
"Oh, ya aku lupa. Di mana foto itu?"
Hana menyipitkan mata, kesal pada Roy yang meledek nya terus.
"Foto itu ku turunkan agar kau tidak cemburu," ujar Roy dengan nada meledek.
"Siapa yang cemburu, itu sama sekali tidak lucu," ujar Hana.
"Sungguh?"
"Benar."
"Kenapa aku menangkapnya berbeda?" Roy mengambil sepatunya dan mulai memakai.
"Kau mau membantuku lagi?" tawar Roy.
"Aku bukan istrimu," balas Hana memalingkan muka.
"Belum... tapi jika ingin belajar jadi istri yang baik aku persilahkan," tempat Roy.
"Aku kemari ingin bertanya tentang baju-bajuku."
"Bukankah sudah kukatakan ada di walk in closet. Di ruangan itu," tunjuk Roy pada satu pintu dalam kamar ini.
"Aku takut pakaian istrimu juga ada di dalam. dan aku salah memakainya. Kau tahu belum semua pakaian yang kau belikan sudah ku kenakan, aku tidak paham mana pakaianku," ungkap Hana dengan mata sendunya.
Roy lalu bangkit, berjalan ke ruangan itu. Ada rasa menyesal, mengapa dia tidak membereskan barang Karina terlebih dahulu sebelum memasukkan Hana ke kamar ini.
Hana mengikuti Roy. Dia melongok ke dalam terlebih dahulu, Roy yang tidak sabar menarik tangannya masuk.
Hana terperanjat melihat ruangan yang seperti toko pakaian serba ada. Etalase yang memajang tas branded mahal. Rak dengan deretan sepatu dengan semua model. Lemari dengan isi baju-baju indah. Selain itu ada pula meja aksesoris berisi jam tangan pria dan wanita dengan merk ternama. Ibunya pernah mengoleksi satu atau dua jam itu. Dan lainnya.
"Ada banyak barang Karina di sini. Sebelum mengenalmu, aku kira akan menyimpan dan menjadikannya kenangan. Tapi aku akan meletakkannya di ruang lain."
Karina menelan salivanya berat. "Itu hak mu. Ini rumahmu bukan rumahku lagipula aku belum tentu jadi istrimu."
Wajah Roy menegang. Dia mengatup mulut rapat, tidak ingin berdebat serius dengan Hana mengenai masalah ini. Tidak ingin membuat jurang lebar antara keduanya.
Roy tersenyum kecut, "Belum, bukan berarti tidak mungkin."
__ADS_1
"Aku akan ke bawah. Kau bisa mengambil apapun di kamar ini. Semua milikku toh nantinya akan jadi milikmu. Jika kau tidak suka dengan milik Karina kau bisa menyingkirkannya," Hana ingin menyela tetapi Roy menggelengkan kepala.
"Namun, sayang jika semua barang berharga itu dibuang begitu saja. Alangkah baiknya jika sebagian digunakan kembali. Jika yang memang tidak kau sukai atau tidak kau gunakan bisa diberikan pada yang membutuhkannya."
"Andai kau tidak suka pakai barang bekas milik orang tidak apa-apa. Aku akan melelangnya."
Hana hanya terdiam. Dia memandangi semua barang itu. Banyak sekali barang branded yang harganya bisa sampai ratusan juta hingga milyaran.
"Sebagian besar barang itu aku yang membelikan, baru beberapa bulan saja digunakan. Bahkan tas itu, belum sempat dia pakai. Dia sudah tiada. Jika yang paling diatas adalah tas ketika peristiwa berdarah itu terjadi. Masih ada bercak darah Karina di sana. Oleh karena itu, aku membingkainya dengan kaca. Sebagai pengingat ku, jika kita tidak bisa mengendalikan takdir tetapi kita bisa membuat yang terbaik bagi seseorang yang berada di dekat kita selama masih ada waktu."
Roy mengatakannya dengan nada perih.
"Roy aku tidak bermaksud untuk membuatmu melupakan Karina. Hanya saja aku tidak ingin kau melihatku sebagai dirinya. Aku adalah aku."
