Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Mewujudkan Impian Suami


__ADS_3

Raina menahan nafas ketika masuk ke dalam ruangan Janeta. Hawa dingin menerpa kulitnya yang terbuka membuat bulu roma meremang tanpa sebab. Dia menelan Salivanya yang dengan susah payah menunggu reaksi dari sepasang mata yang menatapnya tajam.


Tubuh itu terlihat kurus kering padahal baru beberapa hari saja dia sakit atau memang telah kurus karena mereka tidak pernah bertemu selama dua tahun ini. Rambutnya yang cokelat dan tebal serta selalu terlihat halus kini telah berwarna putih keperakan entah itu karena cat rambut atau memang aslinya. Model rambutnya yang selalu pendek dan bergaya kini pun telah berubah menjadi lepek dan tipis. Janeta terlihat lebih tua dari usia.


Belum lagi wajahnya yang tidak simetris lagi karena menderita stroke itu makin membuat rupa wanita itu bertambah menyedihkan.


Kakinya terasa berat untuk melangkah maju, ingin rasanya dia berlari menjauhi wanita itu. Namun, keinginan kuatnya adalah membuat Adry bahagia. Dia tahu kebahagiaan suaminya adalah bisa hidup rukun bersama dengan keluarga besarnya tanpa harus meninggalkan keluarga kecilnya.


Raina tidak boleh egois memikirkan diri sendiri. Adry bisa berkorban meninggalkan semuanya demi dia. Apakah dia tidak bisa menekan ego dan perasaannya untuk mendekati sang mertua yang sedang terluka lahir dan batin? Dia harus bisa menjadi penyembuh untuk semuanya.


"Kau, untuk apa kau kemari, hah! Apakah untuk menertawakan penderitaan ku!" teriak Janeta dengan suara yang tidak jelas karena sebagian tubuhnya menderita kelumpuhan.


"Janeta bersikaplah yang baik pada menantu kita. Dia berniat baik untuk mengunjungimu," timpal Carl tidak senang.


"Cih! Dia hanya ingin cari muka saja," ujar wanita itu.


"Janeta... apa kau belum sadar juga setelah apa yang terjadi padamu," cetus Carl.


"Itu semua karena dia... Dia penyebab dari semua masalah keluarga kita," tunjuk Janeta pada Raina.


Tubuhnya miring dan lebih rendah sebelah dan salah satu tangannya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Dia sudah bukan seperti Janeta yang cantik dan anggun yang dia kenal, dia seperti wanita pesakitan dan tertekan jiwanya.


Andaikata Adry melihat bagaimana keadaan ibunya pasti pria itu akan sedih. Dia tahu bagaimana Adry sangat mencintai ibunya. Namun, dia menekan perasaannya sendiri karena perasaan kecewa yang teramat dalam.


"Ibu aku minta maaf," akhirnya kata itu terucap dari bibir Raina.


"Ha... ha... ha... , kau lihat Carl, dia meminta maaf padaku, dia wanita yang terlihat lembut seperti anjing penurut tetapi kau harus ingat jika dia sebenarnya adalah seekor serigala yang haus harta."


"Jika dia haus harta maka dia tidak akan mengajak Adry meninggalkan semuanya," terang Carl tenang.


"Ibu terserah apa tanggapan Ibu padaku. Aku tidak peduli. Toh, kedatanganku kemari bukan sekedar untuk meminta maaf. Aku ingin suamiku kembali bisa memeluk ibunya lagi, ibu yang Adry kenal penuh cinta dan kasih."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Raina, Janeta melengos ke samping.


"Tidak usah bersandiwara sok baik padaku! Aku tahu bagaimana wujudmu itu," ucap Janeta.


"Apapun yang akan ibu katakan itu tidak akan menyurutkan niatku untuk melakukannya. Ini ada makanan yang kubawa, mungkin Ibu bisa menyukainya. Saat ini, mungkin ibu belum bisa menerimaku. Namun, aku yakin suatu hari ibu akan menerimaku sehingga keluarga kita bisa berkumpul dengan bahagia."


Janeta terdiam. Sedangkan Carl tersenyum mendengar semua yang Raina katakan.


Raina meletakkan bekal makanan di meja sofa dalam kamar itu lalu kembali lagi ke depan Janeta.


