Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Terbaik Untukmu


__ADS_3

Jet pribadi milik keluarga Quandt mendarat di Jakarta pria itu memutuskan untuk mengikuti Karina ke Jakarta. Dia tidak mungkin meninggalkan wanita itu sendiri di tengah masalah rumit yang sedang dia hadapi.


Roy melangkah maju untuk menyambut Tuan dan Nyonya Andika. Pensiunan dari kepolisian itu menatapnya ketika menjabat tangannya dengan kukuh. "Terima kasih atas kedatangan kalian kemari, untuk menjemput kami," ucap Roy.


"Bagaimana keadaan Karina?" tanya Andika.


"Dia dalam keadaan baik-baik saja." Roy lalu melihat Karina turun dari pesawat, tadi wanita itu meminta waktu untuk ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum turun dari pesawat.


Dia menyambut tangan Karina.


"Alasanku untuk memanggil kalian hanya boleh diketahui kita berempat," kata Roy.


"Aku sudah mengirimkan orang ku untuk menjaga kalian secara rahasia agar tidak terlalu nampak mencolok di mata umum."


"Apakah kami bisa mempercayai mu?" tanya Karina yang tidak pernah percaya pada siapapun kecuali dirinya sendiri. Ini kasus besar siapa saja bisa berkhianat.


"Kepercayaan harus segera di dapatkan buka. diberikan!" ucap Sersan Andika. Roy menganggukkan kepala tersenyum.


Mereka lalu menuju ke mobil. Sepertinya yang Kapten Andika katakan jika mereka diberikan beberapa pengawal yang menyamar sebagai orang biasa dan berada di sekitar mereka.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Roy duduk di sebelah Karina dan Sersan Andika berada di kursi depan.


"Kau nampak pucat, bahkan vampir terlihat lebih merona dibandingkan dengan dirimu," ujar Roy menyentuh pipi Karina.


"Aku tidak ingin seseorang menakutiku dengan ancaman mereka lalu mengubah pendirian dan jalan hidupku."


"Apa kau lupa siapa diriku?" Roy berkacak pinggang menatap Karina. Wanita itu menarik nafas lalu mengalihkan perhatiannya keluar jendela mobil.


"Ini tidak sama Roy. Ini masalah besar banyak orang yang berkuasa yang akan terlibat dalam skandal korupsi Mega dana.


"Seseorang berusaha untuk mengintimidasimu dan keluarga lalu kau ikut terlibat. Cukup aku, aku tidak ingin menambah masalah lagi. Nyawamu pun dipertaruhkan."

__ADS_1


"Karina apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Roy.


Roy tidak sependapat, begitu juga dengan Sersan Andika.


"Ini masalah besar Nona, kita harus sangat berhati-hati. Aku juga tidak ingin kau menjadi korban dalam masalah ini namun kebenaran harus tetap ditegakkan."


"Kau dengar apa kata Sersan Andika."


"Aku hanya ingin masalah ini tidak sampai berlarut-larut lamanya. Ingin agar aku bisa bebas berbuat apapun setelahnya. Mungkin dengan mengatakan jika aku tidak punya bukti apapun itu akan mempermudah masalahku ke depannya."


"Karina, apa yang ingin kau lakukan?" Roy memegang bahu Karina.


"Aku bisa melakukan apapun untukmu dan menemukan siapa dalang dibalik masalah ini lalu menyeretnya ke depan meja hijau."


"Roy kita cari jalan aman saja."


"Bukankah kau harus menjalankan keinginan terakhir almarhum ayahmu untuk bisa membersihkan namanya?"


"Itu lebih baik Tuan Roy," ucap Sersan Andika. "Tempat itu akan dijaga ketat nantinya dan tidak akan seorang pun yang menyangka jika kau ada di sana."


"Kau akan keluar jika sedang ada panggilan dari kejaksaan," lanjut Roy.


"Dengarkan Karina aku ingin kau selamat dari masalah ini lebih dari yang kau tahu. Aku harap kau mempercayaiku kali ini dan menyerahkan semua masalah itu di pundak ku." Roy meraih bahu Karina lalu memeluknya. Wanita itu menyenderkan kepala di pundak Roy.


