
"Leon, kenalkan Uncle Michael pemilik rumah mode ini!" ucap Nita. Leon yang sedang melihat pakaian dan sepatu miliknya langsung berdiri sigap dan tersenyum.
Michael lalu memegang dagu anak itu dan tersenyum. "Dia sangat tampan dan beraura besar. Kau beruntung jika memilikinya. Jika dia jadi model pasti akan langsung naik."
Mata Nita terbuka lebar.
"Terimakasih atas pujiannya tetapi sepertinya suamiku tidak menyukai ide itu."
"Sayang, padahal dia miliki yang semua yang dibutuhkan oleh seorang model. Lihat dia sangat luwes memakai baju apapun. Coba Nak kau jalan," perintah Michael dengan bahasa Perancis. Leon tidak mengerti.
"Sayang coba jalan ke deretan baju itu dan pilihlah semua baju yang kau sukai serta sepatunya," ucap Nita tanpa membuat Leon tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Badannya proporsional, ingat fisik yang menarik bisa menjadi nilai tambah. Dia juga memiliki kulit yang mulus, wajah tidak berjerawat, gigi rapi, dan rambut indah bercahaya. Karakter anak itu terlihat kuat, dalam waktu dekat saja dia akan dikenali, cepat terkenal dan aku yakin dia akan bisa bertahan lama. Lihatlah dari dari berbagai sisi, wajahnya, cara berjalan atau body language. Semua perfect." Michael mencium ujung jarinya sendiri.
Nita yang memang sudah berkecimpung di dunia modelling cukup lama lalu mulai memperhatikan Leon.
"Kau bisa memulainya dengan mengunggah foto kebersamaan kalian di laman Instagram atau laman publik lainnya. Lihat apa yang kukatakan itu benar atau salah. Namun percayalah aku selalu jeli melihat bakat baru," imbuh Michael. Nita tersenyum.
"Akan kupikirkan."
"Ingat! dia berlian yang belum disepuh."
Michael lalu meminta ijin untuk masuk ke kantornya yang berada di lantai atas. Sementara itu Nita membantu Leon berbelanja. Sesekali mereka berfoto. Dia tersenyum.
Anak Raina memang tampan dan menarik. Batinnya.
Mereka lalu pergi ke toko jam tangan mewah. Leon terlihat antusias melihatnya. Nita lalu membelikan apa yang Leon mau.
"Coba kita berfoto dengan jam ini," kata Nita berjongkok memeluk Leon dari belakang. "Senyum, Sayang."
"Wow kau lihat kita seperti ibu dan anak," pekik Nita antusias menatap foto itu. Dia lalu memegang kedua tangan Leon.
"Tante ingin sekali punya putra sepertimu namun Tante belum pernah diberi anugerah itu walau sudah segala macam cara Tante lakukan," ucap Nita berkaca-kaca. "Jika boleh Tante ingin menganggapmu sebagai putra Tante, kau kan juga sudah menganggap Ayah sebagai ayahmu?"
"Ehm, boleh tetapi aku akan menanyakannya pada ibu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Okey!" kata Nita.
Mereka lalu keluar dari toko itu menuju ke mobil.
"Kita akan kemana lagi Tante, aku lapar dan lelah," rengek Leon sesampainya mereka di dalam mobil.
"Kita akan makan di restoran bersama dengan Ayahmu," kata Nita.
"Restauran?"
"Ya, kau mau makan apa? Chinese, American food, atau makanan Perancis, Jerman."
"Aku ingin makanan Indonesia yang sesuai dengan lidahku."
"Okey, as you wish." Satu jam kemudian mereka sudah ada di sebuah restoran khas makanan Melayu.
Mereka lalu pergi ke sebuah restoran khas makanan Indonesia. Leon terlihat antusias melihat tatanan restauran itu yang sederhana namun terlihat cantik dan elegan. Di sisi tengah ada kursi dan bangku dari kayu sedang di pinggir tembok kaca besar mereka memakai konsep rumah makan seperti khas negara ini. Mereka memesan ruang VVIP.
