
Raina membawa kopi itu ke kamar setelah menyerahkan segelas susu pada Leon. Anak itu tadi masih tertidur jadi dia meletakkannya di atas nakas.
Aroma kopi yang harum seketika masuk ke dalam ruang kamar Raina dan Adry. Pria itu masih tertidur sehingga seperti biasa wanita itu mencoba mendekatkan asap kopi ke hidung Adry.
"Aku merindukan hal ini. Berpisah denganmu selama tujuh hari membuatku menggila, pagiku menjadi buruk karena tidak mendapat kopi panas darimu," ujar Adry membuka matanya menatap Raina. Dia lalu duduk dan mengambil cangkir kopi, menghirup aromanya terlebih dahulu baru menyesapnya.
"Sedap," kata Adry lalu memeluk pinggang langsing Raina dan mengecup pipi wanita itu.
"Apakah di dalam sini sudah ada adik Leon?" tanya Adry. Sebenarnya Raina sudah curiga namun dia teringat ucapan Roy agar jangan mengatakan hal yang membuat Adry tahu jika dia sedang terlambat bulan. Roy mengatakan sebelum Adry yakin bahwa dia memilih Raina maka jangan jujur terlebih dahulu jika perlu gugurkan.
Raina jelas menolak tetapi perkiraan Roy memang benar, jika Adry akan tetap ingin bersama mereka berdua. Raina tersenyum.
"Belum," kata wanita itu.
"Bukankah kau sudah terlambat bulan?'' tanya Adry.
"Seminggu kemarin kau tidak datang ke rumah jadi tidak tahu jika aku sedang libur."
"Hmmm jadi ada untungnya aku tidak datang. Jika tidak aku bisa tersiksa ketika tahu kau meliburkan kegiatan panas kita selama seminggu. Adik hitam manis ini kasihan harus kedinginan karena bermain air dan sabun setiap malam."
Raina tersenyum kecut. "Maafkan aku Adry, bukan karena aku tidak percaya hanya saja aku harus waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
"Kau lama sekali di bawah," ujar Adry. Raina seperti biasa membereskan semua kamar.
"Nanti akan ada pelayan yang melakukannya."
"Jika kita bisa, untuk apa menyuruh orang lain," ujar Raina. Adry bangkit dan pergi ke kamar mandi. Raina lalu berdiri dan memegang dadanya. Dia tidak ingin Adry sampai tahu masalahnya di hari pertama dia tinggal di rumah ini. Seperti biasa Raina membantu Adry bersiap, dia bahkan memakaikan pria itu kaos kakinya.
"Kau itu Nyonya di rumah ini bukan pelayanku," ujar Adry.
"Wanita adalah segalanya di rumah, menjadi ratunya, menjadi akuntannya dan menjadi pelayan untuk bisa melayani suaminya dengan baik serta menjadi wanita penghibur yang akan membuat malam suaminya panas," jawab Raina asal.
"Wanita penghibur, aku tidak suka istilah itu."
"Memang penghibur untuk suaminya sendiri, walau dia sedang sedih dan terluka dia harus tetap melayani suaminya dengan baik, menghiburnya karena suaminya adalah kehidupannya di dunia dan akhirat. Kalau dia tidak bisa menghibur suaminya dengan baik maka suaminya akan mencari hiburan lainnya."
"Aku beruntung memiliki istri yang sepertimu, Penurut dan selalu tahu apa keinginan suaminya." Adry mencium pucuk kepala istrinya setelah proses memakaikan dasi selesai.
__ADS_1
"I love you," ucap Adry
"Aku sangat mencintaimu bahkan cintaku ini lebih dalam dari yang kau rasakan padaku."
"Aku tidak ingin kau cintai sampai mati," kata Adry membuat Raina terkejut. Adry tersenyum melihat perubahan air muka istrinya.
"Aku tidak ingin kau cintai sampai mati karena aku ingin kau cintai hingga aku hidup."
"Tidak ada kata-kata yang bisa ku persembahkan padamu tetapi aku meyakini satu hal bahwa kata-kata tidak mampu untuk menilai sedalam apa perasaanku padamu."
"Gombal," ucap Raina, Adry berdiri dan Raina mengusap jas suaminya yang memang sudah rapi.
