Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Mimpi Buruk


__ADS_3

Perpisahan dengan kedua anak itu membuat rasa aneh dalam hati dan pikirannya. Dia ingin mengetahui tentang kedua anak itu lebih banyak.


Hal yang paling membosankan adalah kembali ke rumahnya. Tidak ada apa-apa di sana. Hidupnya selama ini terasa hambar. Tidak menarik dan tidak berwarna. Dia terkadang lelah dan ingin Tuhan mengambil nyawanya. Namun, dia terbangun setiap paginya dan melakukan rutinitas seperti biasa.


Akan tetapi, malam ini terasa berbeda. Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya tentang anak kembar yang memanggilnya Daddy. Jika biasanya anak-anak itu tidak terlihat jelas wajahnya kini rupa mereka nampak seperti kedua anak kembar yang ditemuinya tadi.


"Daddy kenapa kau tidak mencari kami... kami membutuhkanmu...," seru keduanya terisak. Membuat Roy tersentak dari tidurnya. Dia lalu membuka mata dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Dadanya merasa nyeri dan sakit.


Dia lalu bangkit dan menuangkan air minum dari teko yang terbuat dari kristal ke gelas. Meminumnya.


Lalu duduk di sofa, kembali teringat akan mimpinya. Bayangan kedua anak itu berputar dalam otaknya dan suara tawa mereka masih terdengar jelas. Dia menarik rambutnya ke belakang.


Apakah perasaan ini datang karena rasa kesepiannya? Umurnya sudah empat puluh enam tahun tapi dia masih hidup sendiri tanpa wanita yang menemani. Hanya ada Hyun, assisten pribadi yang selalu bersamanya setiap saat.


Dia tadi lupa menanyakan umur kedua anak itu. Besok dia akan menemui mereka lagi.


Dia melihat handphonenya dan memeriksa apakah ada chat penting. Sebuah chat dari Kakak iparnya masuk.


Besok Leon akan ke Indonesia, dia ingin meneruskan S2 di sana sambil menemanimu bekerja.


Roy hampir lupa jika waktu itu berjalan dengan cepat. Leon kini sudah beranjak dewasa, baru menyelesaikan S1nya di Jerman. Sedangkan, dia masih disini dengan keadaan yang sama, masih memandangi foto almarhum istrinya dan masih sendiri.


Kedatangan Leon itu akan membuat suasana rumah ini berbeda.


Raina. Dia rasanya ingin berbicara dengan kakak iparnya itu. Wanita itu, selalu bisa menenangkannya.


Roy lalu menghubungi Raina dan langsung tersambung.


"Hai, Roy kau sudah membaca pesanku?" tanya Raina.


"Ya. Aku senang akhirnya ada yang menemaniku di sini."

__ADS_1


"Kau tahu dia ingin sekali kembali ke negaranya sedari dulu."


"Ya, aku tahu itu. Jika anak lainnya ingin meneruskan kuliah S2 di negara Eropa atau Amerika, ini malah dia ingin meneruskannya di negeri."


"Aku hanya ingin membebaskan Leon untuk menikmati hidupnya ke depan."


"Aku setuju denganmu."


"Bagaimana kabarmu di sana, Roy," tanya Raina.


"Tidak baik."


"Kenapa?" nada bicara Raina nampak terkejut dan khawatir. "Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?"


"Aku baik-baik saja hanya pikiranku tidak baik untuk saat ini."


"Kenapa ceritakan padaku."


"Mungkin kau memang punya anak Roy."


"Itu tidak mungkin karena wanita itu tidak hamil."


"Sayang sekali tapi kau yakin wanita yang kau ajak ke Dokter itu adalah wanita yang tidur denganmu?"


"Aku yakin wajah mereka sama."


"Okey aku mengerti. Mungkin itu hanya bunga tidur karena dalam lubuk hatimu kau ingin sebuah keluarga."


"Mungkin saja, namun cerita tidak berhenti sampai di sini."


"Tadi aku bertemu dengan dua anak kembar secara tidak sengaja dan mengobrol bersama mereka. Malamnya aku bermimpi kedua anak itu memanggilku Daddy dan menangis memintaku datang." Roy menghela nafasnya.

__ADS_1


"Sampai saat ini aku merasa tidak enak, gelisah dan merasa sakit di dada."


"Aku tidak tahu apa itu Roy, namun firasat itu terkadang benar. Kau ingat dengan apa yang suamiku rasakan ketika bertemu dengan Leon. Dari awal dia punya perasaan khusus pada Leon dan akhirnya kau tahu semua cerita itu. Saranku, jika kau merasa punya ikatan dengan kedua anak itu selidiki semuanya. Hingga kau yakin jika mereka itu anakmu atau bukan."


"Kau benar." Roy terdiam berpikir. "Aku akan mendekati mereka dan mencari asal usul tentang mereka."


"Apakah mereka punya orangtua?"


"Tidak hanya ibunya saja," balas Roy.


"Nah, itu. Coba kau selidiki semuanya. Jika kau perlu bantuan kami akan selalu ada untukmu."


"Terimakasih, Kak. Kau membuat hatiku sedikit tenang."


"Aku akan menjemput Leon di bandara besok."


"Kata Leon tidak usah, dia sudah ada yang v akan menjemputnya."


"Apakah kekasihnya?"


"Dia hanya berkata temannya. Teman itu tidak tahu pria atau wanita."


"Okey, aku mengerti. Urusan anak muda."


"Ya, kau tahu itu. Jika melihat Leon sudah besar, aku jadi merasa tua. Padahal umurku masih muda. Baru empat puluh satu tahun."


"Empat puluh itu sudah matang dan sangat matang."


"Kau menghinaku. Matang itu berarti mendekati busuk. Ya Tuhan aku tidak ingin tua karena suamiku masih terlihat tampan dan gagah. Aku takut bersaing dengan yang muda."


Roy tertawa. Kakaknya dan Kakak ipar memang selalu terlihat mesra selalu bersama-sama kemanapun mereka berada.

__ADS_1


"Nyatanya Kakak sampai saat ini masih mencintaimu dan kau tidak tergantikan oleh yang lainnya. Semoga saja selamanya begitu. Pelakor jaman sekarang tidak tahu malu dan tahu diri. Jadi aku harus berhati-hati."


__ADS_2