
"Cukup balas dengan jabatan tangan saja," bisik Adry.
"Sorry," kata Raina. Dia terlihat ragu untuk mengulurkan tangannya menatap Janeta yang terlihat tidak respek terhadapnya. Namun, Raina tidak ingin memperburuk kesan pertamanya. Dia tersenyum lebar pada wanita di depannya sehingga barisan giginya terlihat.
"Adry apakah kau tidak mengajarinya sopan santun," ujar Janeta dalam bahasa Jerman sehingga Raina tidak tahu artinya tapi tetap tersenyum membalas uluran tangan itu.
"Raina, Nyonya." Raina memperkenalkan diri.
"Janeta," singkat wanita itu memandang tidak suka pada Raina. Fokusnya kembali pada bocah berumur sepuluh tahun.
"Ayo kita masuk, diluar dingin," ajak Janeta menggandeng Leon masuk ke dalam rumah.
Mereka lalu langsung ke ruang makan. Raina mengagumi bentuk dan desain rumah bergaya Victoria itu sangat Artistik, cantik, mewah dan antik.
"Wow ini seperti istana dalam cerita negeri dongeng," ucap Leon. Janeta dan Carl sebenarnya sedikit mengerti tentang bahasa Indonesia tetapi dia ingin menguji terlebih dahulu seperti apa Raina pantas tidak dia mendampingi Adry.
"Kau suka?" tanya Adry. Leon menganggukkan kepalanya. Dia mengusap kepala Leon pelan. Raina dan Nita hanya berjalan di paling belakang.
"Bukankah katamu kau tidak mau membawa Leon kemari?" bisik Nita tetap terlihat tenang.
"Ini bukan keinginanku ini keinginan Adry," ujar Raina. Dia merasa sebal dengan pria itu karena tidak menemuinya selama satu Minggu ini dan tidak menghubunginya sama sekali. Hal itu membuatnya kesal setengah mati tetapi dia tetap bertahan.
"Jadi selama ini Adry bersama dengannya?" batin Nita marah.
Mereka lalu duduk di kursi makan dengan meja yang memanjang mungkin cukup untuk jamuan makan dua puluh orang. Carl duduk di ujung meja karena dia adalah kepala rumah tangga sedangkan Janeta duduk di sebelah kanan Carl. Adry mengajak Raina duduk di sebelahnya sedangkan Leon di sebelahnya. Nita sendiri berada di dekat Janeta berhadapan dengan Raina persis. Dia terlihat menundukkan wajahnya dari tadi. Dia menunjukkan wajah nelangsa dan tertekan.
Raina sendiri tidak mengerti mengapa sepasang suami istri yang sering terlihat mesra itu kini terlihat merenggang. Apakah ada masalah yang terjadi yang tidak dia ketahui? Sayang sekali Roy bukan seorang wanita yang suka menggosip jika tidak dia akan bertanya tentang Adry sedari kemarin.
Mereka lalu makan bersama tanpa ada suara yang ada hanya ketegangan saja. Berkali-kali Raina dan Leon melakukan kesalahan mereka tidak terbiasa makan dengan cara table manner. Penggunaan pisau sendok itu membuat Raina tertekan. Dia tidak tahu harus memakai pisau yang mana dan sendok yang mana.
__ADS_1
Adry memang membantunya tetapi itu menyebabkan dia malu. Dari kemarin Roy sudah mengatakan jangan mempermalukan diri sendiri yang ada dia malah membuat masalah. Seperti acara memotong daging stik ini. Leon memilih menggunakan tangannya.
Kedua paruh baya itu mengernyitkan dahi, Ibu Adry malah terlihat memerah wajahnya seperti menahan marah tetapi dia tetap menahan diri.
Adry membiarkan anaknya makan dengan caranya sedangkan untuk Raina dia memberikan piring miliknya yang ada daging sudah diiris untuk ditukar dengan piring milik Raina.
"Sorry, Yah," kata Adry. Setelah selesai makan, Adry lalu meminta waktu untuk berbicara.
"Maaf, ayah Ibu. Aku ingin mengungkapkan satu hal pada kalian. Ini anakku bernama Leon dan ini istri keduaku bernama Raina."