Tidak lama kemudian Adry terlihat masuk ke dalam restauran. Nita yang melihat lalu melambaikan tangannya. Dia memang mengundang Adry turut serta makan bersama dengan mereka.
Adry terlihat antusias melihat kebersamaan Nita dan Leon. Istri dan anaknya itu duduk berdekatan. Dia lalu berjalan mendekat sesampainya di kursi pesanan mereka dia mencari sosok Raina. Nita terlihat masam dan sakit tetapi dia mencoba untuk terlihat bahagia.
"Maaf aku mengganggu waktumu," kata Nita. Adry lalu mencium pipinya berganti mencium pucuk kepala Leon.
"Dimana ibumu Leon?" Kalimat Adry pertama. Nita menghela nafas panjang. Dua sudut bibirnya berkedut kencang.
"Ibu tidak ikut. Katanya sedang lelah."
"Aku sudah mengajaknya tetapi dia menolak," ucap Nita bernafas lega karena Leon tidak mendengar semua pembicaraan dia dan Raina.
Nita bisa melihat Adry duduk dengan lesu di depannya.
"Aku sudah memesan nasi Padang kesukaanmu, spesial rendang." Adry mengangkat alisnya keatas untuk menanggapi ucapan Nita.
__ADS_1
"Katanya kau berjalan-jalan bersama dengan Tante Nita?"
"Ya, lihat Tante membelikanku ini dan ini, dan semua baju serta sepatu lainnya tetapi semua ada di mobil," terang Leon antusias. Nita bisa melihat tatapan puas dari Leon.
"Aku sudah menganggapnya sebagai anak sendiri sekalian belajar cara menjadi ibu yang baik," ucap Nita lembut seraya mengusap punggung tangan suaminya.
"Aku suka kau mau belajar menyayangi Leon."
"Lihat foto kebersamaan kami," tunjuk Nita pada Adry. Pria itu lalu melihatnya dan tersenyum bangga pada Nita. Dia mengusap sayang pada istrinya. Nita memang selalu pengertian dia selalu tahu apa yang dia inginkan. Batin Adry.
"Tuan, Nyonya ini pesanannya," kata seorang pelayan membawakan baki berisi pesanan makanan mereka. Nita, Adry dan Leon lalu mulai makan bersama. Nita bahkan berusaha agar Leon terlihat nyaman dengannya. Dia memotongkan daging untuk Leon dan membantunya membersihkan mulut. Hal itu membuat nilai lebih bagi Adry. Dia pikir jika dua istrinya bisa hidup bersama-sama tanpa saling melukai.
Sedangkan di apartemen, Raina sedang duduk di bangku makan sendiri. Dia mulai merasa kesepian ketika Leon juga pergi bersama dengan Nita hari ini.
Tiba-tiba bel pintu rumah dibunyikan. Dengan semangat Raina menuju ke pintu utama dan mulai membukanya.
"Kalian sudah pulang?" tanya Raina tetapi dia terkejut yang datang ternyata bukan Leon.
"Hallo Nyonya saya di suruh oleh Tuan Adry untuk mengambil laptop dan barang penting lainnya seperti berkas." Nita lalu mempersilahkan Roy masuk.
"Sepi Nyonya?" tanya Roy ketika hendak naik ke lantai atas.
"Ya, rumah terasa hambar," rutuk Raina. Dia tahu Roy sudah mengetahui sedekat apa hubungan Raina dan Adry.
Roy lalu melihat ke arah meja makan. Di sana tidak terlihat banyak makanan seperti biasanya. Hanya ada sepiring nasi goreng dan kerupuk saja.
"Tuan saat ini sedang makan siang dengan Nyonya Nita dan Leon."
Mata Raina terlihat membesar. Dia memegang pingitan tangga agar tidak limbung. Adry, Nita dan Leon sedang makan bersama dan dia sendiri di sini?
"Aku baru saja mengantar Tuan ke sana, baru kemari." Roy mengamati perubahan air muka Raina.
"Nita dan Leon memang tadi pergi bersama untuk membeli sesuatu."
"Dan kau membiarkan mereka bersama sementara kau kesepian sendiri di sini. Bodoh!"
__ADS_1