Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Berbagi Pengalaman


__ADS_3

Karina sendiri sedang berada di halaman belakang hotel bersama dengan Raina untuk menemani Leon dan Rere yang sedang berenang.


Dua anak itu berenang di kolam khusus anak. Leon yang sudah pandai berenang memegangi adiknya yang memakai pelampung dengan bentuk bebek.


Mereka tertawa dan bercanda. Raina yang melihat pun tampak ikut senang.


"Kak, ternyata kehidupan kalian tidak sebahagia yang terlihat," celetuk Karina membuat tawa di wajah Raina menghilang karena terkejut setelahnya dia tersenyum kaku.


"Kau tahu, tidak ada orang yang benar-benar bahagia. Mereka pasti punya masalah sendiri-sendiri. Namun, ketika kau bersama orang yang tepat untuk berbagi masalah denganmu maka kau akan merasa semua itu bukan masalah besar yang tidak bisa terselesaikan. Kau bisa menikmati hidup dengan canda dan tawa."


"Kakak beruntung karena mempunyai pria yang mencintai Kakak sepenuh jiwa," ucap Karina, menunduk. Dia teringat kata-kata Roy semalam tentang seorang wanita yang pria itu cintai.


"Cinta itu harus diuji dan dibuktikan." Karina menatap Raina lekat mendengarkan apa yang akan dia katakan. "Dulu aku juga punya masalah dengan yang namanya cinta, hanya saja setelah melewati beberapa macam masalah dan rintangan akhirnya kami tahu bahwa kami tercipta untuk satu sama lainnya."


"Bagaimana kau tahu jika dia adalah jodohmu," tanya Karina.


"Awalnya aku takut untuk hidup bersamanya, takut untuk tersakiti. Namun, di saat kami berpisah seperti ada yang hilang. Kami saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa bernafas tanpa ada yang lain. Di saat itu aku yakin dia adalah jodohku."


"Kalian juga pernah berpisah?"


"Jalan hidupku tidak semulus yang kau lihat, Sayang. Ada banyak lika-liku yang harus dihadapi, penuh pengorbanan dan air mata juga darah. Aku bukannya mau bercerita tentang kesedihan atau penderitaan tetapi aku hanya berbagi pengalaman saja."


"Lalu bagaimana kau mengatasi semua masalah itu dan menjalaninya."


"Abaikan apa pun yang membuatmu takut dan sedih, yang menyurutkanmu ke belakang menghadapi sakit dan maut. Tetap maju ke depan. Yakinlah kau bisa menjalaninya."


Raina menatap jauh ke depan. Mengingat semua yang telah terjadi. Senyumnya hilang seketika berganti dengan tatapan sendu penuh kesedihan.


"Semua yang terjadi tempo hari mungkin puncak dari semua masalahku. Namun, kini setelah semua yang terjadi, aku bisa berkumpul lagi dengan putraku yang telah terpisah selama dua tahun. Aku harap semuanya akan mulai membaik setelahnya."


Karina tahu bahwa masalah Raina sangat berat jika tidak, tidak ada korban di dalamnya.


"Aku mungkin tidak bisa sabar seperti dirimu. Aku bisa gila jika menjadi dirimu," ujar Karina yang tahu sedikit tentang masalah Raina tetapi tidak begitu tahu banyak sebenarnya apa yang terjadi.


"Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Jika kau melakukannya, kau menghina diri sendiri."


Kedua alis Karina diangkat ke atas. Tangan Raina merangkul bahu Karina.

__ADS_1


"Setiap orang diuji sesuai kemampuannya. Percayalah kau pasti bisa melakukan itu."


Karina menganggukkan kepala.


"Kakak kalau boleh tahu siapa itu Nita? Apakah dia istri pertama suamimu?"


"Ya, istri pertama Adry memang bernama Nita. Ada apa?" tanya Raina.


"Tidak ada apa-apa...." Karina menatap lurus ke depan.


Raina menatap Karina, menyatukan dua alisnya sehingga terlihat tiga garis di tengahnya dengan jelas.


"Bu, Rere sudah kedinginan, tapi tidak mau naik ke atas."


