Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tidak Boleh


__ADS_3

"Apakah tidak boleh?" tanya Adry.


"Bukankah seharusnya kau berada di ...," bibir Raina langsung saja dilumat oleh bibir Adry. Raina lalu mendorong tubuh Adry. Dia bangkit dan meninggalkan Adry menuju ke kamarnya.


Raina hampir menutup pintu ketika tangan besar Adry mencegahnya. Dia mendorong pelan pintu itu tetapi Raina menahan dengan bobot tubuh.


"Raina, aku ingin bicara baik-baik bukan bertengkar," ujar Adry.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" ucap Raina sakit.


"Raina kau tidak ingin Leon terbangunkan karena mendengar suara kita yang sedang bertengkar?" ucap Adry tegas dan berwibawa.


"Jika kau ingin dia tidak terbangun maka pergilah. Aku tidak ingin berbicara denganmu saat ini!" ucap Raina.


"Kenapa?" tanya Adry dengan dahi yang menyentuh dinding pintu.


"Kenapa? Karena hubungan kita selesai setelah Nita kembali. Kau menjadi suaminya dan aku hanya seorang wanita bayaran untuk hamil anakmu. Kau tinggal menunggu hasilnya saja," ucap Raina marah.


"Raina!" bentak Adry tidak sabar. Dia lalu mendorong pintu keras hingga tubuh Raina terdorong ke depan dan jatuh ke lantai.


Belum sampai tubuh Raina menyentuh lantai tangan Adry menarik tangan Raina keras sehingga naik dan masuk dalam pelukannya.


"Raina, aku hanya butuh waktu untuk mengatakan semuanya pada Nita."


"Kau bohong!" ucap Raina.


"Itu benar, aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh."


"Kau akan menjelaskan apa padanya!" Raina menatap Adry.


"Aku akan jujur tentang Leon dan tentang hubungan kita."


"Bagaimana jika Nita tidak setuju? Apakah kau akan berubah pikiran, kau akan ambil Leon dan hidup bersama dengan Nita membuangku seperti sampah atau kau bahkan akan membunuhku agar semua rencanamu berjalan baik? Kak Adry sekarang aku mengerti jalan pikiranmu!"


"Dari mana kau memperoleh pikiran buruk itu? Tidak pernah terbesit sedikit pun untuk meninggalkanmu. Bagiku kau adalah separuh hidupku."


"Separuhnya lagi untuk Nita, begitu kan?" Adry menutup matanya meredakan emosi yang mulai membuat darahnya mendidih. Nita sama sekali tidak pernah membantah ucapannya dan Raina yang baru bersamanya satu bulan sudah berani melawannya.


"Raina jaga ucapanmu!"

__ADS_1


"Kenapa? Memang itu kenyataannya. Kau hanya membutuhkan anak bukan diriku, separuh itu artinya anakku bukan jiwamu yang berisikan aku didalamnya. Tidak aku sudah tidak bisa mempercayaimu!"


"Raina, aku sangat mencintaimu. Kau tidak perlu meragukannya."


"Jika kau mencintaiku maka Nita itu mendapatkan apa?"


"Kau itu membuat sesuatu sulit bukannya menemukan jalan terang untuk menyelesaikan urusan kita."


"Kalau begitu jawab aku. Kau mencintaiku atau Nita?"


"Posisi kalian berbeda, rasa cinta yang kurasakan juga berbeda."


"Kau lihat, kau tidak bisa memilih diantara kami berdua. Kalau begitu aku yang ambil keputusan. Aku akan pergi dengan Leon dari sini secepatnya."


"Kau tidak akan melakukan itu karena paspormu ada padaku!"


"Itu tidak penting, yang penting adalah kebersamaanku dengan Leon, kau hanya pria yang sekedar mampir saja lalu pergi lagi. Sebelumnya hidupku menderita sedikit saja, kini setelah kau datang aku bahkan menjadi depresi dan frustasi."


"Raina!" seru tertahan Adry kesal.


"Kenapa kau marah jika mendengar aku pergi!"


"Aku punya surat perjanjian denganmu. Kau tidak pergi begitu saja sebelum perjanjian itu selesai."


"Raina, kau?"


"Terus terang Kak...."


"Jangan panggil aku Kak, karena aku bukan kakakmu!" seru Adry tertahan, kesabarannya sudah mulai menipis.


