Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Gubuk Reyot


__ADS_3

Adry datang untuk menjemput Leon ke sekolah. Rencananya hari ini, Janeta akan datang ke rumah. Jadi dia ingin menyiapkan semuanya seperti membeli banyak makanan agar mereka bisa makan bersama di rumah. Raina juga tidak terlalu repot nantinya menyiapkan hidangan.


Banyak harapan yang tercipta pada diri Adry. Harapan sederhana, semua akan membaik dan Raina bisa diterima di keluarganya dengan baik.


Dia memarkirkan mobil di pinggir jalan lalu keluar dan berjalan ke gerbang untuk menunggu Leon keluar dari sekolahan. Beberapa anak terlihat keluar dan membeli jajanan di pinggir jalan. Beberapa ibu juga terlihat menjemput putra mereka.


Mereka melihat ke arah Adry yang berdiri di samping gerbang dekat dengan satpam yang berjaga. Pria itu berdiri dengan memutar kunci mobil mewah miliknya. Ada beberapa ibu yang menyapa sebagian lainnya memberanikan diri meminta foto bersamanya. Lalu mempostingnya dengan judul 'Hot Daddy'.


"Ayah," panggil Leon dari kejauhan. Dia nampak berlari sembari tersenyum lebar. Sebuah kebanggaan bagi seorang anak bila orang ayahnya menjemput ke sekolahan. Dia sudah tidak merasa rendah diri lagi bahkan bisa dengan lantang mengatakan bahwa Adry adalah ayahnya selama ini yang dia tunggu dan sudah pulang dari luar negeri. Semua orang percaya dengan kata-katanya.


"Ayah menjemput kenapa bukan Ibu?" tanya Leon.


"Apakah kau tidak suka?"


"Senang, hanya tidak biasanya."


"Leon, Ayahnya ya?" sapa seorang ibu mendekat ke arahnya.


"Eh Mama Nadif," balas Leon.


"Ih, papanya ganteng banget, mirip dengan Leon," ungkap wanita itu menyentuh lengan Adry. Adry tersenyum canggung.


"Papa Leon boleh g minta foto bareng, abis kayak aktor bule gitu," ujar mama Nadif. Adry menganggukkan kepalanya. Leon sendiri menekuk wajahnya melihat ibu-ibu berebut foto ayahnya.


"Ayah mau pulang," kata Leon setelah ada dua ibu-ibu lagi meminta foto dengan Adry. Dia menyeret ayahnya pergi ke mobil. Dia langsung masuk ke dalam mobil. Adry hendak masuk mobil ketika melihat ban mobilnya kempes. Padahal tadi sewaktu dia tinggal baik-baik saja.


"Ayo, Yah," panggil Leon.


"Bannya kempis," ujar Adry. Mana dia tidak bisa mengganti ban mobil. Adry terlihat melihat ke sekitar.


"Pak bengkel mobil paling dekat dimana ya?" tanya Adry pada seorang pedagang asongan.


"Oh, satu kilometer lagi, Pak," jawab pedagang itu menunjuk ke arah yang dituju.


"Ya, sudah terimakasih." Adry mengusap dahinya yang mulai berkeringat karena berada di bawah terik sinar matahari.


"Bagaimana Yah? Apa kita dorong saja hingga ke bengkel?" tanya Leon. Adry tersenyum lalu mengusap kepala Leon.


"Tidak usah biar Ayah telephon Om Roy," ujar Adry.

__ADS_1


"Roy, kau cepat ke sekolah Leon, mobilku mogok di depan sekolah. Dua ban mobil mobilku gembos secara tiba-tiba. Panggil sekalian tukang bengkelnya ke tempat ini." perintah Adry.


Adry lalu menurunkan teleponnya. Meletakkan dua tangan di pinggang sembari menendang kesal ban.


Sebuah mobil yang dia kenal menghampiri dirinya. Mobil itu berhenti tepat di depan Adry. Pintu mobil mulai dibuka. Seorang wanita keluar dari mobil.


"Hai, Sayang," sapa Nita mendekat ke arah Adry dan mencium pipinya.


"Hai, Leon, apa kabarmu?" Nita mencium pipi Leon. Anak itu tersenyum canggung.


"Baik."


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Adry terlihat masih cuek dengan Nita.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdiri di terik matahari?"


"Ban mobil Ayah tiba-tiba gembos," jawab Leon. Mata Nita lalu melihat ke arah ban mobil.


