
"Mungkin dia belum bisa karena dia belum menikah setelah menikah nanti juga bisa masak dan mengurus rumah," ujar Raina menengahi pembicaraan.
"Mengapa wanita harus dituntut untuk bisa pergi ke dapur dan mengurus rumah padahal dia juga bisa melakukan pekerjaan lain yang hebat. Urusan rumah itu bisa diberikan pada pelayan dan kita bisa membayarnya. Masalah selesai." Karina tidak tahan untuk menahan perkataannya kali ini.
"Kau tahu mengapa? Karena wanita sumber kehidupan dalam satu rumah. Jika dia baik maka semua akan baik. Makanan itu terlihat sepele tetapi itu bentuk cinta kasih wanita untuk memberikan asupan makanan yang terbaik buat keluarga. Mereka mengerjakan sesuatunya dari tenaga yang bersumber dari makanan yang diberikan oleh istri atau ibunya."
"Seperti makanan ini. Raina bisa saja menyuruh koki untuk membuatkannya tetapi tidak, dia lebih suka memasaknya untuk keluarganya. Dia merasa senang ketika semua orang memakannya hingga habis."
"Kak Adry, merasa perjuangan istrinya di rumah dalam mengurus keluarganya itu sangat luar biasa. Hal itu membuatnya merasa dihargai dan dihormati sebagai suami, 'serta di perhatikan kebutuhannya.' Rasa cinta itu akan semakin dalam dan tumbuh sehingga dia merasa senang ketika makan di rumah dari pada makan diluar.''
"Kau benar, walau seenak apapun makanan di luar tetap lebih nikmat makanan buatan istri. Kita akan merindukannya jika sedang pergi beberapa hari saja dari rumah," sela Adry.
Pandangan beralih kepada Adry. Raina mengusap lengan suaminya dengan penuh cinta.
"Jika bisa membeli makanan atau menyewa pelayan mengapa harus repot mengurus rumah. Kalau begitu serahkan sekalian suamimu pada pelayanmu, dia lebih becus mengurus suamimu kelak. Lalu berikan juga anakmu untuk diurus sepenuhnya oleh baby sitternya karena dia pengganti ibu dari anakmu dan kau hanya angin lalu saja tidak ada dihati mereka. Mereka memanggilmu ibu tetapi di hati anakmu, pelayan itulah ibu mereka," ungkap tajam Roy.
Roy menatap tajam pada Karina. Membuat wanita itu menghentikan gerakannya dan menelan ludah dengan sulit. Dirinya bahkan tidak bisa bernafas karena perkataan Roy mengintimidasinya.
Raina tertawa canggung. "Maaf, jika suasana menjadi seperti ini. Roy hanya ingin mengeluarkan pendapat pribadinya."
Karina lalu mengambil gelas minumnya dan meminumnya sedikit dengan gerakan cantik, dia lalu memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Roy.
"Well, untungnya aku belum ingin menikah dan tidak ingin berhubungan serius dengan seorang pria. Seperti yang kau katakan tadi, pekerjaan itu tidak bisa kulakukan maka akan kulakukan yang aku bisa. Mengejar karir. Jika ada pria yang mencintaiku, dia harus menerima diriku apa adanya. Jika tidak... aku tidak akan menangisi dan menyesali kepergiannya." Karina mengatakannya dengan halus dan lembut.
Dia dan Roy saling memandang dengan sengit.
"Kurasa apa yang dikatakan Karina benar. Kita sebagai pria tidak bisa memaksa seorang wanita untuk melakukan apa yang kita inginkan " Mitch menyambung.
"Kita sudahi saja perdebatan masak memasak ini. Aku punya dessert mangga yang pasti akan kalian suka."
"Wow, sepertinya enak," ujar Mitch.
Mereka lalu menikmati desert itu sembari bercakap-cakap. Roy kembali dalam mode mendengarkan. Memandang ke sekitar tanpa mengatakan apapun. Sesekali dia melirik Karina yang sedang tertawa lalu membuat wanita itu terdiam canggung.
Akhirnya makan malam itu selesai juga. Karina bisa bernafas lega untuk saat ini.
***
__ADS_1
Panas sinar matahari membakar kulit Karina yang sedang berjemur di pantai. Mitch baru saja keluar dari lautan dan air memercik dari belakangnya.
Dia lalu menghempaskan tubuhnya di tikar yang membentang di sebelah Karina. Pria itu mengambil air es dan meminumnya lalu berbaring menyamping menghadap wanita itu.
