apakah kau tahu itu?" Adry balik bertanya pada Raina.


"Ya, dia bilang akan menungguku bercerai denganmu," ujar Raina santai ingin tahu reaksi Adry.


Terdengar suara gigi Adry yang mengerat. Pelukannya pun semakin bertambah erat.


"Apa kau menerimanya?" tanya Adry yang mulai merasa sakit di hatinya.


"Jika Leon menyukainya," jawab Raina diplomatis. Adry mendesah keras. Dia melepaskan pelukannya dari Raina dan bangkit memakai kembali pakaiannya.


Raina bangkit dan duduk, lalu menatapnya saja.


"Apa kau marah?" tanya Raina.


"Itu hakmu," jawab Adry.

__ADS_1


"Aku tidak bertanya apakah aku boleh melakukan itu atau tidak. Aku bertanya apakah kau marah atau tidak menyukainya?''


__ADS_2