"Tapi karena itu kita bisa bertemu lagi?" Leon mengangkat dua bahunya.


"Aku akan mengantarkan kalian ke tempat tujuan," ujar Nita.


"Roy mungkin lama, ayolah Adry jangan bersikap seperti itu. Kita akan ke rumah Raina dan perbaiki lagi semuanya serta meminta maaf padanya." Adry menatap ke arah Nita dengan tidak percaya.


"Sungguh aku ingin menemuinya dan meminta maaf, aku tidak berbohong. Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi."


"Leon kau mau memaafkan Mom mu kan?" Leon melihat ke arah ayahnya. Dia lalu menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, katakan pada ayah agar kita menemui ibumu di rumahnya."


"Ayah...." Adry melihat ke arah Leon lalu berganti pada Nita. Akhirnya, setelah dibujuk oleh Nita mereka naik ke mobilnya.Duduk satu bangku di belakang.


"Bagaimana kabar ibumu Leon?" tanya Nita.


"Baik," jawab Leon.


Tiba-tiba suara handphone Nita berbunyi. "Ini temanku yang berbicara," ujarnya.


"Hallo, ya, aku sedang dalam perjalanan."

__ADS_1


"zzz... zzz...."


"Aku bersama dengan anak dan suamiku, kau tidak percaya," kata Nita. "Temanku... katanya tidak percaya jika aku sedang dalam perjalanan. Dia kira aku masih di kamar." Dia mengatakan hal itu pada Adry.


"Ya Tuhan, kau masih tidak percaya juga. Biar aku perlihatkan padamu," ujarnya. Nita lalu membuat sambungan video yang memperlihatkan Adry dan Leon duduk bersamanya."


"Kami akan pulang ke rumah. Doakan saja semoga semuanya baik-baik saja dan lancar. Bye, selamat tinggal," ujar Nita. Dia lalu tersenyum pada Adry dan Leon. Bernafas lega dan meletakkan handphonenya di dalam tas.


***


Janeta berdiri di sebuah rumah sederhana. Sangat kecil bahkan sepertinya rumah itu hanya seukuran kamarnya. Dia lalu masuk ke dalam halaman rumah itu. Beberapa orang yang sedang duduk di depan rumah itu melihat ke arahnya mungkin heran melihat ada warga asing masuk ke dalam rumah itu. Atau mungkin sudah mengira jika dia anggota keluarga Adry.


Janeta mulai mengetuk pintu rumah dan menunggu seseorang membuka pintu. Tidak lama kemudian, Raina mulai terlihat membuka pintu rumah itu.


Wajahnya nampak pucat karena terkejut. Dia membuka pintu rumah dengan lebar.


"I-ibu?" sapa Raina gugup dan terbata.


"Selamat siang, Raina," balas Janeta melepas kacamata hitamnya.


"Siang, bagaimana bisa Ibu berada di sini?" tanya Raina seraya merapikan penampilannya.


"Tentu saja Adry yang memberitahuku alamat kalian."


"Adry? Dia tidak mengatakan apa-apa padaku?" ujar Raina bingung.


"Apa kau tidak mempersilahkan aku masuk?" ujar Janeta.


"Maaf, Ibu aku begitu terkejut melihatmu sehingga lupa mengajak Ibu masuk ke dalam rumah." Raina lalu memberi jalan masuk pada mertuanya. Entah mengapa hatinya sudah mulai merasa tidak enak seperti akan ada hal buruk yang terjadi.


"Aku tidak tahu mengapa Adry mau tinggal di rumah seperti ini. Rumah anjingku bahkan lebih bagus dari pada rumah ini."


Raina menelan Salivanya dengan sulit. Dia mencoba menahan kemarahannya.


"Apa kau tidak bisa membuat hidup putraku lebih bahagia dengan menurutinya tinggal di tempat layak dan mendapatkan apa yang seharusnya dia miliki?"


"Bukan aku yang memaksa dia untuk tunggal disini. Dia sendiri yang memilih untuk tinggal bersamaku di gubuk reyot ini dari pada dengan Nita di istananya." Raina mulai merasa tersinggung dengan ucapan Janeta.


"Oh, ya, kau salah! Adry tidak ingin tinggal di sini, dia hanya ingin mengambil Leon darimu dan membawanya pergi dari sini. Tempat Leon itu di istana kami bukan di kandang reyot ini. Dia adalah seorang Quandt bukan orang biasa."

__ADS_1


__ADS_2