
Roy membawa pulang Nita ke rumahnya. Sepanjang perjalanan dia memaki Roy dan memarahinya. Meracau tidak jelas karena mabuk berat. Selama di klub tadi Nita memarahinya habis-habisan serta memaki. Roy tetap terdiam tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tidak bisa meninggalkan Nita sendirian di sana.
"Apa kau bahagia sekarang telah menghancurkan ku?'' tanya Nita sesengukan sewaktu tubuhnya di gendong oleh Roy.
Roy meletakkan Nita di pembaringan, dia lalu menyelimuti wanita itu. Setelah itu dia bangkit hendak meninggalkan wanita itu sendiri tetapi tangannya di pegang oleh Nita.
"Roy, kenapa sampai sekarang kau belum menikah?" tanya Nita menatap pria itu. Roy balik menatap Nita, ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya, melepaskan tangannya lalu pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
Nita mengubah posisi tidurnya. Air matanya luruh, mengalir deras.
"Semua pria sama, suka menyakiti," ungkapnya.
***
"Selamat pagi, Ayah, Ibu," sapa Nita masuk ke dalam ruang makan. Dia lalu mencium pipi kedua mertuanya.
"Kau terlihat sangat menawan," ujar Janeta.
"Terimakasih Bu," jawabnya tersenyum.
"Selamat pagi Leon?" Leon lalu tersenyum cerah melihat ke arah Nita.
"Selamat pagi, Mom," Nita mendekat dan mencium pipi anak itu. Terlihat natural jika tampak sekilas.
"Aku senang sekali mendengar kau memanggilku, Mom," ungkap Nita menatap mata hijau itu.
"Kau sudah sarapan, Nita?" tanya Adry yang berada di seberang meja.
"Aku sudah makan tadi," ujar Nita lalu duduk di dekat Leon yang kesusahan memotong roti.
"Biar Mom potongkan," ujar Nita. Leon menyerahkan piring serta sendok dan pisau kepada Nita. Sedangkan Raina berhenti mengunyah. Menatap ke arah Nita.
"Kalian terlihat sudah akrab?'' tanya Janeta senang.
"Hmmm aku belum punya anak, kedatangan Leon membuat aku bersemangat. Aku ingin tahu rasanya menjadi ibu jadi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri."
"Kau sangat baik, aku senang melihatnya, bukan begitu Adry."
Adry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Raina menghela nafas panjang. Dia lalu meminum habis jus jeruk miliknya. Mengusir rasa dihatinya.
"Biar Mom suapi," kata Nita. Leon menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan senang jika Leon tetap berada di sini. Aku akan memasukkannya ke sekolah terbaik di kota ini," ujar Janeta.
"Leon adalah anak Raina, tanya padanya apakah dia menyetujuinya atau tidak," ucap Carl.
"Aku pikir kau akan setuju demi masa depan cerah anakmu, bukan begitu, Raina?" tanya Janeta.
"Eh, aku belum memikirkan hal itu."
"Ini terlalu awal untuk membicarakan hal ini, Bu," bela Adry.
"Harus cepat dipikirkan, karena Leon tidak bisa membolos sekolah terlalu lama," ungkap Janeta tidak mau kalah
Raina sebenarnya ingin pulang ke negerinya tetapi dia sudah terikat di sini. Jika dia menjawab maka akan timbul perbedaan lagi dan dia tidak ingin itu terjadi.
"Bu, aku dan Raina ingin berbicara pribadi," kata Adry. Nita menghentikan gerakannya menaikkan pandangannya ke arah Adry.
"Bicara soal apa?" tanya Janeta.
"Namanya juga pribadi ya rahasia, Sayang." ujar Carl santai. Dia lalu menyelesaikan makannya dan melihat ke arah jam tangan.
"Aku ada pertemuan dengan Tuan Swift satu jam lagi," kata Carl.
"Masih satu jam," ujar Janeta.
"Kalian teruskan makannya, aku pergi terlebih dahulu. Sayang, ambilkan tasku," ujar Carl.
"Temui aku di kamar setelah ayahmu berangkat," kata Janeta keluar dari ruang makan.
"Memang apa yang akan kita bicarakan?" tanya Raina.
Adry melihat ke arah Nita yang sedang menyuapi Leon.
