
Leon sangat senang melihat Adry datang. Senyum lebar menghiasi pipinya yang sudah mulai berisi semenjak berada rumah sakit. Entah vitamin apa yang diberikan oleh pihak rumah sakit namun bobotnya memang mulai naik signifikan.
"Wah, Om Adry akhir datang, aku sangat merindukanmu. Untung ada Om Jo yang datang menggantikan Om disini," pekik girang Leon membuat Adry menatap tajam ke arah Raina dan wanita itu terlihat tidak peduli.
"Om membawakanmu makanan," kata Adry lesu. Beberapa hari ini Raina tidak pernah mempermasalahkan ketidakhadirannya di rumah sakit, dia bahkan terlihat sumringah ketika bertemu dengannya di malam hari. Dia kini tahu alasannya selama ini Raina bermain cantik dibelakangnya. Apakah dia marah? Sangat dan terlalu marah.
"Kata Pak Dokter aku boleh pulang besok karena keadaanku sudah membaik," cerita Leon.
"Itu bagus," jawab Adry menyisir rambut Leon dengan tangannya sendiri.
"Om, akan sebentar ke sini atau lama?" tanya Leon.
"Sampai sore," terangnya.
"Yeay!" Leon menggerakkan tangannya seperti orang yang sedang menari.
"Apa kau sudah makan?" tanya Adry.
"Sudah hanya saja aku bosan dengan masakan rumah sakit." Adry lalu mengeluarkan kotak dari bungkus makanan yang dia bawa.
"Om, membawakanmu pizza paperon dengan taburan keju yang banyak," ucap Adry dengan senyum lebar.
"Wow, asik. Ayo buka, Om, aku mau makan!" teriak Leon antusias.
"Mom selalu melarangku memakan pizza yang banyak."
"Kenapa?"
"Bikin kanker," ucap Leon sembari mengigit Pizza yang diberikan oleh Adry. Mulutnya kini penuh dengan Pizza.
"Bagaimana bisa Pizza buat kanker," tanya Adry tidak paham.
"Kantong kering," ungkap Leon dengan tertawa terpingkal.
Adry menoleh menatap ke arah Raina dan wanita itu malah memalingkan wajah ke arah lain. Seburuk itukah nasibnya hingga untuk memakan Pizza saja mereka tidak bisa membelinya.
__ADS_1
Leon mulai bercerita tentang kehidupannya dulu, dia mulai akrab dengan Adry dan seperti menganggapnya Ayah. Dia bahkan menceritakan tentang Bullyan yang dilakukan oleh temannya karena dia tidak pernah ikut bermain bersama mereka. Sesuatu yang tidak pernah Leon ceritakan pada Raina sebelumnya.
"Lalu kau sedih dengan yang mereka katakan?" tanya Adry.
"Bukan Bullyan tentang penyakitku yang membuatku sedih tetapi tentang ibu." Raina lalu menatap Leon, dia sedari tadi memilih duduk sendiri di sofa melihat televisi. Sedangkan Adry duduk di sebelah Leon, menyuapinya Pizza.
"Memang apa yang mereka katakan tentang Ibu," tanya Adry penasaran.
"Mereka mengatakan jika Ibu bukan wanita baik-baik karena melahirkanku tanpa suami. Aku hanya anak haram." Leon menundukkan wajahnya. Riana lalu berjalan mendekat ke arah Leon dan duduk berseberangan dengan Adry. Dia memeluk Leon dengan erat. Air mata sempat keluar untuk sesaat tetapi dia buru-buru menghapusnya.
"Mengapa kau tidak mengatakannya pada Ibu?" tanya Raina.
"Aku tidak mau melihat Ibu menangis lagi. Nah, betul kan Ibu menangis," kata Leon melihat jejak air mata di pelupuk mata Ibunya.
"Seharusnya kau menceritakan kesedihanmu," kata Raina.
"Kata Nenek jangan membebani Ibu dengan masalahku. Ibu sudah lelah bekerja hingga malam, jadi aku tidak ingin melihat ibu sedih lagi." Dari kecil Leon memang sudah dipaksa bersikap dewasa. Ibu Raina yang sering menasihatinya jadi dia tumbuh menjadi anak yang pengertian dan pandai membawa diri.
