
"Tarik nafas Hana. Tarik nafas. Pejamkan matamu. Pikirkan sesuatu yang indah, tawa Ayu dan Bagus," perintah Roy.
Hana melakukan yang Roy perintahkan. Nafasnya terdengar mulai teratur.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, sudah lebih baik," Hana tersenyum lalu tertawa kecil.
"Ini sudah lebih baik."
"Kalau begitu kau sebaiknya masuk ke dalam dan tidur."
"Aku tidak pernah tidur dengan orang asing," kata Hana ragu.
"Kau akan tidur di tempat tidur dan aku akan di sofa. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja!" tegas Hana.
"Tidak, keadaanmu belum stabil. Jika kau tidak mengalami ketakutan lagi kau boleh kembali tidur bersama Ayu."
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian."
Mereka lalu masuk ke dalam kamar sedangkan Hana melangkah kan kaki dengan dada berdebar. Berkali-kali dia menelan salivanya dalam.
Hingga akhirnya, dia duduk di pinggir tempat tidur memandangi Roy yang sedang menutup pintu balkon dan tirai di seluruh ruangan ini. Pria itu lantas menatap ke arah Hana yang juga belum berbaring.
"Berbaring lah dan pejamkan matamu," kata Roy yang berdiri menjulang tinggi di depan Hana. Dia teringat kata-kata Rama jika Roy tidak akan menyakitinya.
Hana mulai membaringkan tubuh di tempat tidur dan menarik selimut berwarna abu-abu, hingga tersisa wajah kecilnya saja yang terlihat.
"Kau suka tidur gelap atau terang?"
"Terang."
"Bagaimana jika kunyalakan lampu duduk di dekatmu dan yang lain ku matikan."
__ADS_1
"Itu tidak masalah," jawab Hana.
Setelah mematikan sebagian lampu dan mengambil bantal serta selimut di walk in closet Roy lalu mulai membaringkan tubuhnya. Dia juga butuh istirahat setelah melalui hari yang berat dan melelahkan. Dua jam saja itu sudah cukup untuknya.
Dia memandangi Hana yang tidur memunggungi karena letak sofa berada di sisi kanan tempat tidur. Lama-kelamaan kelopak matanya terasa berat dan Roy mulai terpejam.
Suara dengkuran Roy membuat Hana yang gelisah lalu membuka matanya. Dia lalu membalikkan tubuh menatap ke arah Roy yang sudah tertidur pulas.
Rambut pria itu yang biasanya diikat rapi kini tergerai. Panjangnya se punggung, lebih panjang dari rambut Hana sendiri. Mulut pria itu terbuka dan mendongak ke atas sehingga tampak lucu. Tidak semenakutkan yang Hana kira. Pria itu pun tidur dengan memeluk sebuah bantal guling. Sebagian selimutnya jatuh ke lantai.
Dia memakai jubah satin berwarna hitam tanpa dalaman sehingga dadanya yang berbulu halus, terlihat terbuka. Hana menaikkan kedua alisnya ke atas. Roy mengusap mulutnya lalu mengubah posisi tidur.
Hana yang takut ketahuan karena memandangi pria itu lantas memejamkan matanya. Lama-kelamaan, dia ikut tertidur pulas.
Pagi menjelang dini hari, terdengar suara rintihan. Hana membuka matanya.
"Jangan... jangan... jangan tinggalkan aku Karina... jangan...!"
Hana terperanjat. Dia lalu bangkit dan mendekati Roy. Sudut matanya basah oleh air mata. Sepertinya kematian Karina membuay luka yang dalam untuk Roy. Sudah beberapa tahun berlalu tapi pria itu belum juga bisa melupakannya. Hana lalu melihat foto Karina.
Dia lalu membungkuk, mengoyak tubuh Roy.
"Pak Roy... Pak Roy...," panggilnya lembut. Tangan Roy yang besar lalu meraihnya dan memeluk Hana dengan erat.
"Karina, kau datang! Aku sangat merindukanmu."
"Pak Roy, sadarlah, aku bukan Karina. Pak Roy...!"
