
"Kau, bagaimana bisa tidur di sini?" seru Hana bangkit. "Ka-katanya kau akan tidur di sana."
"Mungkin aku tidur sambil jalan lalu berbaring di sini," ucap Roy sembari mengumpulkan nyawa. Tampilannya seperti Yakuza dengan rambut yang tergerai ke depan.
"Bagaimana bisa? Apakah kau sering mengalaminya?"
"Iya, aku biasa tidur di sini jadi bisa saja tanpa sadar, aku pindah dan mencari tempat yang nyaman."
"Kau juga mengigau sambil menangis semalam. Ya, mungkin bisa terjadi."
Roy tersenyum sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat. Hana berkali-kali mudah sekali dia bohongi.
"Aku terkadang memang seperti itu, jadi kau jangan terkejut."
Hana terdiam, dia lalu melihat ke sekeliling kamar. Memegang keningnya, sadar jika cahaya matahari sudah masuk lewat celah-celah kain korden. Dia lalu melihat jam di dinding. Melonjak bangun dan langsung memakai sandal.
"Jam enam lebih, Ayu dan Bagus harus sekolah.
Bisa-bisa dia terlambat karena sekolah mereka jauh dari rumah ini," kata Hana panik.
Roy pun ikut panik dia mengikuti Hana keluar kamar dan membawanya ke kamar anak-anak namun mereka semua tidak ada.
"Kita ke bawah mungkin mereka sedang sarapan," Roy menarik tangan Hana menuruni tangga sambil melihat keadaan sekitar. Sepi.
Mereka lalu masuk ke ruang makan. Di sana ada Carl, Janeta, Leon dan Raina yang sedang menghabiskan sarapan pagi.
Mereka menghentikan kegiatannya dan fokus pada tangan Hana serta Roy yang saling menggenggam. Lalu melempar pandang dan tersenyum.
Roy dan Hana yang mengerti lalu melepaskan genggaman tangan itu. Carl berdehem. Janeta menyerahkan segelas air mineral.
"Di mana anak-anak?"
"Kalian terlambat datang. Mereka baru saja pergi ke sekolah."
"Siapa yang mengantar?"
"Bapaknya anak-anak maksudku, suami tercinta ku Adry."
"Apakah dia tahu jalan?" tanya Roy lagi.
"Dia pernah tinggal di Indonesia, jika kau lupa."
"Sekarang berbeda."
Raina hanya memutar bola matanya malas.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku Kakak?"
__ADS_1
"Sudah berkali-kali tapi kalian nampak sedang tidur nyenyak hingga panggilanku tidak didengar."
"Kami...," Hana tidak tahu harus mengatakan apa sedangkan Roy tidak peduli dengan yang kakak iparnya katakan. Dia pergi mengambil kopinya dan berjalan pergi untuk kembali kamarnya.
"Sebaiknya kalian segera menikah Hana. Aku tidak muncul adik si kembar sebelum kalian menikah."
"A-aku ka-kami tidak melakukan apapun. Dia berjalan sambil tidur lalu tidur di ranjang."
Semua menatap Hana bingung.
"Kami tidur terpisah, dia di sofa. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa ada di ranjang katanya dia suka berjalan sambil tidur ketika malam hari. Lalu kami tidur satu ranjang dan... seperti yang kalian lihat."
Raina menahan tawanya, sedangkan Carl terbatuk-batuk mendengar cerita Hana dengan wajah polosnya.
"Sayang, aku tidak melihatnya," sela Leon cepat sambil mengunyah makanan. Raina menatap tajam putranya.
"Ya, dia memang sering berjalan sambil tidur, mencari tempat yang nyaman," ucap Raina dengan wajah serius.
"Oh, sungguhkah? Itu sangat berbahaya."
"Kau benar." Raina meminum teh nya.
"Tuan dan Nyonya aku akan kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh." Pamit Hana pada orang tua Roy.
"Panggil saja kami Ayah dan Ibu Hana, sama seperti yang lain," ucap Carl.
Hanya tersenyum. "Ayah, Ibu." Hatinya terasa menghangat ketika mengucapkan itu. Sudah lama dia tidak mengatakan kata itu untuk memanggil seseorang.