Adry mengecup kening wanita itu. "Tetaplah berada di sisiku selamanya."
Raina menganggukkan kepalanya.
***
Sedangkan Nita sekembalinya dari rumah keluarga Quandt langsung menuju ke sebuah klub malam paling besar di kota itu. Sepanjang masuk ke dalam klub itu, dia di beri tatapan lapar oleh para pria yang melihatnya. Nita sudah terbiasa melihatnya dan dia tidak peduli.
Sebelum sampai ke tujuannya seorang pria menyentuh tangannya.
"Hallo, Nita kita bertemu kembali."
"Oh, Tuan Bram," jawab Nita tersenyum.
"Kau tambah cantik saja setiap harinya. Aku kemarin ke Paris dan melihat kau sedang berada di sana. Tampilan mu di atas panggung terlihat memukau," kata Bram berbisik di telinga Nita. Nita tidak menyukai hal seperti ini hanya saja dia bekerja di dunia hiburan dan menemui pria hidung belang seperti Bram adalah hal biasa. Untung saja suaminya punya nama dalam bidang bisnis sehingga tidak banyak orang atau pria yang berani kurang ajar padanya.
"Kau sendiri? Mana suamimu si milliader terkaya di negeri ini?" tanya Bram memegang lengannya.
Nita tersenyum sinis. Dia menyingkirkan tangan Bram dari lengannya.
"Dia akan datang sebentar lagi, sebaiknya kau kondisikan tanganmu Tuan Bram. Ini masih sore dan kau sudah mulai mabuk. Meri tidak akan suka melihatmu pulang dalam kondisi seperti ini!" Nita lalu berlalu meninggalkan Bram.
Wajah pria itu memerah tetapi Nita tidak memperdulikannya. Dasar pria tidak tahu diri sudah punya istri masih suka bermain dengan wanita lain.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah sejam lamanya menunggu dirimu," ujar Angel.
__ADS_1
"Mana Roy?" tanya Nita.
"Dia belum datang, katanya sedang dalam perjalanan."
"Apa yang terjadi?"
"Berikan aku minumannya terlebih dahulu, sesuatu yang kuat. Aku ingin melupakan semuanya."
"Raina masuk ke dalam keluarga Quandt dan mereka menerimanya. Hatiku hancur namun aku berusaha untuk tetap tegar."
"Jangan menyerah kau tidak bisa menyerahkan tahta dan mahkotamu pada wanita itu. Anggap saja dia selir pangeranmu dan pasti akan dibuang jika bosan."
"Selir? Kau bercanda? Dia punya anak Adry, aku yang akan tersingkir nanti."
Seorang bartender menyerahkan gelas penuh berisi minuman keras dan Nita langsung meminumnya sampai habis.
"Sebelum tersingkir kau harus menyingkirkannya dengan cara sehalus mungkin. Tetap jadilah Nita yang sempurna di mata Adry jangan perlihatkan emosimu padanya. Jangan seperti kemarin. Kau harus bersikap tenang dan menjadi wanita yang menerima nasibnya di mata Adry. Terkadang hati pria akan melemah jika melihat wanita yang tunduk padanya."
"Aku akan melakukannya."
"Bagus." Mereka lalu berbincang tentang hal lainnya. Satu jam kemudian Nita melihat jam tangannya.
"Dimana Roy, kenapa belum sampai juga," katanya setengah mabuk.
"Itu dia," kata Angel menunjuk ke siluet seorang pria yang melewati pintu masuk. Seorang pria terlihat memeluk Angela sedari tadi dengan posesif dan menciumnya.
"Sial! Suamiku sedang bersama pria lain dan kalian melakukan itu di depanku." Roy memegang bahu Nita.
"CK, kau mabuk lagi?" tanya Roy.
"Aku hanya minum sedikit."
"Itu bohong dia sudah menghabiskan satu botol dan itu botol kedua," ujar Angel.
"Kau tidak pernah berubah!" ujar Roy kesal menyingkirkan botol itu dari hadapan Nita.
"Kau yang tidak berubah selalu mengaturku dan kenapa kau malah mendukung wanita murahan itu masuk ke dalam rumah suamiku!" ucap Nita dengan suara tidak jelas dan mendorong tubuh tegap Roy.
__ADS_1