Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Fitnah Keji Apalagi?


__ADS_3

Ariana menarik tali celemeknya dengan bergetar setelah masuk ke dalam dapur. Kakinya merasa lemas sehingga dia menahan tubuhnya di pinggiran meja dapur. Dadanya mulai merasa sesak dan panas juga berdegub kencang.


Akhirnya dengan mengumpulkan tenaganya Raina menyentak celemek itu dan melemparnya ke kawat pengait gantungan celemek pelayan. Dia mengusap dahinya yang berkeringat dan memegang dada.


Kenapa Adry ada di sini? Bagaimana dia bisa tahu keberadaannya. Raina memang tidak melakukan apapun untuk menutupi jejak kepergiannya. Dia memang meninggalkan rumahnya dan tidak tahu harus kemana dia pergi. Dia tidak peduli.


Bodohnya dia tidak menutupi identitasnya atau mengganti. Hal itu bisa membuat Adry mencari tahu keberadaannya. Namun, mengapa setelah enam bulan lamanya? Apa alasan pria itu tiba-tiba mencarinya?


Ariana tidak percaya jika ini hanya kebetulan semata. Ini bukan tempat Adry Quandt biasa berada, bukan level atau pun kelas mereka. Keluarga Quandt yang terhormat pasti memilih mati dari pada masuk ke cafe kecil ini sebelum merusak selera makan mereka yang terbiasa dengan makanan restoran bintang lima. Raina tertawa miris.


"Wow, Ariana sepahit itukah hidupmu?" Ujarnya pada diri sendiri. Raina menggeleng murka pada diri sendiri karena pria itu berhasil membuatnya tertekan dan emosi karena kedatangannya.


"Ariana, mereka membutuhkan bubuk kopi Arabica," kata Suri. Namun, dia melihat keadaan Ariana yang nampak panik dan cemas.


"Ada apa Ariana, apa anak dalam perutmu baik-baik saja?"


Pandangan Raina turun ke bawah. Ya, Tuhan. Perutnya. Adry pasti telah melihatnya. Buta jika dia tidak melihat perutnya yang telah membesar. Dia harus pergi dari sini sebelum pria itu mengejarnya.ll itu


"Raina kau baik-baik saja?" Suri menepuk bahunya. Raina terhenyak dari lamunan.


"Aku tidak baik-baik saja," Raina menarik tangan Suri mendekat. Dia langsung menutup pintunya.


"Ada mantanku di sini, kau tahu dia baji ... Ngan yang sedang mencariku. Aku harus pergi dari sini sebelum semuanya terlambat."


"Okey, aku mengerti." Suri memegang bahu Raina. Dia pernah menjadi korban kekerasan oleh pacarnya dan dia pikir mantan suami Raina juga orang yang ringan tangan.


"Sampaikan ijinku pada Tuan Sambo," pinta Raina.


"Kau tahu Ko Sam tidak suka dengan orang malas bekerja kecuali orang itu memang benar-benar sakit seperti harus segera opname atau apa," terang Suri.


"Aku mengerti, katakan saja jika aku berhenti bekerja."


"Aku akan mengatakannya."


"Satu lagi jika ada yang menanyakan tentang aku katakan saja jika kau tidak tahu apa-apa tentang aku atau apalah. Aku mohon!"


"Okey, kau bisa mempercayaiku."

__ADS_1


"Terimakasih, senang punya sahabat sepertimu," ucap Raina memeluk Suri.


"Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan sesuatu," ungkap Suri khawatir. Raina lantas keluar dari tempat itu melewati pintu belakang.


Raina berhenti untuk mengambil nafas. Melihat ke kanan kiri dan segera berlari berjalan menyusuri jalanan setapak menuju gang tempat kontrakannya berada. Dia mempercepat langkahnya seperti sedang dikejar oleh pembunuh bayaran sembari sesekali melihat ke sekeliling takut ada yang menguntit. Hingga si belokkan menuju gang rumahnya dia menghentikan langkahnya dan memegang dada. Mengambil udara karena nafasnya yang sudah tersengal-sengal. Tidak mudah bagi orang hamil sepertinya berlari cepat.


Akhirnya dia sampai di sebuah rusun sederhana. Mulai menaiki tangga dengan kakinya yang telah membengkak. Akhirnya dia sampai di lantai tiga miliknya tinggal. Dia mengontrak di tempat ini dalam beberapa bulan ini.