Roy lalu membuka matanya. "Karina... kau di sini," ucapnya.
"Hana!" Roy lalu melepaskan pelukannya, Hana lalu turun dari tubuh Roy. Dia mengusap bekas tangan Roy yang menggenggamnya dengan erat tadi sehingga memerah.
Dia mengernyitkan dahi. Mengapa dia tidak histeris seperti biasanya. Apa efek hipnotis itu membuatnya berubah?
"Hana, kau bagaimana?"
"Kau menangis dalam tidur seperti anak kecil sehingga aku membangunkanmu," ucap Hana kembali ke tempat tidur. Dia lebih senang berpikir tentang efek hipnoterapi itu daripada melihat Roy yang sedang merasa linglung karena baru bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Aku menangis."
"Coba pegang saja sudut matamu, pasti basah." Hana kembali berbaring menyelimuti tubuhnya.
"Kau memanggil nama istrimu dalam tidur. Nampaknya, kau sangat mencintainya," sindir Hana.
"Baru beberapa jam lalu pria itu mengatakan cinta padanya namun kini berteriak nama almarhumah istrinya dalam tidur. Entah kenapa hal itu, membuat Hana tidak suka. Belum lagi dengan foto istrinya yang masih di pajang di kamar.
" Itu adalah bagian dari hidupku. Aku tidak bisa melupakan semua itu serta merta."
"Aku tahu, tidak menuntut kau untuk melupakan nya." Hana lalu mulai memunggungi Roy dan melihat ke arah tangannya lagi. Berpikir jika mungkin traumanya bisa hilang. Hana tersenyum lalu mulai memejamkan matanya.
Dia tidak suka ketika Roy masih mengingat istrinya tetapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena dia tidak mencintai Roy.
Hana memejamkan matanya. Roy yang tidak bisa memejamkan matanya lagi lalu bangkit. Dia memandangi foto dirinya dan Karina, lalu mengambil dan meletakkan itu di sudut kamar dengan posisi terbalik.
"Maafkan aku Karina, bukannya aku melupakanmu dan janji kita tapi aku harus meneruskan hidupku. Ada dua anakku yang menginginkan aku hidup bersama dengan ibunya. Jika kau masih di sini, dia tidak akan menerima diriku dan impian anakku akan lenyap."
"Jam dua," ucap Roy. Biasanya jika tidak bisa tidur dia mengerjakan pekerjaan kantor. Kali ini, ada orang tuanya. Ruang kerjanya ada di sebelah kamar Ayah dan Ibu. Jika dia ke sana, bisa-bisa dia ketahuan dan dapat omelan.
Roy menghela nafas. Setelah satu jam gelisah, dan berkali-kali memandangi Hana yang tertidur pulas. Dia mulai menyeringai jahat.
Dia pergi naik ke tempat tidur memandangi Hana. Tadi dia bisa tidur pulas karena menatapnya, mungkin kini bisa dilakukan lagi, pikir Roy.
Wajah Hana yang sendu dan manis membuat dia senang menatapnya. Suara nafasnya seperti alunan irama yang menenangkan jiwanya. Roy mulai mengantuk. Dia mulai terpejam sedikit demi sedikit.
Akhirnya, dua insan itu tertidur pulas dalam satu ranjang. Suara binatang di malam hari tidak membuat mereka terbangun. Bahkan dinginnya malam membuat tubuh mereka semakin mendekat mencari kehangatan.
Hana mulai terbangun dari tidurnya. Matanya masih terpejam. Dia menepuk tubuh seseorang yang ada di dekatnya.
" Ayu, Bagus, bangun. Sudah pagi, bukankah kau harus pergi berangkat sekolah?"
"Bagus, Ayu... bangun... jika tidak kalian bisa terlambat ke sekolah."
Karena kesal kedua anaknya tidak kunjung menjawab, Hana membuka matanya. Matanya membelalak melihat sosok besar yang sedang dia peluk.
"Akh! Kenapa Bagus sebesar ini?" ujar Hana mendorong keras tubuh Roy ke belakang.
__ADS_1