Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tergoda


__ADS_3

Setelah menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh aparat dan juga setelah mendapatkan keterangan dari pemadam kebakaran bahwa kebakaran itu, sepertinya bersumber dari tegangan arus pendek.


Roy dan Sersan Andika tidak sependapat dengan pihak Kepolisian, ini ada unsur kesengajaan ada bau bensin yang menyengat pada satu sisi bangunan. Akhirnya, penyelidikan akan dilanjutkan besok sedangkan api untungnya bisa segera di padamkan sehingga hanya rumah Karina saja yang terbakar.


Roy lalu membawa Karina ke kediaman keluarga Quandt. Sepanjang perjalanan, Karina hanya terdiam tidak mengatakan sepatah katapun.


Sesampainya di sana Roy di sambut oleh kepala pelayan yang masih mengurus rumah itu. Semenjak Nita meninggal dunia tidak ada lagi yang datang ke sana. Carl dan Janeta pun tidak tinggal lagi di rumah itu.


Sebenarnya Roy enggan untuk tinggal di sana namun Carl memaksanya. Dia ingin rumah itu ada yang menempati. Andaikata Roy membawa Karina ke apartemennya itu sama saja membuat luka Roy kembali terbuka. Mengingat banyak kenangan yang tersimpan bersama wanita itu hingga akhirnya dia menemui kematian.


"Tuan kamar yang Anda pesan sudah saya rapikan dan siap untuk digunakan," ucap kepala pelayan itu.


"Terimakasih, Tuan Lee," kata Roy. "Kau boleh pergi tapi bawakan semua barang kami ke kamar."


"Baik Tuan," ucap pelayan itu menyuruh bawahannya untuk membawa semua barang itu ke kamar yang dituju.


"Kau akan tinggal di kamar tamu lantai bawah sedangkan aku tinggal di kamarku di lantai atas," kata Roy ketika mereka memasuki rumah itu.


"Ini rumahmu?" tanya Karina.


"Bukan, ini rumah keluarga Quandt," terang Roy.


"Tetapi kau adalah bagian keluarga mereka."


"Bagian belum tentu memiliki." Roy melihat ke arah lain tidak senang dengan pembicaraan ini.


Karina terdiam, menunduk. Pikirannya kembali ke masalah kebakaran tadi.


"Ayo ikut aku," ajak Roy melangkah ke depan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Karina tetap berada di tempatnya. Tubuh wanita itu memang berada di sini tetapi hatinya entah sedang ada di mana. Mungkin, dia masih syok dengan semua yang terjadi. Sayangnya, Karina tidak mau membagi apa yang dirasakannya.


Roy jadi tidak tega jika membiarkan Karina tidur sendiri. Dia tergoda untuk mengubah pikirannya. Wanita itu sudah dirundung serangkaian masalah selama mereka bertemu dan mungkin ini puncak dari masalah itu bahkan mungkin ini baru awalnya saja.


Dia akan membawa wanita itu untuk tinggal di kamarnya saja. Nampaknya, itu lebih baik.

__ADS_1


"Kau tinggal di kamarku saja ya?" tawar Roy. .


"Hah!" Karina terperanjat dengan permintaan Roy.


"Kau nampak tidak baik-baik saja. Aku khawatir dengan kesehatanmu jika kau dalam keadaan tertekan dan itu mempengaruhi penyakitmu?" Karina menatap Roy dengan lekat.


"Kita belum menikah lalu tinggal satu kamar."


"Bukankah kau open mind karena sudah terbiasa hidup di luar."


"Ini Indonesia bukan Amerika. Apa kata orang jika kita tinggal satu kamar?"


"Tidak ada orang yang akan tahu Karina kau terlalu membesarkan masalah."


Roy lalu menarik tangan Karina ke lift menuju kamarnya yang ada dilantai tiga mansion ini.


"Roy," panggil Karina keberatan.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Karina menuruti perkataan Roy. Mereka lalu masuk ke dalam kamar yang ada dilantai tiga rumah itu.


Kamar yang luas tidak begitu mewah namun elegan dan berkarakter. Hanya ada warna abu-abu dan putih dalam ruangan itu. Ada sebuah pintu kaca yang langsung mengarah ke balkon.


