Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Wajah Kaku


__ADS_3

"Aku kira kau sudah pergi jauh dari hidupku," ujar Karina membalikan tubuhnya.


"Tidak sebelum kau menyelesaikan tugasmu!" tegas Roy.


"Tugas apalagi?" Karina menatap kesal dan malas pada Roy.


"Kita belum tahu apa yang akan ibuku lakukan? Kau boleh pergi sampai masalah ini selesai."


"Oh, itu bukan perjanjiannya!" ujar Karina.


"Perjanjiannya adalah kau ikuti semua perintahku sampai selesai."


"Tapi ...," perkataan Karina tertahan.


"Orang tuamu akan menjadi urusanku, kau hanya harus menuruti semua perintahku sampai selesai."


"Ku kira masalah Adry dengan ibunya tidak akan pernah selesai," ucap Karina cepat sembari menengadahkan wajah.


"Selagi kalian tetap dengan egonya. Ibunya hanya ingin putra mereka kembali."


"Tahu apa kau dengan masalah kami," Roy maju ke depan sehingga jarak mereka terkikis. Matanya menatap tajam pada Karina. Dia merasa wanita itu terlalu sok tahu dengan keluarganya. Merasa paling benar dan malah berusaha untuk membenarkan tindakan Janeta.


"Aku memang tidak tahu banyak hanya saja aku tahu jika Nyonya Janeta sangat menyayangi putranya. Jika tidak, dia tidak akan merawat cucunya dengan baik dan penuh kasih sayang."


"Lalu menurutmu siapa di sini yang paling bersalah?" suara Roy merendah penuh dengan penekanan. Nafas pria itu sudah mulai terasa berat. Rahang mengetat.


"Orang tua tidak pernah salah dan anak yang seharusnya mengerti mengapa orang tua menginginkan hal itu. Jika pun salah, anak seharusnya memberi pengertian bukannya menjauh."


Roy tertawa sinis tanpa suara sembari menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kau bisa mengatakan seperti itu, kau tidak tahu kejadian sebenarnya jadi tidak perlu untuk menghujat. Coba pikir dengan akalmu, jika ibuku adalah orang yang baik dia tidak akan menggunakan orang tua untuk menekanmu."

__ADS_1


"Lagian buat apa aku menceritakan hal ini padamu karena kau hanya orang luar yang tidak akan mengerti tentang kami!"


"Siapkan dirimu, sekarang kita akan kembali ke pulau," kata Roy meninggalkan Karina dengan santai.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku ingin kembali menemui orang tuaku!" seru Karina kesal.


"Tenang saja, aku sudah melacak keberadaan mereka. Mereka dalam keadaan baik-baik saja. Walau ayahmu sempat mengalami sedikit komplikasi ketika dalam perjalan ke Jerman dari Afrika. Ibu angkatku itu sedikit memaksa memang. Untung saja ayahmu masih hidup jika tidak kau juga akan membencinya...," ejek Roy tanpa berpaling tetap berjalan keluar kamar. Pria itu hendak memutar kenop pintu ketika Karina berlari lalu berdiri di depan pria itu.


"Ayah... dia kenapa?" mata wanita itu nampak kemerahan dan berharap penjelasan lebih dari Roy.


"Dia hanya mengalami komplikasi, sedikit sesak nafas sehingga harus dilarikan ke ICU secepatnya. Dokter yang menjaganya di pesawat bahkan sudah hampir menyerah namun beruntung dia masih hidup. Mungkin dia ingin bertemu denganmu di masa akhir hidupnya."


Nafas Karina tercekat dan terhenti menatap tidak percaya dengan keterangan dari Roy. Dia menggigit bibir untuk menahan tangisnya.


"Kumohon, biarkan aku menemui ayahku sebelum melakukan pekerjaan ini," cicitnya dengan penuh harap. Satu tetes air mata melesat turun dari matanya, sesuatu yang tidak ingin dia perlihatkan pada siapapun selama ini.


***


Dia sangat tahu dia telah membuang waktu dan jika salah langkah saja maka semuanya akan terasa sulit bagi Raina dan Adry. Namun, nuraninya tidak membiarkan kesalahan terbesar bisa membuat hati seseorang hancur.


