Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Patut Diperjuangkan


__ADS_3

Hana tidak tahu harus menjawab apa? Dia menatap ke arah Roy yang baru saja berlari ke arahnya.


"Ayah, Ibu ini tidak seperti yang kalian pikirkan," jelas Roy.


Kedua orang tuanya mengernyit mendengar jawaban dari Roy.


"Lalu siapa mereka?" tanya Janeta. Raina mendekat ke arah Janeta.


"Sabar Ibu. Ibu terlalu antusias menanggapi hal ini. Mereka juga mungkin terkejut dengan kedatangan kita. Sebaiknya, kita duduk dengan tenang dulu di ruang keluarga," kata Raina menenangkan suasana.


"Kau benar, akan lebih enak kita berbicara setelah minum terlebih dahulu."


Raina memberi tanda pada Roy untuk membawa Hana dan anak-anaknya ke ruang sebelah.


Mereka lalu duduk di ruang keluarga. Para pelayan membawa minuman serta camilan.


"Bu, aku lapar," ujar Aaric.


"Kau ingin makan apa?"


"Ayam goreng," pinta Aaric.


"Bukankah kau tadi sudah makan burger di jalan?" ujar Rere.


"Kau tahu si gembul ini tidak tahan lapar," ledek Leon meninju pelan perut Aaric.


"Ibu...," panggil Aaric merajuk manja.


"Hmm, kalian ini suka sekali meledek adikmu.''


Ayu dan Bagus duduk mengapit Hana. Mereka menggenggam erat tangan ibunya. Wajah Hana sendiri tegang dan pucat seperti kertas. Dia seperti sedang menghadapi keputusan dari hakim akan kelanjutan hidupnya.


Dia kira wanita cantik yang berdiri di depan Ibu Roy adalah istri Roy. Ternyata ada pria yang mirip dengan Ayah Roy duduk di sampingnya. Lalu dimana istri pertama Roy?


"Siapa namamu, Nak?" tanya Carl membuka pembicaraan.


"Hana."


"Lalu mereka?"


"Ayu Lestari dan Bagus Pangarep," jawab Hana.

__ADS_1


"Tidak perlu tegang kami tidak akan menggigit kalian," ujar Raina tersenyum lembut.


"Bu mereka siapa?" bisik Ayu pada Hana namun masih bisa terdengar oleh semua orang.


"Kami keluargamu," jawab Carl.


"Aku kakekmu dan ini Nenekmu."


"Yang di sana itu adalah Kakak dari Ayahmu, Roy," ujar Carl. Roy hanya bisa menunduk lemas. Dia belum memberitahukan semuanya pada si Kembar jika mereka adalah anaknya. Menunggu waktu yang tepat. Semua rencananya buyar seketika. Kini dia hanya bisa pasrah dengan semua yang akan terjadi.


"Kakek, Nenek," kata Si Kembar menatap ke arah Ibunya. Hana bisa tersenyum lalu menganggukkan kepala. Tidak tahu reaksi apa yang akan diberikan oleh si Kembar.


"Nah, kan benar apa yang kita pikirkan," celetuk Ayu.


Roy lalu mengangkat wajahnya. Menatap ke arah si kembar. Dia menghela nafas dan tertawa kecil lalu bangkit dan memeluk kedua anaknya. Mereka larut dalam keharuan. Isak kecil kebahagiaan mulai terdengar.


"Kenapa Ayah lama sekali datang?" tanya Bagus.


"Kami sudah menunggu lama, bahkan mengira pria yang mendekati Ibu adalah Ayah kami," ucap Ayu dengan suara bergetar.


"Maaf... Maaf," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Roy. Semua orang yang ada di telat itu hanya bisa terdiam menatap pemandangan di depannya. Raina yang pernah merasakan itu ikut menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Adry.


"Kami tidak tahu jika mereka tidak tahu kau adalah ayahnya," kata Janeta memecah kesunyian, membuat semua orang melihat ke arahnya.


Mata Hana membelalak lebar menatap Roy. Tenyata pikirannya selama ini salah tentang pria itu.


"Aku juga ikut senang Om Roy ada yang menemaninya," imbuh Leon.


"Sayangnya Om dan Bibi Hana belum menikah?"


"Tidak apa-apa, kita akan buat pernikahan yang meriah untuk mereka. Jika perlu dirayakan di sini dan Jerman begitu kan, Bu?" tanya Raina.


"Ya, benar."