"Aku tidak tahu bagaimana tanggapan kalian tentang ini tetapi aku mencintai mereka seperti aku mencintai Nita."
"Aku sudah menebaknya," ungkap Carl. Carl meletakkan gelas yang baru dia minum.
Adry membuka mulutnya sedikit terkejut. "Maksud Ayah?"
"Kau itu dulu pemuda nakal yang suka main wanita pasti ada satu wanita yang telah kau hamili, Leon anak kandungmu kan?"
"Sebaiknya kita bicarakan ini di ruang tengah." Carl lalu berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Janeta. Sedangkan Nita berjalan di sisi Janeta sebagai sebuah penegasan bahwa orang tua Adry lebih memilih dirinya.
"Yah...." panggil Leon.
Adry mengusap kepala Leon dengan lembut. "Kita bicarakan ini nanti. Ayo sekarang ikut ayah menemui Kakek dan nenekmu," ucap Adry menggandeng tangan Leon. Satu tangannya meraih pinggang Raina.
"Ayo," ucap Adry.
"Aku ...."
"Semua akan baik-baik saja percaya padaku," ungkap Adry.
__ADS_1
"Aku hanya gugup," terang Raina.
"Ada aku." Adry menatap lekat ke arah Raina. Raina menganggukkan kepalanya. Mungkin saat ini, dia belum bisa mengambil hati mertuanya tetapi dia telah mengambil hati Adry. Itu yang membuatnya sedikit tenang.
Mereka bertiga lalu pergi ke ruang tengah. Ruangan itu luas, ada beberapa tempat duduk satu sofa berukuran panjang dan dua kursi single di sisinya. Sedangkan di depan perapian ada dua kursi single kayu dengan sandaran yang lebih tinggi. Di sana Tuan Carl dan Janeta duduk sedangkan Nita duduk di kursi single.
Raina berhenti melangkah karena ragu. Adry menggandeng tangannya dan membawa mereka ke kursi sofa panjang. Sedangkan Adry duduk di kursi single menghadap Nita.
"Okey semua sudah lengkap. Rumah ini jadi terasa hangat, tidak sedingin ketika kami berdua saja," ujar Carl. Raina terkejut ternyata Tuan Carl bisa berbahasa Indonesia.
"Teruskan apa yang ingin kau jelaskan," kata Carl dengan suara yang berwibawa dan kharismatik.
"Kau benar Ayah, aku dan Raina memang sempat punya hubungan singkat dan aku pergi pergi meninggalkannya begitu saja." Adry menghela nafas dalam. Dadanya merasa sesak mengingat hal ini.
"Jika saja aku tahu dari awal putraku tidak akan menderita karena hidup dengan keterbatasan. Dia sakit parah, gagal ginjal, akh... entahlah," Adry menekan kedua pelupuk matanya keras menahan air matanya.
"Hatiku hancur melihat keadaannya dan buruknya Raina berjuang sendirian untuknya, dia bahkan rela menyewakan rahimnya hanya untuk biaya pengobatan putraku. Hal kejam lainnya yang kulakukan adalah akulah penyewa rahim Raina," ucap Adry dengan suara tertahan dan gemetar.
Semua orang yang ada di ruangan itu menghela nafasnya. Sejenak mereka terdiam. Leon sendiri mendekap tubuh ibunya.
"Lalu kau kapan menyadarinya?" tanya Carl.
"Ketika kedua kali aku bertemu dengan anakku dan melihat wajahnya adalah duplikat diriku ketika kecil. Ayah dan ibu bisa melihatnya bukan?" Adry menunjuk dengan tangannya pada Leon. Carl dan Janeta menganggukkan kepalanya.
"Dia mengingatkanku pada sosokmu ketika masih kecil. Hanya saja kulitnya lebih putih bersih dan tidak ada lesung pipinya," lanjut Janeta. "Namun, semuanya sama."
Adry tersenyum bangga.
"Anak ini terlihat lebih tenang tidak seperti Adry yang aktif bergerak kesana kemari," imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Mungkin itu bawaan sifat dari ibunya," kata Carl membuat Raina berani mengangkat wajahnya melihat ke arah mertua pria di depannya.
"Okey, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" lanjut Carl pada Adry.