Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Bayar Di Muka


__ADS_3

"Itu tidak perlu," jawab Raina canggung.


"Itu jika suamimu tidak bisa mengantarmu, bukankah kau katakan jika dia punya urusan lain?" sindir Jonathan.


"Aku akan hadir ke acara pernikahanmu bersama dengan Raina," kata Adry tenang namun menghanyutkan. Sekilas dia menatap tajam pada Raina membuat wanita itu menundukkan wajahnya.


Kaira merasakan ada aroma persaingan disini. Dia jadi merasa tidak enak berada di tengah situasi ini.


"He... calon suamiku pasti akan merasa sangat senang jika tahu Anda bisa datang ke acara kami," kata Kaira canggung.


"Jo, aku harus pergi ke tempat lain sebaiknya kita pergi," ajak Kaira.


"Baiklah," kata Jonathan. Dia menjalankan kursi roda otomatisnya dan berdiri di depan Raina.


"Aku pergi dulu Raina, ruanganku tiga belokan dari ruangan ini. Kau bisa mencari ku jika membutuhkan sesuatu," Jonathan melirik ke Adry. Adry langsung menarik Raina dalam pelukannya.


"Dia tidak membutuhkan apapun darimu," kata Adry posesif.


"Mungkin dia butuh teman ngobrol," jawab Jonathan senang memancing kemarahan pria itu.


"Ya, sudahlah. Sampai bertemu lagi di acara pernikahan Kaira," kata Jonathan lalu pergi meninggalkan Raina dan Adry.


"Kau benar-benar gila, memancing dalam air yang keruh."


"Raina hanya istri keduanya dan dia juga mengatakan akan bercerai dengan Adry."


"Tunggu, istri kedua. Kau tahu darimana berita itu?"


"Dari orang suruhanku."


"Lalu berita perceraian itu?"


"Raina yang mengatakannya."


"Kaya tidak menjamin kebahagiaan seseorang," ujar Kaira.


"Kau lihat Raina seperti tertekan berada di sampingnya," kata Jonathan.


"Benar, aku bisa merasakannya."


"Jika bisa aku ingin kembali padanya," ujar Jonathan berharap.


"Jika dia jodohmu kalian pasti akan kembali."

__ADS_1


"Apa kau akan mendukungku?" tanya Jonathan.


"Jika Raina tidak bahagia dan hanya dijadikan yang kedua untuk apa dia teruskan pernikahannya dengan pria itu. Dia berhak bahagia dan mungkin kebahagiaannya ada padamu. Namun, ada satu yang masih mengganjal," ujar Kaira.


"Apa itu?"


"Raina itu punya anak dengan pria itu akan lebih sulit memisahkan mereka. Kau harus pandai mengambil hati anaknya," kata Kaira.


"Kau benar, Raina butuh orang yang melindunginya dan menyayanginya, dan dia juga butuh pria yang bisa menyayangi anaknya."


"Wanita yang punya anak akan lebih berat dengan perasaan anaknya. Jika anaknya suka dia pasti senang, jika anaknya tidak suka pada mu, secara otomatis Raina akan menjauhimu."


"Jadi langkah pertama yang harus kau lakukan adalah belajar mencintai anaknya terlebih dahulu dan ambil hatinya."


"Akan kulakukan!" kata Jonathan.


"Itu baru temanku," ujar Kaira.


"Semangat hidupku yang padam, pulih kembali ketika melihat Raina," kata Jonathan.


"Aku bisa melihatnya, terakhir aku melihatmu dalam keadaan kacau,"


Jonathan menghela nafas.


"Kalau begitu kau harus belajar berjalan lebih giat lagi agar Minggu depan kau bisa mengajaknya berdansa," ledek Kaira.


"Dansa tidak perlu pakai kaki, dia bisa naik ke pangkuanku dan kami berdansa bersama."


"Itu jika suaminya tidak membunuhmu," kata Kaira.


"Sepertinya dia akan langsung mengacungkan pistol ke arahku,'' imbuh Jonathan.


"Kau benar. Dia pria tampan namun menakutkan."