"Pulau ini sangat tenang," kata Karina tetap berbaring menelungkup. Dia memakai bikini yang memperlihatkan bentuk tubuh sempurnanya.
"Ya, aku bisa berpikir jernih di sini."
"Apakah kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan ke depannya?" tanya wanita itu lagi.
"Aku akan mengajukan proposal keberatan pada pengadilan atas vonis yang mereka berikan untukku. Kau tahu benar jika aku tidak melakukannya tetapi mantan istriku, dia berbohong pada publik. Itu adalah pencemaran nama baik dan aku harus memperbaiki semuanya."
"Kontrak kerja samamu dengan perusahaan entertainment diputus secara sepihak tanpa mau mendengarkan apa yang kau katakan. Aku mendukung langkahmu ini Mitch. Kau harus bangkit lagi dan melawan ketidak adilan ini."
"Aku beruntung memiliki kawan sepertimu yang memberi dukungan di saat aku membutuhkannya."
"Selain itu kau artis kami, jika kau tidak menghasilkan aku tidak akan mendapatkan bonus," goda Raina tergelak.
"Sial!"
"Bagaimana pendapatmu tentang Roy?" tanya Mitch.
"Tetapi dia pria yang tampan dan menarik."
"Ya, aku mengakuinya tetapi dia adalah orang yang kaku. Aku tidak menyukainya."
"Sepertinya dia memperhatikan dirimu sewaktu kita makan malam."
"Kata-katanya sangat menyebalkan."
"Sepertinya dia pria yang kurang bercinta," ujarnya.
Karina memutar bola matanya malas. "Itu bukan urusanku."
"Sungguh? Tidak kau ingin bersama dengan seorang pria di pulau ini dan menghabiskan malam dibawah bintang dalam dekapannya?"
"Aku sudah menghabiskan malamku untuk menemanimu."
__ADS_1
"Orang kira kita adalah Friends with benefit mereka memang benar tetapi kita tidak pernah melakukan lebih di tempat tidur."
"Aku hanya menemanimu menangisi mantan istrimu saja," kata Karina.
"Aku tidak menangisinya."
"Ayolah, kita tahu yang terjadi. Kau diluar nampak begitu kuat tetapi di dalam kau itu lembek seperti wanita." Pernyataan Karina membuat Mitch terdiam.
"Kehilangan seseorang yang kita cintai karena penghianatan itu sangat sakit Karina. Apalagi itu di dalam rumah tangga yang telah kami bangun selama bertahun-tahun." Kalimat yang diucapkan oleh Mitch terasa berat.
"Karena itu aku tidak mau menikah, hanya akan merepotkan diriku saja. Merasa saling cinta dan akhirnya berpisah dan saling membenci karena ego masing-masing. Itu hal rumit untukku."
"Aku makin membuatmu ketakutan karena sebuah hubungan? Kadang aku berpikir apakah kau itu penyuka sesama jenis?" tanya Mitch yang jarang sekali melihat Karina bersama seorang pria kecuali dirinya.
"Aku masih normal hanya saja lelah dengan hubungan yang selalu tidak berhasil."
"Kalau begitu kencanlah, buat harimu menyenangkan di Heaven of Love," saran Mitch.
"Aku tidak melihat ada pria yang menarik di sini."
"Kukira Roy lebih dari cukup dari kata menarik." Mitch menaikkan kedua alisnya menatap ke arah Karina.
"Jika sedang tidak bertugas mungkin iya, tetapi di sini sebisa mungkin aku menghindarinya. Hanya butuh peta tempat ini dan aku bisa menyelesaikan tugas lalu kembali ke USA."
"Dia pria yang dingin dan kaku," kata Karina.
"Dia pria yang panas di tempat tidur dan akan membuatmu tergila-gila jika kau mengenalnya dengan baik."
Karina memandang Mitch tidak percaya. "Aku pria dan aku tahu orang dari jenisku."
Tiba-tiba Mitch bangun dan memanggul tubuh Karina seperti beras dan berlari membawanya ke laut.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Karina.
"Aku hanya kau ingin menikmati alam ini, kau hanya tiduran saja sepanjang waktu. Kita lupakan semuanya."
Mereka lalu bermain di pantai dengan canda tawa seperti sepasang kekasih. Sedangkan dari jauh Roy melihatnya melalui kaca pembesar.
__ADS_1
"Dia sama seperti kebanyakan wanita murahan yang tidur bersama dengan pria yang bukan pasangannya sepertinya dia memang selingkuhan Mitch sesuai dengan pemberitaan di media massa." Pikir Roy.