"Rere, ayo naik. Kita ke kamar lalu cari makan," ucap Raina masuk ke kolam dan mengangkat tubuh basah Rere dalam pelukannya.


"Aku mau Pop mie," pinta Rere.


"Oh... siapa yang mengajarimu?"


"Kaka...," ucap Rere cepat. Raina menatap ke arah Leon yang menggaruk kepala belakang. Rere belum tahu dengan makanan sejenis itu. Jika dia meminta pasti ada yang mengajarinya.


"Ibu, itu enak dimakan jika habis berenang. Aku sudah lama sekali tidak memakannya. Boleh kan?" pinta Leon memeluk lengan ibunya.


"Itu tidak sehat," ujar Raina.


"Sesekali saja, Bu." Wajah Leon memelas membuat Raina tidak tega, tidak mengabulkan permintaan Leon.


"Baiklah hanya untuk kali ini," ucap Raina.


"Lain kali, sekali lagi," bisik Leon pada Rere.


"Leon!"


"Tidak Bu, hanya sekali saja," ucapnya. "Untuk hari ini," gumam Leon lirih yang mendapat lirikan tajam ibunya.


Sore harinya, Karina pergi ke rumah sakit untuk menjaga Roy. Dia sempat bertemu dengan Ayah Roy, Tuan Carl Quandt. Pria tua yang masih menarik dan berkharisma diusianya yang sudah lanjut.

__ADS_1


"Jaga putraku baik-baik ya," ucap Carl menepuk bahu Karina.


"Dia itu sangat rewel ketika kau tidak ada, jadi yang sabar," ledek Adry menahan tawa. Seharian Roy hanya dikerjai olehnya dan sang ayah membuat pria dingin itu uring-uringan tidak karuan.


"Kak, awas jika aku sudah sehat lagi."


"Kalau begitu aku menunggu kau di rumah," ejek Adry menutup pintu.


Karina berdiri canggung di depan pintu. Dia tersenyum kaku pada Roy.


"Aku kira kau sudah kembali ke rumahmu," ucap Roy dingin seperti biasa.


"Jika itu yang kau inginkan, aku akan kembali besok," jawab Karina meletakkan tasnya ke kursi. Wanita itu lantas menghela nafas.


"Bukan begitu, hanya saja kau memang tidak punya kewajiban untuk menjagaku di sini."


"Entahlah mengapa aku melakukannya mungkin hanya karena rasa terima kasih atas apa yang kau lakukan sebelumnya." Snack dan roti yang berceceran di meja. Karina lalu membereskan semuanya dan Roy hanya bisa menatap tanpa bisa membantu. Untuk duduk saja dia sulit dan merasa sakit.


Setelah membersihkan ruangan itu, Karina mendekati Roy. Dia meletakkan makanan dan minuman di atas nakas.


"Kak Raina menyuruhku membawakan makanan kesukaanmu, entah apa itu aku tidak tahu. Aku hanya membawanya. Aku juga membawa jus wortel dicampur dengan jeruk. Rasanya enak kok, ini baik untuk kesehatanmu," ucap Karina tanpa menatap Roy.


Roy merasa ada yang salah dengan wanita ini. Tutur katanya terdengar penuh kemarahan yang terpendam.


"Aww," rintih Roy. Membuat Karina menoleh. Wajah Roy meringis lebar.


"Kau kenapa?" tanyanya cemas.


"Punggungku gatal tetapi aku tidak bisa menggaruknya. Aku juga tidak bisa membersihkan tubuhku." Roy melirik pada Karina. Karina mengangkat wajah sehingga manik mata mereka beradu. Karina dengan cepat memutuskannya.


"Aku akan memanggil perawat untuk membersihkan tubuhmu," ucap Karina membalikkan tubuh. Menuju ke arah pintu kamar.


"Tidak usah saja. Kasihan mereka sudah capai mengurus seluruh pasien di rumah sakit ini," kilah Roy.


Karina kembali ke posisinya semula. Dia mendekat ke sisi tempat tidur Roy.


"Apa kau ingin, aku yang melakukannya?" tanya Karina mengangkat satu alisnya ke atas.

__ADS_1


"Tidak, tapi jika kau mau membantuku tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Apalagi menyuruh."


__ADS_2