Roy sangat tahu betapa pentingnya hadir ketika seseorang yang sangat kita cintai membutuhkan kita. Di saat-saat terakhir hidupnya.


Karina duduk di sisi jendela pesawat. Lebih banyak diam tetapi sudah satu kotak tisu dia habiskan untuk menyeka air matanya.


"Makanlah," kata Roy ketika Karina menolak makanan yang pramugari hidangkan.


"Aku tidak ingin," ucapnya parau tanpa memalingkan wajah ke arahnya.


"Makanlah, jika ingin bertemu dengan orang tuamu jika tidak pesawat ini akan kusuruh balik ke Indonesia."


Karina menyeka air matanya lalu mengambil dengan kasar makanan itu dari tangan pramugari, memakannya walau dengan rasa yang tidak karuan. Dia hampir tidak merasakan apa-apa. Pikirannya hanya satu mengenai keselamatan Ayahnya. Walau dia tahu ayahnya melakukan kesalahan dengan korupsi yang dia lakukan tetapi selama ini ayahnya selalu melakukan yang terbaik baginya. Ayahnya selalu memberikan cinta dan rela berkorban untuknya.

__ADS_1


Pesawat akhirnya mendarat di Berlin, Jerman. Negara yang selama dua tahun ini tidak diinjak lagi oleh Roy dan dihindari olehnya. Bukan karena dia membenci negara itu atau orang tuanya tetapi lebih kepada menghindari semua masalah yang ada. Dia ingin meninggalkan masa lalu. Terlalu marah pada keegoisan orangtua Adry yang membuat hidupnya dan Adry menderita.


Mereka lalu menuju ke sebuah rumah sakit di ujung kota Berlin. Bukan rumah sakit terbesar di daerah tersebut tetapi alat yang digunakan sangat memadai.


Seorang pria berjaket hitam datang ketika Roy keluar dari mobil. Pria itu membisikkan sesuatu pada Roy. Pria itu lalu mengulurkan tangan pada Karina. Wanita itu membalas uluran tangan Roy. Mereka berjalan mengikuti pria tadi.


Roy berjalan di depan sedangkan Karina mengikutinya. Beberapa orang lainnya berjalan mendekat ke arah mereka. Dari tatapan mereka sepertinya mereka adalah anak buah Roy.


Dokter pria berumur antara tiga puluh lima dengan rambut pirang datang menghampiri. Tubuhnya tinggi dan kecil, dengan kulit yang putih pucat serta kemerahan.


"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Roy.


"Keadaannya sudah stabil hanya saja kondisinya masih belum sadarkan diri."


Karina menatap ke arah Dokter itu.


"Apa orang mereka masih berjaga di sana?" tanya Roy.


"Sepertinya ya, aku harap kau tidak membuat kegaduhan di sini. Banyak pasien lain yang akan merasa terganggu."


"Aku tidak akan membuat masalah."


Roy pun berjalan ke arah lorong dimana ruangan ayah Karina berada. Ibunya sedang duduk menunduk di depan ruangan.


Dua orang berkulit hitam yang sedang duduk berjaga langsung berdiri ketika melihat Roy datang kesana.


Mereka lalu mengeluarkan pistol dan menarik pelatuknya. Ibu Karina langsung menyadari kejadian itu. Dia menengok ke arah Karina dan menutup mulutnya menahan tangis.


Sedangkan Roy sendiri sudah terlebih dahulu menodongkan pistolnya bersama beberapa mantan anak buah yang telah dia rekrut kembali.


Dua orang kulit hitam itu kalah jumlah, mereka menurunkan pistolnya. Orang Roy lalu mengamankan keadaan.

__ADS_1


Karina sendiri tercengang dengan semua yang terjadi. Dia tidak mengira jika akan tersandung masalah besar. Ini bukan sekedar perselisihan antara orang tua dan anak tetapi lebih dari itu. Dia menatap wajah Roy. Kini, dia tahu dari mana sikap kaku dan wajah tegang milik pria itu. Roy mungkin sering berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan sehingga dia tidak bisa bersikap layaknya orang pada umumnya.


__ADS_2