"Aku tidak pernah merasa seaman ini ketika bersama seseorang. Kecuali Ayahku. Dia selalu memberikan dan melakukan terbaik untukku."


Hal pertama yang mereka lakukan adalah datang ke rumah Karena untuk menjemput ibunya. Setelah menempuh perjalanan dua jam lamanya dari bandara akhirnya mereka sampai di kompleks rumah Karina. Kawasan itu nampak ramai dan macet. Suara sirine mobil pemadam kebakaran terdengar meraung memecah suasana.


Karina dan yang lainnya bisa melihat asap hitam membumbung tinggi ke udara. Nafasnya mulai terasa berat dia merogoh tasnya untuk mengambil inhaler bersiap jika dia memerlukannya nanti.


Ketika mereka masuk ke dalam kompleks perumahan sumber api semakin jelas terlihat. Dengan perlahan sersan Andika menyetir kendaraannya melewati barisan penonton dan mobil-mobil darurat. Mobil itu berhenti di pinggir jalan, beberapa ratus meter dari rumah Karina.

__ADS_1


Karina tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi Roy bisa mendengar getaran nafas wanita itu, dan luapan amarah yang mengejutkan keluar dari dirinya.


Roy tidak pernah terbawa emosi ketika menemukan suatu kasus apapun itu. Dia selalu menggunakan akal bukan perasaan namun ketika bersama Karina, dia merasakan geram yang teramat sangat. Roy mengumpat perlahan.


Ini sangat tidak adil untuk Karina. Dia tidak seharusnya menerima ini. Kerusakan total, rumah dan semua yang ada di dalamnya.


Semua orang ada di sini. Polisi, pemadam kebakaran, paramedis beserta ambulans yang diparkir di tepi jalan.


Pagar rumah itu terlihat roboh. Karina berlari mendekat. Dia menemukan ibunya diantara kerumunan orang-orang. Karina lalu memeluk ibunya yang berada di atas brangkar dan mereka menangis bersama. Ibunya lalu dibawa masuk ke mobil ambulans lalu pergi meninggalkannya.


Karina bergeming bagai mayat namun tetap bernafas. Wanita itu merasakan tatapan Roy lalu berbalik, matanya kelam akibat kepedihan dan keterkejutan.


Roy menarik tubuh Karina dalam pelukannya. "Ssttt, semua akan baik-baik saja," gumamnya. Dia akan membelikan rumah baru bagi wanita itu. Dia bahkan bersedia melakukan apapun agar wanitanya ini tersenyum bahagia.


Karina tidak mengucapkan sepatah katapun hanya merapatkan tubuhnya pada kehangatan. tubuh Roy.


Kepala Roy dipenuhi oleh berbagai pemikiran. Pasti disengaja, tapi kenapa? Apakah sebuah peringatan atau ada sebuah konspirasi besar di dalamnya?


Roy memutuskan agar sersan Andika yang akan meneliti masalah ini. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi itu karena itu dia membayar mahal mantan pensiunan Polisi itu.


Karina tidak menangis, setidaknya jika itu dilakukan akan membuat isi hatinya sedikit lega karena bisa meluapkan perasan. Jelas wanita itu sudah berada dalam tekanan bahkan jauh sebelum bertemu dengannya.


Pelukan Roy semakin erat. Dia bahkan mengelus-elus punggung wanita itu agar lebih tenang. Karina sendiri memeluk pinggang pria itu kepalanya di letakkan di bahu Roy.


Situasi ini membuat Roy berkonsentrasi penuh karena dia menduga akan ada permainan kotor ke depannya.


Pelukan Karina merenggang untuk melihat wajah pria itu yang nampaknya serius melihat sesuatu. Dia lalu mengikuti arah pandang Roy.


"Apakah kau merasa sangat kehilangan rumah itu?"


"Ya, ada banyak kenangan di sana namun itu rumah baru kami gunakan satu tahun lalu kami tinggal pergi karena kasus yang menjerat Ayah. Rumah lama kami malah jauh lebih berharga walau sederhana."

__ADS_1


"Aku kira masalah ini bukan hal besar. Rupanya Tuhan memang telah merancang agar kau bisa selalu tinggal bersamaku, walau ini menyakitkan," ucap Roy lalu menoleh dan tersenyum pada Karina.


__ADS_2