"Nanti kau akan tahu sendiri."
"Nita apa rencanamu hari ini?" tanya Adry.
"Aku ada pemotretan sebentar, tiba-tiba Michael menelfonku kemarin dan dia menawariku pekerjaan ini."
"Tuan Michael yang kita temui waktu itu?" tanya Leon antusias.
"Yea," jawab Nita.
__ADS_1
"Wow, dia berkata jika aku cocok untuk jadi model pakaiannya," ujar Leon. "Namun, Mom mengatakan tidak boleh." Raina terkejut Leon tidak mengatakan hal ini padanya. Padahal selama ini anaknya itu selalu mengatakan apa yang dia rasakan. Rasanya seperti diduakan. Namun, dia menyadari jika kedatangannya membuat Nita merasakan hal yang sama dia rasakan, dia diduakan oleh Adry.
Dadanya terasa sesak dan kecewa tetapi dia tidak bisa mengeluh atau mengatakan pikiran buruknya tentang Nita pada seorang pun. Kecuali Roy. Pria itu juga tidak bisa dia percaya sepenuhnya.
"Kenapa?" tanya Adry.
"Kata Mom, perkerjaanku hanya belajar dan bermain sedangkan pekerjaan itu membuat lelah bagi yang tidak suka."
"Mom, benar, tetapi jika kau menyukainya itu tidak masalah bukan?" ujar Adry membuat Leon berteriak senang.
"Itu artinya aku boleh ikut Mom ke pemotretannya?"
"Sebenarnya, Michael ingin agar Leon ikut juga, kami akan dijadikan pasangan ibu dan anak, namun, aku menolaknya."
"Mengapa tidak itu hal bagus, malah akan membuat ikatan diantara kalian semakin erat," lanjut Adry yang senang Nita terlihat memperdulikan Leon.
"Apa kau keberatan Raina, kau itu 'ibu kandungnya'," tanya Nita.
Raina terdiam sesaat. Ingin mengatakan Ya tetapi ketika melihat Adry yang tidak ragu mengatakan ya dan Leon yang begitu antusias membuatnya menganggukkan kepala walau terasa berat. Hatinya perih sekali. Dia ibunya tetapi Nita yang akan dianggap Ibu Leon oleh dunia.
Bibirnya tersenyum tetapi matanya berkaca. "Aku akan keatas dulu, ingin buang air kecil," alasan Raina. Dia lalu berjalan keluar ruangan sembari menyeka titik air mata yang sempat keluar.
"Kau tidak boleh seperti itu pada menantu mudah kita," terdengar suara Carl berbicara.
"Memang apa yang kukatakan?" tanya Janeta.
"Kau itu seperti memaksakan kehendakmu pada Leon, padahal ada ibunya dan dia yang selama ini membesarkan cucumu!"
"Aku ingin yang terbaik untuk Leon, apa dia bisa melakukannya? Tidak kan? Andaikata Adry tidak menemukannya maka cucu kita pasti akan hidup terlunta-lunta bersamanya. Mungkin sudah mati. Bagus Adry membawanya kemari. Sekarang, tugas kita membuat masa depan yang cerah untuknya."
"Kau tidak mengerti juga."
"Dia yang harus mengerti dan sadar diri jika masih ingin tinggal di tempat ini."
Raina tidak tahan mendengarnya dia langsung berlari naik ke atas kamarnya. Dia kira bertemu dengan keluarga Adry akan membuat langkahnya untuk bisa bersama Adry jadi mudah. Nyatanya, perkataan Roy itu benar, jika tidak semudah itu keluarga Adry akan menerimanya dengan baik.
Raina lalu masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Menyalakan keran dengan keras dan dia menangis.
Ini hari pertama dia berada di sini namun seperti dalam neraka dan surga. Surga bila dia bersama Adry dan neraka jika dia melihat seluruh kenyataan yang ada.
Perasaan ragu untuk tetap tinggal di rumah ini mulai menyelimutinya. Leon juga sudah merasa senang dan nyaman berada di sini. Keberadaannya bukan hal utama lagi untuknya.
__ADS_1
Apakah dia harus pergi dari sini atau tetap bertahan untuk mendapatkan haknya secara penuh?