"Apa kau keberatan jika kita tidur satu ranjang? Aku tidak mendengkur, rasanya tidak mendengkur," ucap Roy ragu.


Karina tertawa kecil. Roy senang melihat tawa itu. "Silahkan saja kau mau mendengkur, aku tidak akan mendengarnya karena sangat letih. Bahkan jika ada kereta barang lewat pun aku akan tetap tertidur."


Karina mulai mengawasi kamar itu seraya menahan sesuatu. Roy mulai menebak apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


"Kau bisa memakai kamar mandi itu," tunjuk Roy pada pintu kamar mandi. Karina menatap Roy.


"Kau bisa sekalian membersihkan diri. Lihat tubuhmu sangat kotor," ucap Roy.


Tadi Karina dan Roy memang melihat sampai ke dalam rumahnya yang terbakar mencoba menemukan benda berharga yang bisa dia temukan. Dia hanya mengambil bingkai foto besar yang bergambar dirinya bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kau mau kutemani juga atau bisa sendiri. Aku takut kau pingsan lagi di dalam sana."


"Aku akan baik-baik saja," ucap Karina.


Seorang pelayan mengetuk pintu kamar yang terbuka dia membawa masuk dua koper besar berisi pakaian Roy dan pakaian Karina. Koper itu diletakkan dekat dengan sofa.


Karina lalu pergi ke kamar mandi karena sudah tidak tahan menahan panggilan alam. Setelah itu dia langsung mandi.


Roy mendengar pancuran air menyala kemudian membuka kemejanya yang kotor lalu membuang ke tempat sampah. Baju itu sudah terkena banyak noda, pikirnya. Dia berjalan ke arah balkon tanpa atasan dan membuka pintunya. Lalu melihat jauh ke depan memikirkan semua yang terjadi.


Dia memang ingin membantu Karina dalam menyelesaikan kasusnya tetapi dia juga ingin menyingkir sejenak dari keluarga Quandt. Mencoba menentukan sikapnya ke depan.


Perkataan Janeta menghantam dirinya terlalu dalam. Setelah bertahun-tahun dia mengabdikan diri pada wanita itu dan menganggap nya ibu kandung karena ibunya sendiri tidak pernah terlihat lagi setelah pergi, Janeta benar-benar telah mematahkan hatinya. Dia merasa tersingkir dan tidak diharapkan walau Ayah dan Adry menerima dirinya dan mencintainya.


Dalam hatinya bertanya mengapa wanita yang dia kasihi selalu berakhir membenci atau meninggalkannya? Apakah dia terlalu buruk untuk dicintai.


Ibu kandungnya pergi. Lalu Nita pergi dan menikah dengan Adry setelah dia mendapatkannya lagi Nita meninggalkannya untuk selamanya, kini Janeta ingin dia pergi dari hidup mereka selamanya. Sebenarnya apa dosanya di kelahiran lampau yang membuat dia berenkarnasi dengan nasib buruk seperti ini.


Apakah kali ini jika dia mencintai Karina wanita itu juga akan meninggalkannya?


Roy melihat Karina keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat di tubuhnya. Wanita itu nampak sangat segar dengan rambut basahnya yang terurai. Masih mengalir tetesan air di leher jenjangnya. Roy menelan Salivanya dalam-dalam.


Jika dia tidak sedang dalam proses pemulihan dia mungkin akan mendekati wanita itu dan menggendongnya dan diletakkan di atas tempat tidur. Akal sehatnya mulai kacau.


Karina mulai membuka kopernya dan mengaduk isi pakaian miliknya.


"Kau mencari apa?" tanya Roy.


"Aku lupa tidak membawa baju tidurku. Mungkin tertinggal di hotel. Atau aku tidak membawanya sama sekali dari rumah. Aku lupa karena ketika akan pergi untuk menemuimu aku sedang panik."


"Baju tidur, sepertinya ada di rumah ini."


"Apakah milik Nyonya Quandt atau milik Nita?" tanya Karina curiga. Wajah Roy menegang. Itu memang baju milik Nita yang akan dia tawarkan.

__ADS_1


__ADS_2