"Tentu saja kau bukan dia. Dulu Karina juga mengatakan hal serupa. Dia merasa tidak percaya diri karena aku masih teringat dengan mantanku terdahulu. Semua ada cerita dan masa lalu tetap menjadi masa lalu. Dia seperti bayangan yang akan ada di sekitar kita. Namun, ketika kita berjalan yang kita lihat adalah depan kita, bukan bayangan kita. Kau dan anak-anak adalah masa depanku."
Mendengar itu serasa membuat hati Hana tenang. Roy memegang kedua bahu Hana.
"Itu jika kau mengijinkan aku untuk menemani hidupmu." Hana mengangkat wajahnya dan menatap Roy sebentar lalu memalingkan ke arah lain.
"Katanya kau sudah kesiangan." Hana mengalihkan perhatian Roy.
"Cepat mandinya! Aku menunggumu di bawah," perintah Roy
Roy lalu keluar dari kamar ganti. Dia senang Hana selalu mendengarkan Kata-katanya. Tiga wanita yang dekat dengannya memang punya karakter yang berbeda. Namun, Hana adalah wanita paling polos dan paling mudah diberi pengertian. Tidak pernah menyela pembicaraannya.
Roy menunggu lama Hana bersiap. Hingga dia tidak sabar.
"Wanita memang seperti itu, Roy," ujar Adry.
"Pria hanya memakai baju saja lalu sudah siap. Sedangkan wanita itu harus memoles wajah agar tidak terlihat pucat dan menata rambut agar terlihat rapi," kata Raina.
"Juga memilih baju agar tidak memalukan dan memasangkannya dengan sepatu yang cocok agar terlihat matching, lalu menambahkan aksesoris agar nampak wah, masih bingung memakai tas apa?" olok Adry.
"Kau mau mengolok ku," ucap Karina kesal meletakkan tangan di kedua pinggang.
"Itu bukan olokan sayang, cuma sedikit kebenaran tentang wanita," ujar Adry.
Lalu terjadi adu mulut antara keduanya. Roy lalu meninggalkan ruang makan dan berpesan pada pelayanan untuk menyiapkan bekal sarapan untuk dia dan Karina agar bisa dimakan di jalan.
__ADS_1
Roy kembali ke kamarnya. Dia membuka pintu kamar dan melihat Hana masih diam menatap dirinya di cermin
Dia tidak menyangka jika kehidupannya dulu yang serba ada kembali lagi, bahkan berkali-kali lipat.
"Kenapa kau malah diam saja di sana?''
Hana terperanjat. Melihat Roy dari pantulan cermin.
" Hanya memandangi diriku sendiri tidak percaya jika yang berdiri di sana itu adalah aku."
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Aku nampak tua," kilah Hana, meletakkan pelembab kulit di meja.
"Kalau kau tua lalu aku apa?"
"Kau itu sudah pantas jadi kakek," jawab Hana tertawa. Lihat ada beberapa helai rambut putih di sana. Kau seharusnya mengecatnya."
"Kau belum jadi istri sudah banyak tuntutan. Minta agar rambut dan jenggotku di cukur lalu menyemir nya."
"Itu untuk kebaikan penampilanmu sendiri biar tidak dikatakan sebagai sesepuh Yakuza."
"Tunggu, aku punya sesuatu untukmu."
"Ibu tadi menitipkan ini sewaktu aku di lorong."
Roy menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil.
"Apa ini?" Hana menimangnya.
"Aku tidak tahu karena belum membukanya."
"Ayo, buka! Aku juga ingin melihat apa yang Ibu berikan."
Hana lalu membuka kotak perhiasan itu. Sebuah anting dengan gantungan kecilnya berisi berlian biru.
"Itu adalah salah satu koleksi keluarga. Ibu dulu suka memakainya jika ke acara penting. Kalungnya sudah diberikan pada kakak, aku tidak menyangka jika antingnya diberikan padamu. Aku kira sudah jadi milik kakak ipar semuanya."
"Ini terlalu berat ku kenakan, aku tidak bisa menerimanya."
__ADS_1
"Kenapa kau menolak pemberian Ibu?'' Nampak nada kecewa dalam kata-kata Roy.