Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Panik Dan Gugup


__ADS_3

Roy terbangun di tengah malam dan mengerang kesakitan. Karina yang sedang tertidur lalu terbangun dan mendekati Roy. Dia melihat dahi Roy penuh keringat sebutir biji jagung. Dia mulai menyentuh dahi pria itu dan melonjak terkejut. Panas.


"Haus, aku haus," ucap Roy masih dengan menutup matanya. Karina lalu mengambil air minum dan menyuapkannya dengan sendok secara telaten.


Setalah itu, dia memencet bel agar perawat datang.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Karina cemas mengeringkan dahi Roy dengan handuk kecil.


Lima belas menit kemudian.


"Kami sudah memberinya obat penurun panas.


"Tidak perlu cemas, ini sering dialami pasien yang telah melakukan operasi besar. Kita lihat jika sampai 1x24 jam panasnya tidak turun kita akan ambil lagi tindakan yang lebih efektif."


"Baik, Dokter," ucap Karina.


"Nanti ada perawat yang akan memeriksa pasien setiap satu jam sekali. Jika pasien mengalami kejang segera hubungi kami."


"Baik, Dok," ucap Karina. Dokter dan perawat setelahnya keluar dari ruangan itu. Karina memilih duduk di sebelah Roy. Dia memegang tangan Roy dan memandanginya, lama-lama dia terlelap.


"Tidak Nita, jangan tinggalkan aku sendiri, aku sangat mencintaimu... ." Roy mengigau dalam tidurnya, membuat Karina terbangun.


"Nita...," ulang lirih Karina sakit. Itukah sebabnya Roy sangat dingin dengan semua wanita karena dalam hatinya masih menyimpan satu nama yang sangat berarti dalam hidupnya.


Jika Roy mencintainya mengapa mereka berpisah? Dia akan mencari tahu semuanya pada Raina besok. Dia tidak mau menjadi wanita yang mengemis cinta pada pria yang mencintai wanita lain. Tidak akan pernah.


Sinar matahari masuk melalui celah jendela. Suara burung Pipit mulai saling bersautan di halaman samping kamar Roy. Pria itu mulai membuka matanya dan menggerakkan tangan. Namun, tangannya digenggam oleh Karina. Roy melihat ke samping dan menatapnya.


Ada perawat di sana yang sedang memeriksa keadaan Roy. Dia hendak membuka jendela kamar namun Roy melarangnya takut jika itu akan membuat Karina terbangun.


Perawat itu mulai memeriksa tensi darah Roy.


"Sedari semalam istri Bapak duduk di sini, menjaga bapak. Dia terlihat sangat cemas dan khawatir."


Roy ingin mengatakan jika Karina bukan istrinya namun dia telan kembali. Tersenyum tipis memandang wanita itu.


"Adakah yang Bapak keluhkan dan butuhkan? Biar nanti saya beritahu pada dokter?"

__ADS_1


Roy menggelengkan kepala. Perawat itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Ketika pintu ditutup Karina mulai terbangun. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Roy memastikan keadaan pria itu baik-baik saja.


Sedangkan Roy pura-pura memejamkan mata, melihat apa yang akan Karina lakukan. Karina lalu memeriksa dahi Roy. Mengambil handuk dan mengelap keringat di dahinya. Lalu memandangi Roy dengan lekat dan dekat.


Roy lalu membuka matanya membuat Karina terperanjat. Tubuhnya langsung mundur satu langkah ke belakang tetapi mengenai kursi dan hampir jatuh. Tangan Roy lalu memegang dan menarik tubuh Karina ke arahnya. Karina hendak jatuh di dada Roy namun tangannya menahan agar tidak mengenai bekas operasi pria itu.


"Ceroboh!" ucap Roy. Mata mereka saling beradu. Karina lalu mengangkat tubuhnya.


"Kau sudah sadar," Karina menarik rambutnya ke belakang telinga. Pipinya terasa panas mungkin memerah karena malu. Dadanya berdegub dengan kencang.


"Ya, sedari tadi," jawab Roy santai. Dia mengerang kecil sewaktu menggerakkan tubuh.


"Kau mau apa? Biar aku bantu.'' tanya Karina cemas.


"Aku hanya ingin duduk tetapi sepertinya belum bisa," kata Roy.


"Aku naikkan saja sebagian tempat tidurnya ya?"