Adry menghembuskan nafas keras.
"Ayah tidak sayang padaku, jika dia sayang pasti akan menemaniku berobat seperti Om Adry. Saat ini aku benar-benar membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya."
Raina merasa tidak enak mendengarnya. Dia melihat ke arah wajah Adry yang mulai memucat.
"Leon kau tidak boleh mengatakan hal itu, Ibu tidak pernah mengajarimu tentang kebencian."
"Maaf Ibu tetapi aku sangat benci dengan orang yang disebut ayah."
Raina menatap bola mata hijau milik Adry seperti sedang mengucapkan kata 'Maaf'. Adry tersenyum masam sembari menganggukkan kepalanya seolah ingin mengatakan jika aku baik-baik saja.
Perkataan Raina tadi dan perkataan Leon membuat dada Adry merasa penuh dan seakan. Dia seperti butuh tambahan oksigen karena ruangan ini tidak tersedia oksigen yang cukup baginya. Sebaiknya dia keluar dari ruangan ini dan mencari udara segar. Pikirnya.
"Namun, aku akan memenuhi janjiku pada Om," kata Leon membuat Adry yang hendak turun dari tempat tidur mengurungkan niatnya.
"Janji apa?" tanya Adry.
__ADS_1
"Janji... kalau aku ... ." Leon menatap ke arah Raina. Dia seperti sedang ragu mengatakannya takut jika ibunya tidak setuju dengan keputusan ini.
"Janji untuk memanggil Ayah pada Om," kata Leon lirih menatap kembali ke arah pria yang dia kira hanya sebagai ayah sambungnya saja.
Mendengar hal itu membuat Adry menutup kelopak matanya karena terharu.
"Bolehkah, Ayah?" tanya Leon takut. Setengah mati Adry menahan gejolak perasaan dalam hatinya. Dia mulai membuka kembali matanya yang telah berembun. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Dengan gerakan cepat dia memeluk tubuh Leon. Ingin rasanya dia berteriak, "Aku ayahmu," namun perkataan itu hanya sampai di tenggorokannya saja.
Tubuhnya bergetar, satu tangannya berada di belakang kepala Leon dan satunya lagi menekan pelupuk matanya agar air mata tidak keluar di depan anaknya.
"Coba ucapkan sekali lagi, aku sudah menantikan ini selama bertahun-tahun lamanya!" pinta Adry. Walau Leon tidak tahu jika dia adalah ayah kandungnya tetapi ucapan Ayah itu membuat hatinya terasa tenang.
"Ayah," ulang Leon.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara serak dan gemetar.
Raina menyeka buliran air mata yang hendak keluar dan Leon terlihat bingung dengan reaksi Adry yang terasa berlebihan untuknya. Namun, dia lalu merasa kehangatan dari pelukan seorang Ayah. Dia lalu memeluk balik Adry.
"Karena kau sudah memanggilku Ayah aku akan mendaftarkan mu sebagai anakku," ungkap Adry. Menarik nafasnya dengan berat.
"Berarti nanti aku bisa mengatakan pada semua orang jika aku sudah punya Ayah?"
"Tentu saja, karena sekarang aku adalah Ayahmu, jadi jangan anggap kau hanya punya Ibu di sisimu karena ada aku yang akan terus menemanimu hingga kau tidak membutuhkan aku lagi," ujar Adry sakit.
"Aku akan terus menganggapmu sebagai ayahku, aku janji," kata Leon.
"Walau nanti akan datang ayah-ayah baru yang lain?" sindir Adry pada Raina. Raina memalingkan wajah ke samping.
"Memang akan ada ayah lain yang datang?" tanya Leon tidak mengerti.
"Mungkin saja Ibumu merencanakan mengganti Ayah dengan Ayah lain, seperti Om Jo misalnya," ujar Adry.
"Kau jangan memancing masalah!" ucap Raina sebal.
"Aku tidak memancing masalah hanya saja mengatakan apa yang kau katakan tadi!"
__ADS_1
"Aku tidak mengerti mengapa kalian bertengkar, tidak akan ada Ayah lain lagi, aku janji," ucap Leon membuat Raina dan Adry berhenti bertengkar.