"Aku harus pergi dulu, mungkin anak-anak dan suamiku sedang menungguku di hotel. Aku harap ibu bisa lekas pulih dan membaik."


"Ayah aku pamit," ucap Raina.


"Hati-hati di jalan, Nak," ucap Carl.


"Ibu besok aku akan kemari lagi untuk menemanimu, itu jika kau mengijinkannya."


Raina mengatupkan bibirnya rapat dan tersenyum lalu menepuk ke dua pahanya baru membalikkan tubuh keluar dari ruangan itu.


Dia lalu menutup pintu ruangan itu lagi setelah keluar dari tempat keramat yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Dia memegang dadanya lalu tersenyum dan melangkah pergi dengan kaki yang ringan. Ini tidak seburuk yang dia bayangkan. Besok pasti akan lebih baik. Pikir Raina antusias.


Raina berjalan melewati koridor rumah sakit tidak sadar jika ada yang melihat dan memanggil namanya.


"Raina!" teriak Jonathan berlari mendekat ke arahnya. Dia memeluk Raina dengan erat. Lalu melepaskannya untuk melihat keadaan wanita itu.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Jonathan cemas.


"Ya, seperti yang kau lihat."


"Aku sangat khawatir padamu ketika mendengar berita ini. Kenapa yang tertembak bukan Adry saja malah Roy," ujar pria itu membuat Raina memukul keras lengannya.

__ADS_1


"Ih, kau itu mendoakan yang jelek saja pada suamiku."


"Kalau iya kan, aku bisa berharap jadi suamimu karena aku masih menunggu jandamu," lanjut Jonathan membuat Raina menggelengkan kepala.


"Kau sudah diberi keuntungan besar dari resort yang dikelola suamiku, malah mendoakan jelek. Keterlaluan," ucap Raina meneruskan perjalanannya. Jonathan mengikuti langkah kaki Raina.


"Jangan diambil hati, aku hanya bergurau saja kok," ujar Jonathan.


"Gurauanmu tidak lucu," ungkap Raina. "Betulkan Lily?" tanya Raina. Lily hanya tersenyum saja. Biasa melihat ucapan nakal bosnya itu.


"Kalian kemari berdua saja atau ada yang lain? Mau menengok kami atau hanya untuk melihat perkembangan bisnismu? Sekedar bersimpati atau memang peduli?" ucap pedas Raina.


"Ish, kata-kata mu kejam sekali, Raina." Jonathan memeluk bahu Raina tetapi wanita itu menyingkirkannya.


"Kami memang ingin sekali tahu keadaan kalian terutama Pak Roy. Kami harap dia dalam keadaan baik," terang Lily.


"Keadaannya baik sekali karena selama dia sakit kekasihnya menunggu dia selama dua puluh empat jam," tutur Raina.


"Kekasih? Memang Roy bisa mencintai wanita,aku kira dia itu ikut spesies pelangi," celetuk Jonathan yang tidak tahu masa lalu Roy.


Raina yang mendengarnya menonyor kepala sahabatnya itu. "Kalau bicara itu jangan asal. Roy itu pria normal yang tahu mana wanita unggul dan mana wanita pasaran," bela Raina.


"Tidak seperti kau yang selalu saja menerjang semua wanita yang ada dan mengatakan jika mereka semua adalah calon istrimu," lanjut Raina.


Lily yang mendengar perkataan Raina menahan tawanya. Semua yang dia katakan memang benar adanya dan hanya Raina yang berani mengatakannya di depan Jonathan. Lily selalu senang bila berdekatan dengan wanita itu. Ada energi positif yang terpancar dari tubuhnya.


"Aku jadi penasaran seperti apa calon istrinya," ujar Jonathan memegang dagunya.


"Kalau begitu ayo kita ke kamar Roy dan memergoki apa yang sedang dia lakukan bersama kekasihnya. Kalau tadi pagi aku melihat dia sedang tidur berpelukan dalam satu ranjang dengan wanita itu.


"Wow, aku jadi penasaran untuk melihatnya," Jonathan. Mereka akhirnya melangkah menuju kamar Roy.

__ADS_1


Sesampainya di sana pintu ruangan itu langsung dibuka. Jonathan langsung membuka mata melihat sebuah pemandangan panas di depan matanya.


__ADS_2