"Kami ingin saling mengenal dulu sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan." Roy menjawab semua keinginan keluarganya.


"Menikah dulu baru pengenalan," tolak Adry.


"Aku setuju, mereka tidak akan dekat jika masih ada sekat," ujar Raina.


"Lalu apa penghalangnya?" tanya Adry.

__ADS_1


"Kau itu tidak mengerti maksudku. Mereka itu sudah terlalu dewasa untuk hanya berpegangan tangan."


Leon tertawa keras. "Aku sebentar ingin tahu bagaimana mereka bertemu lalu menghasilkan Ayu dan Bagus."


"Hush banyak anak kecil di sini. Kau juga belum terlalu dewasa untuk tahu soal ini."


"Aku sudah berumur 21 tahun lebih Bu. Bahkan sudah boleh nonton film biru," gurau Adry.


"Kau dengar dia mengatakan apa?"


"Anak seumurannya memang sudah mengenal hal itu Raina. Aku bahkan lebih dari Leon," bela Adry.


"Kau jangan ikuti sifat Ayahmu, ikuti sifat ibumu yang baik ini," ujar Raina.


"Sudah... sudah... kalian malah bahas yang tidak penting," ujar Carl. "Sekarang kita kembali membahas masalah Roy ini."


Janeta sendiri menatap senang kebersamaan keluarganya. Dulu dia terlalu angkuh untuk menerima Raina. Ketika wanita itu datang, suasana rumah yang sepi dan suram berubah menjadi ramai dan ceria oleh gelak tawa anak, pertengkaran, tangisan, dan juga kasih sayang.


Aaric yang dikerjai oleh kakaknya lalu pindah duduk di dekat Janeta, dia merasa aman bersama dengannya. Tidak ada satupun yang akan mengganggunya jika telah bersama kakek dan neneknya. Janeta mengusap kepala Aaric dengan penuh sayang.


Semua terdiam. Carl mulai bertanya lagi pada Hana.


"Hana apa kau tidak ingin menikah dengan Roy?" Hana hanya menoleh ke arah Roy, meminta pria itu membantunya menjawab melalui bahasa mata.


"Aku sebagai orang tua tidak akan memaksa. Kau bisa saja punya alasan atau tambatan hati sendiri bisa jadi karena belum siap dengan sebuah pernikahan," tanya Carl. "Sekarang katakan apa keinginanmu dan alasanmu."


"Dia hanya ingin waktu Ayah."


"Aku bertanya pada Hana bukan padamu!"


Roy menutup mulutnya rapat. Dia tidak akan berani menyela jika suara Ayahnya mulai meninggi.


"Aku hanya ingin mengenal Pak Roy terlebih dahulu. Kami belum pernah bertemu sebelum empat hari ini jadi akan sulit menyatukan suatu hubungan jika keduanya belum saling tahu kepribadian masing-masing. Pernikahan itu bukan hubungan yang mudah kita akhiri dengan kata cerai lalu semuanya hilang tanpa sisa. Oleh karena itu, jika aku melakukannya, aku ingin semuanya dilandasi karena cinta dan kepercayaan. Cinta tanpa kepercayaan adalah bohong sedangkan pernikahan yang didasari kepercayaan tanpa cinta akan terasa hambar. Jika aku dan Roy bahagia, maka anak pun akan bahagia. Jika kami tidak bahagia dalam pernikahan itu maka kedua anak kami tidak akan merasa bahagia."


"Bukan karena ada pria yang lain?"


"Bukan," jawab Hana tegas.


Carl tersenyum. "Aku kira kau wanita muda dengan pemikiran sesuai usiamu. Masih suka bermain dan bersenang-senang. Atau bisa saja menganggap Roy adalah aset untuk mengeruk uang."


"Yah, dia itu merawat dan membesarkan anak kami sendiri tanpa bantuan seorang pun lalu bagaimana bisa dia melihatku sebagai sumber uang. Jika pun iya, dia sudah melakukannya dari awal kami bertemu nyatanya dia malah menolakku berkali-kali."

__ADS_1


"Karena itu, aku kagum dengan sikapmu yang dewasa, Hana. Kau pasti orang yang berhati-hati dalam menentukan sikap dan langkah, tidak mudah terbawa arus dan tidak goyah ketika sudah menentukan sikap."


"Jika itu keputusan Hana maka akan jadi PR untuk Roy, bagaimana caranya untuk mendapatkan hatimu. Hana adalah wanita langka dan unik yang patut untuk diperjuangkan."


__ADS_2