Hana mengangkat alisnya. Selama beberapa hari mereka bersama Roy selalu sarapan dengannya.
"Kecuali kemarin, dia turun untuk sarapan," Raina menyela.
"Aku juga terkejut. Mungkin karena ada keluarga kecilnya, jadi dia mau sarapan," bela Janeta.
Hana lalu meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Raina tertawa tertahan takut terdengar oleh Hana. "Tidur sambil berjalan, alasan yang bagus."
"Dia itu seperti ayam jantan yang selalu siaga dua puluh empat jam," Janeta juga menutup mulutnya tersenyum. Sedangkan Carl menggelengkan kepalanya.
"Paman memang punya seribu akal licik untuk mengelabui seseorang, termasuk calon istrinya. Sepertinya aku harus belajar padanya."
"Leon!" panggil Janeta dan Raina bersamaan.
Hana sendiri pergi ke kamarnya tetapi tidak menemukan baju miliknya di lemari. Baju milik Ayu pun sudah tidak ada.
Hana kembali ke kamar Roy. Dia membuka pintu dan melihat pria itu sedang memilih dasinya.
"Cepat sekali dia mandi," pikir Hana.
__ADS_1
"Yang biru tua saja itu cocok dengan kemeja biru lautmu," Hana mendekat lalu menarik dasi itu dari tangan Roy.
"Biar aku pakaikan." Roy lalu menunduk membiarkan Hana memakaikan dasi untuknya. Dia menatap mata indah Hana, namun wanita itu enggan melihat ke dalam matanya. Apa memang ketakutan Hana belum hilang?
"Sudah!" ucap Hana merapikan kerah baju Roy. Dia lalu melihat jas di tempat tidur, mengambil lalu membantu Roy memakaikannya.
"Aku dulu sering melakukan ini pada Ayah," ujar Hana.
"Aku dengar ayahmu sudah meninggal."
"Sudah semenjak aku berumur 15 tahun sebelum ulang tahunku dan kembaranku."
"Kau pasti sangat terpukul."
"Sangat, aku bahkan mengurung diri hingga seminggu karena masih merasa jika Ayah masih ada di rumah dan menengokku jika aku tidur."
"Sudah." Hana menyelesaikan kancing terakhir di jas Roy. "Kau akan berangkat kerja?"
"Ya, aku telah ambil cuti beberapa hari, pekerjaanku pasti sudah menumpuk, banyak klien yang ingin bertemu muka denganku."
"Kenapa? Kau masih ingin kutemani?" tanya Roy santai.
"Ish. Tidak. Bolehkah aku kembali ke rumah kontrakanku. Aku ingin mengambil beberapa barang penting."
Roy terdiam nampak berpikir. "Kalau begitu akan ku antar setelah itu kau bisa pulang dengan sopir."
"Memang mau ambil apa saja?"
"Surat-surat penting dan pakaian."
"Pakaian... ." Roy mengernyitkan dahi. "Oh, aku lupa kemarin sewaktu kau pingsan pakaianmu dipindahkan ke kamarku. Itu di walk in closet. Kamar kembar akan siap hari ini, jadi mereka akan tidur di kamar sebelah kita."
"Kau memindahkan semua tanpa mengatakan hal itu padaku. Kita belum menikah dan kau mengajakku tidur satu kamar." Hana menggelengkan kepala.
"Aku hanya khawatir padamu," dalih Roy.
"Alasan apa itu! Kau bisa memantau ku karena kita tinggal satu atap."
"Itu tidak akan efektif, bagaimana jika traumamu muncul di malam hari dan mengganggu anak kita yang sedang tidur."
"Aku bisa tidur sendiri di lantai bawah."
"Kata Dokter Rama, aku harus melaporkan perkembangan mu setiap jam dan hari padanya," kilah Roy membohongi Hana lagi.
"Iyakah?"
"Iya, kau harus percaya padaku, bukankah begitu kata Rama." Roy mencoba meyakinkan Hana dengan kata-katanya.
__ADS_1
"Percaya?!" Hana menaikkan satu alisnya. Dia lalu mencari sesuatu di tembok.
"Dimana foto pernikahanmu?"