"Kau tambah lagi saja bantal agar tubuhku sedikit naik."


"Ada hal lain?"


"Panggil perawat pria. Aku ingin membersihkan wajahku yang terasa kotor."


"Biar aku saja," kata Karina. Roy membuka mulutnya hendak menolak.


"Hanya tubuh bagian atas 'kan?'' Roy mengangguk. "Aku bisa melakukannya."


Karina lalu mulai mengambil baskom dan handuk untuk membersihkan Roy. Karina mulai mengusap wajah Roy dengan handuk basah yang hangat.


Lalu bagian tubuh atas pria itu membuat Roy canggung. Dia dulu yang merawat Nita tetapi kini dia tahu bagaimana rasanya dirawat oleh seseorang dan diperhatikan. Hatinya mulai menghangat.


Setelah itu, ada petugas membawa makanan untuk Roy. Lagi-lagi Karina menyuapinya dengan sabar juga telaten. Setelah semuanya selesai dia pamit untuk membersihkan tubuhnya sendiri. Sedangkan Roy, memandang ke arah luar jendela menatap sepasang burung gereja yang bertengger di depan sana. Dua-duanya seperti menunjukkan perhatian dan bercumbu. Tidak peduli dengan makhluk sekitar.


Lama-kelamaan Roy mulai terlelap lagi.


Roy terbangun ketika mendengar suara berisik dari sebelahnya. Dia mulai membuka mata dan melihat Adry dengan Carl sedang berdiri di sebelahnya dan berbicara masalah apa?

__ADS_1


"Kau sudah bangun?" tanya Carl. Roy tersenyum.


"Sepertinya perawat kita bekerja dengan baik hari ini. Terbukti kau bisa tersenyum cerah hari ini." Adry meledek Roy.


"Aku hampir lupa, siapa tadi namanya?" tanya Carl pada Adry.


"Karina, dia dulunya adalah seorang pelancong yang datang ke pulau impian kami. Roy dan dia punya hubungan dekat tapi sedekat apa aku tidak tahu," sindir Adry. Roy melengos. Netranya disapukan ke seluruh ruangan ini untuk mencari keberadaan Karina yang tidak terlihat.


"Dia kusuruh untuk kembali," kata Adry. Dia bisa menangkap keterkejutan dari bola mata Roy yang membesar. Lalu kembali nampak tidak bersemangat.


"Dia tidak kembali ke Ibunya. Dia kembali ke hotel untuk istirahat. Sementara itu, kau bersama kami. Ayah dan kakakmu."


"Tapi sepertinya dia tidak puas ditemani kita," lanjut Carl.


"Kau benar, Yah."


"Sepertinya hubungan kalian telah jauh," tebak Carl.


"Tidak sejauh itu, kami belum pernah melakukan apa-apa hanya sebuah kecupan singkat."


''Hanya sebuah kecupan untuk wanita berpengalaman seperti dirinya? Kenapa aku tidak percaya ya?"


"Terserah saja, kau mau percaya atau tidak. Jujur kami tidak punya hubungan apapun."


"Berarti dia yang mencintaimu karena rela menunggumu setiap saat. Tadi saja dia tidak mau beranjak dari kursi ini tetapi kami memaksanya untuk ke hotel.


"Ish, Kak, kau mengganggu saja jika hanya ingin meledekku. Aku butuh ketenangan agar kondisiku stabil dan bisa cepat pulih."


"Adry jangan kau ganggu adikmu ini. Di benar jika wanita itu tidak berarti karena mereka tidak punya hubungan apapun. Kalau begitu nanti aku akan carikan perawat pengganti yang cantik untuk putraku. Si Kat atau siapapun itu bisa kau suruh pulang kembali ke rumahnya."


"Ayah... kenapa kau malah jadi ikut-ikutan."


"Lho katamu kalian tidak punya hubungan apapun jadi untuk apa wanita itu di sini lebih baik dia kembali ke Amerika untuk mengerjakan tugasnya yang terbengkalai sebagai salah satu karyawan sebuah agensi artis besar Hollywood. Di sana pasti akan banyak pria yang mengejarnya."


"Ayah, kau menyebalkan!"


"Dia itu adalah karyawan dari perusahaan yang ada sahamku di sana. Tentu saja aku tidak ingin salah satu karyawan bekerja tidak benar karena akan merugikan pihak agensi."

__ADS_1


__ADS_2