"Lalu kau apaku?" tanya Raina balik.


"Aku suamimu," ujar Adry.


"Bisakah kau mengatakannya pada istrimu jika aku istrimu atau kedua orangtuamu. Jika iya aku akan menurut padamu, jika tidak, aku tidak ingin jadi simpananmu!" ucap Raina.


"Sudah kukatakan jika aku butuh waktu untuk menjelaskan semuanya pada Nita dan orangtuaku," jawab Adry.


"Aku akan memberikanmu waktu, satu jam, dua jam, satu hari, satu Minggu atau satu bulan, atau mungkin satu tahun? Aku akan memberikanmu waktu hingga kesabaranku habis. Masa itu, aku tidak bisa memastikannya Mungkin detik kau pergi dari sini kesabaranku juga ikut pergi," ucap Raina lirih tapi menusuk.

__ADS_1


"Raina kau tidak mencoba untuk mempermainkan aku kan?" tanya Adry.


"Kau yang mempermainkan aku, aku hanya berusaha keluar dari zona tidak nyamanku," ungkap Raina.


"Zona tidak nyaman bagaimana?"


"Kau belum mengerti juga atau pura-pura tidak mengerti?" sarkas Raina berjalan ke arah tempat tidur dan naik serta berbaring.


"Jelaskan padaku!"


"Aku sudah lelah, kau pikir saja sendiri."


"Raina...."


"Pulanglah kembali ke rumahmu, disini kau hanya sebagai tamu saja walau aku tahu itu pemiliknya," sindir Raina lalu menutup dirinya dengan selimut dan memunggungi pria itu.


Adry yang melihatnya memukul udara dengan kesal. Dia selama ini tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun. Sedangkan Raina wanita yang baru dia kenal selama sebulan telah berani menyudutkannya.


Namun, dia bisa melihat pandangan terluka wanita itu. Dia tidak tahan dan ikut merasakannya.


Adry lalu ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Raina dari belakang. Kepalanya di julurkan agar bisa melihat wajah Raina. Tidak, Rainanya menangis. Adry lalu memegang dagu Raina, namun wanita itu melawan dengan gerakan cepat dan sedikit memaksa. Adry membuat Raina melihat ke arahnya.


"Jangan menangis katakan apa yang kau inginkan asal jangan menangis lagi," ucap Adry.


Raina menyingkir tangan Adry yang berada diwajahnya namun tidak bisa hingga Raina memukul lengan dan dada Adry agar melepaskannya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya tubuh Adry kini berada di tubuhnya dan menekan hingga masuk ke dalam kasur yang empuk.


Adry lalu memeluknya erat. "Ibu anakku tidak boleh menangis, katakan apa yang kau inginkan."


Untuk sesaat Raina menangis dalam pelukan Adry. Pria itu pintar sekali mengambil hatinya yang sedang kacau dan gundah semua itu terasa manis hingga membuatnya terjerat pada cinta Adry semakin dalam.


"Kau belum mengerti juga!" ucap serak Raina.


"Tidak, aku bukan pria yang mudah mengerti perkataan wanita. Kumohon jelaskan padaku!" Pria itu mengecup wajah Raina dan menjilati bekas tangisnya membuat Raina geli dan terharu. Kemarahannya seketika hilang.


"Pergilah, aku ingin sendiri," usir Raina.


"Kau ingin mengusir suamimu?"


"Kau punya istri lain untuk kau temani, aku hanya tempat persinggahanmu sementara saja," ucap Raina sakit.

__ADS_1


"Semenjak kapan aku menganggapmu tempat persinggahan. Kau ada di dalam sini," tunjuk Adry ke dadanya.


"Semenjak kau menjadikan aku tempat pelampiasan nafsu lalu pergi begitu saja karena takut ketahuan oleh istrimu. Di situ aku sadar bahwa aku bukanlah istrimu, hanya budak se.... KS mu saja, benarkan? Karena jika aku adalah istrimu, kau tidak akan pergi dengan ketakutan. Kau bisa mengatakan pada istrimu yang lain bahwa kau sedang bersamaku. Tidak kan? Kau tahu mengapa? Karena kau sangat mencintainya dan tidak ingin melukai hatinya tetapi kau tega mengorbankan diriku. Apakah itu yang namanya cinta? Cinta tidak akan menyakiti orang yang dicintainya."


__ADS_2