Raina lalu menutup pintu itu rapat dan berdiri di belakangnya seraya bernafas berat. Matanya terasa panas dan memerah.


Hal yang paling membuatnya sakit adalah rasa kecewanya ketika bertemu dengan Adry lagi. Tidak, hal yang tidak ingin dia lakukan adalah berhadapan dengan pria itu lagi. Dia tidak akan membiarkan ada seseorang menyakiti seperti Adry lagi, tidak akan pernah. Sampai kapan pun dia tidak akan mengijinkannya.


Raina mengusap perutnya dengan lembut. Dia tidak tahu siapa yang harus dia tenangkan. Anak dalam perut atau dirinya sendiri.


"Aku bodoh karena mencintainya," air matanya terus menetes dengan deras. "Begitu yakin bahwa aku bisa menjalani semuanya dengan baik dan mengira bisa menyesuaikan diri dengannya dan keluarganya. Mereka akan menerimaku dengan tangan terbuka dan mencintaiku."


Dia mengusap wajahnya dengan tangannya. Rasa asin mulai masuk ke dalam mulut. Mencoba untuk menenangkan diri. Di saat itu tiba-tiba pintu di ketuk.


"Raina buka pintunya."


"Raina buka pintunya atau aku akan mendobraknya. Kita harus bicara." Raina panik dia langsung membalikkan tubuhnya dan mundur menggigit ibu jarinya kencang. Dia sangat takut, orang terakhir yang ingin dia temui saat ini adalah Adry.


Pintu kembali digedor dengan kuat hingga bergetar. Raina tidak ingin membuat kegaduhan dengan tetangga sekitar. Dia lalu memutar kunci itu dengan cepat di saat yang sama pintu itu terbuka membuat tangannya terbentur pintu itu dan Raina menarik tangannya tadi dengan cepat dan memegangnya dengan satu tangan yang lain.


"Per-pergi dari sini," teriak Raina . "Tidak perlu ada yang kita bicarakan!"


Pintu seketika terbuka dengan lebar dan bergetar. Wajah Raina nampak pucat pasi. Dia menelan Salivanya dengan berat.


Adry nampak berdiri tinggi besar di sana dengan gagah. Sama seperti biasanya mempesona. Tidak ada yang berubah hanya lingkaran matanya saja dan bentuk cukuran rambutnya saja yang lebih pendek.


Tatapan mata pria itu menelisik tubuhnya dari bawah ke atas sehingga pakaian yang dia kenakan seperti tidak bisa menutupi apa yang seharusnya dia lindungi. Dia merasa seperti di lucuti dengan tatapan itu.


Adry selalu bisa merasakan dan melihat apa yang ada di dalam hatinya kecuali di saat-saat penting pria itu tidak bisa melihat kebenaran yang ada.


Menatap Adry di depannya membuat hati Raina bagai tertusuk-tusuk. Kemarahan dan kerinduan menjadi satu membuat suatu kekecewaan dan kesedihan yang mendalam terpancar dari matanya yang sendu.


Untuk apalagi pria itu berdiri di sini apakah akan menambah penderitaan baginya atau dia dan keluarganya punya rencana lain untuk menghancurkan dan menyakitinya.

__ADS_1


Mereka belum berbicara apapun sebelum kejadian tragis dulu. Raina masih mengira jika Adry ikut dalam rencana yang Janeta buat jadi dia tidak ingin mengatakan apa-apa pada pria itu. Hanya ada kebencian mendalam yang dia rasakan saat ini.


"Keluar!" usir Raina keras. "Keluar sekarang atau akan kupanggilkan keamanan. Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu, tidak sekarang tidak besok dan tidak selamanya," teriaknya frustasi.


"Sayang sekali ada banyak yang harus kita bicarakan." Ucapan Adry terlihat mengejek ketika melihat perut besar di perut Raina. Wanita itu takut jika anaknya akan diambil lagi oleh Adry.


"Kita mulai dari bayi siapa itu?" ucapan Adry membuat Raina terperangah. Dia tidak menyangka pertanyaan keji itu keluar dari bibir suaminya. Fitnah kejam apalagi sekarang?


***


Udah bosen belum....


Mampir ya ke cerita othor lainnya.



Affair


One night With My CEO


Billionary Married Scandal


Mencintai Calon Kakak Ipar


Cinta yang dewasa.



On going



Neraka Dosen Pemikat


Gadis Untuk President


__ADS_1


__ADS_2