***


Adry lebih banyak terdiam ketika berada di rumah sakit. Dia juga tidak menanyakan apapun atau mengatakan apapun selama di mobil hingga mereka pulang kembali ke hunian mereka.


Adry bahkan langsung masuk ke kamarnya setelah selesai makan tanpa mengatakan sesuatu. Raina masa bodoh dengan apa yang dirasakan oleh Adry. Pria itu juga tidak memikirkan perasaannya. Pikir Raina.


Dia masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti baju. Membuka lemari dan melihat baju tidur apa yang akan dikenakannya.


Semuanya tidak ada yang berbentuk baju sama sekali. Jika kemarin terbuat dari sutera setidaknya tidak memperlihatkan bagian dalam tubuhnya sedangkan dua baju lain sangat transparan. Bagaimana cara bawahan Adry memilihkan semua itu untuknya? Atau mereka biasa memakai baju seperti itu? Apakah tidak ada baju tidur seperti di negaranya sendiri. Baju tidur stelan celana panjang dengan gambar kerropi atau hello Kitty. Itu lebih beradap.

__ADS_1


Akhirnya Raina memilih baju gaun tidur transparan berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Dia memakai jubah selutut agar tidak terlihat. Rambut dia geraikan ke belakang.


Setelah di rasa cukup dia baru pergi ke kamar Adry. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam dengan langkah pelan.


Adry tetap fokus pada pekerjaannya tidak melirik ke arah Raina sedikit pun. Raina lantas mendekat ke arah pria itu.


"Jangan buatkan aku kopi malam ini, karena aku ingin tidur lebih awal," kata Adry yang tahu kebiasaan Raina.


"Adakah yang bisa kubantu," kata Raina.


"Tidak, kau tidur saja. Kau pasti lelah karena seharian pergi menunggu Leon dan mengerjakan pekerjaan rumah."


"Tidak, aku biasa bekerja hingga larut malam. Jika dulu almarhum Ibu masih hidup, siangnya aku bekerja, malam hari kami membuat kue untuk dititipkan ke warung-warung."


"Apa kau tidak lelah?"


"Sama sepertimu, apa kau tidak lelah telah bekerja di siang hari lalu membawa sisa pekerjaan ke rumah dan bekerja lagi hingga malam hari?"


"Ada banyak orang yang bergantung pada kinerjaku," kata Adry.


"Sama sepertimu, ada Leon dan ibuku yang bergantung hidup padaku. Aku tidak bisa mengabaikan mereka dan mendahulukan rasa lelahku," balik Raina.


"Kalau begitu mulai sekarang kau tidak perlu bekerja lagi, aku akan mencukupi kebutuhan kalian ke depannya."


"Tidak usah, kau punya kehidupan sendiri nantinya nikmati saja. Aku dan Leon akan menikmati hubungan kami," kata Raina.


"Bersama pria lain?" tanya Adry tiba-tiba.


Raina tertawa terpingkal mendengar kata-kata Adry.


"Kenapa? Apakah itu salah? Kau berhak hidup bahagia dengan istri dan calon anak kita nantinya. Aku dan Leon juga berhak bahagia dengan calon suamiku entah siapa nantinya."


"Ayolah, Adry kau tidak perlu seserius ini dalam menanggapi satu hal. Hubungan kita hanya bisnis semata. Setelah perjanjian selesai maka hubungan kita juga akan selesai. Bukan begitu maumu?" ungkap Raina. Perkataan wanita itu mengganggu pikiran Adry dan membuat emosinya naik.


Raina lalu bangkit. Membetulkan ikat piyamanya. Adry menatap kakinya yang panjang dan langsing itu.


"Besok Leon akan operasi, aku akan tidur terlebih dahulu agar bisa bangun lebih awal lagi mempersiapkan semuanya. Jika kau masih menyelesaikan pekerjaanmu, silahkan."


"Tunggu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Adry.


Raina mengangkat dua alisnya ke atas. "Ingin mengatakan apa?"


Adry lalu menarik tubuh Raina sehingga jatuh dalam pangkuannya. Dia menatap Raina intens.

__ADS_1


"Aku ingin kau memperberikan DP padaku sebelum aku mendapatkan semuanya," kata Adry menyambar bibir merah wanita itu.


__ADS_2