Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Hati Roy


__ADS_3

"Kesalahan? Kesalahanmu adalah selalu mengikuti hawa nafsumu, anganmu terlalu tinggi. Kau bahkan ... telah menghabisi calon anak kita dan lihat, karma berbalik, kau tidak punya anak sekarang." Roy tersenyum sinis.


"Jangan ungkit masa lalu! Aku melakukan satu kesalahan karena pernah bermalam denganmu namun itu hanya sekali! Dari dulu hingga kini aku hanya mencintai Adry!"


"Cinta apa, kau sama sekali tidak mencintainya, kau mencintai miliknya! Apa yang kau korbankan untuk Adry selama ini, tidak ada," seru Roy.


"Jika kau tidak bertemu dengan Adry mungkin kita masih bersama. Kau berkhianat aku terima. Aku masih di sini karenamu, menunggumu sadar. Namun, aku rasa aku telah lelah membuat kau mengerti. Kau korbankan cintaku demi Adry, kini Adry pergi meninggalkanmu." Ironi kehidupan tidak tahu membawa kita kemana.


"Ingat Nita. Walau kau memiliki tubuhnya, aku yakin, dia selamanya tidak akan pernah jadi milikmu lagi. Di saat itu, kau baru sadar bahwa kau sudah kehilangan segalanya."


Roy, lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan Nita begitu saja. Nita tidak terima.


"Adry selamanya akan menjadi milikku, aku akan membuktikannya!" teriak Nita melemparkan bantal ke arah Roy yang telah terlebih dahulu menutup pintu.


Pada dasarnya tidak ada yang bahagia di sini. Raina yang masih dipenjara dan menemui banyak tekanan dari teman penjaranya.


Nita yang menangisi hidupnya karena semua yang dikatakan Roy adalah benar walau dia berusaha agar semua keinginannya menjadi nyata.


Adry yang tidak tahu harus bagaimana bersikap. Dia telah menentukan arah hidupnya tetapi tetap saja masalah menerpa. Dia tahu ibunya tidak menyukai Raina tapi tidak seharusnya Raina marah dan menusukkan pisau ke tubuh ibunya. Apa alasannya? Jika hanya karena adu mulut? Adry terlalu pusing memikirkannya.


"Adry, jauhi wanita itu ibu mohon. Dia wanita berbahaya, kau lihat kan bagaimana dia mau membunuh Ibu, untung saja kau datang tepat waktu jika tidak dia pasti sudah memutilasi ibu. Sebenarnya apa salah Ibu sehingga dia sampai berbuat nekat seperti itu." Janeta menangis ketika menceritakan semua kejadian versi dia di depan aparat polisi.


"Aku datang kesana meminta maaf, dia malah memaki dengan kalimat kasar. Dia juga meminta uang padaku sebagai biaya dia merawat Leon selama ini. Aku menolaknya karena Leon pasti tidak akan setuju untuk berpisah dengan ibunya. Namun, dia malah mencekik ku dan melakukan kekerasan lainnya. Kalian lihat, ini bekas tamparannya dan ini luka lenganku bekas dia memegangku dengan erat."


"Dia lalu ke kamar dan mengambil pisau itu untuk menekanku, aku menolaknya, aku berkata jika kau akan hidup bahagia bila bersama Adry. Namun, wanita itu tetap ingin uang itu dan kami berdebat lalu perkelahian itu terjadi."


"Nyonya Raina belum mau mengatakan apapun walau telah kami tekan."


"Sebetulnya aku tidak tega memenjarakan menantuku, asal dia minta maaf saja pasti akan dimaafkan dan aku tarik kembali berkas laporan itu." Janeta lalu mengusap air matanya yang tidak menetes. "Aku tidak ingin memperpanjang masalah yang ada kasihan anak dan cucuku."


Adry hanya bisa terdiam mendengar perkataan ibunya. Setengah tidak percaya tetapi kenyataannya seperti itu. Teganya Raina menusuk ibunya. Sesalah apapun ibunya tetapi tidak seperti itu.

__ADS_1


***


Esok harinya Roy menemui Raina di penjara.


"Untuk apa kau kemari, untuk buat makar apalagi?" tanya Raina ketus.


"Aku tahu aku salah, tapi aku punya alasan sendiri. Sudah kukatakan dari awal agar pergi kau tidak mau mendengarkan aku. Ya beginilah yang kutakutkan akan terjadi."


Raina terdiam. Roy memang sudah memperingatinya beberapa kali tetapi dia tidak bisa meninggalkan Adry. Bagaimanapun berpisah dari orang yang kita cintai itu menyakitkan.


"Seharusnya kau bisa bersaksi dan membuka semuanya." Raina menyudutkan Roy.


"Apa kau kira dengan aku membuka semua kedok mereka Polisi akan percaya sedangkan kau terbukti langsung telah menikam mertuaku sendiri."


"Itu hanya jebakan."


"Aku tahu tetapi orang lain?" Lagi-lagi Raina kehabisan katanya.


"Tidak Raina aku tidak bisa melakukan itu. Kini satu yang bisa kulakukan padamu. Aku bisa mengeluarkanmu dari sini hanya setelah itu pergilah menjauh terlebih dahulu."


Mendengar saran Adry membuat Raina terkejut. Dia menghela nafasnya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Leon," ujar Raina tegas.


"Leon akan aman di tangan Adry yang aku takutkan kau, apakah kau aman di penjara, lihat wajahmu sudah babak belur," ujar Roy. Dia sudah melihat luka lebam di wajah Raina.


"Mereka memukulku," jawab Raina jujur. "Untung mereka tahu aku sedang hamil. Jadi tidak perutku."


"Kau hamil?" tanya Roy. Entah mengapa Raina nyaman jujur berbicara dengan Roy padahal pria itu telah mengkhianatinya.


"Adry tahu?" Raina menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau beritahu dia," ujar Roy.


"Dulu katamu jangan," ujar Raina.


"Dia ayahnya berhak tahu yang terjadi. Jika terjadi apa-apa dia tidak akan marah atau kecewa padamu."


"Aku sudah tidak ingin memberitahunya. Biarkan ini jadi rahasiaku saja," ujar Raina.


"Kau benar sebaiknya aku keluar dulu dari sini demi kebaikan calon bayiku."


"Turuti semua kemauan Nyonya Janeta, dia ingin kau menyerahkan Leon. Tinggalkan dia untuk sementara waktu toh ketika dia sudah beranjak dewasa dia akan mencari ibunya."


"Kau benar. Lelah aku dengan semua ini. Aku tidak mungkin akan bersama Adry jika Nita tetap berada di antara kami."


"Adry tidak akan sadar jika hanya kau cintanya," ucap Roy membuat Raina terkejut dan menatapnya. Dia menelan Salivanya dalam-dalam. Mengenang pria itu membuat hatinya hancur. Dia tidak sepenuhnya bersalah hanya keadaan yang membuat mereka terpisah.


"Mengapa kau mau membantuku?"


"Karena kita satu nasib," jawab Roy.


"Maksudnya?"


"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas saat ini aku sudah keluar dari pekerjaanku dan telah bebas untuk melakukan apa yang kumau. Saat ini aku hanya ingin menolong ibu hamil saja." Roy mengusap kepala Raina.


Raina menangis dan menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak punya adik dan kakak. Aku adalah anak angkat dari Tuan Carl, aku menganggap Adry sebagai saudara kandungku sendiri. Aku aku tidak bisa membantah ucapan keluarga itu." Orang tua Roy punya hutang besar karena usahanya bangkrut sehingga sempat tidak bisa membiayai sekolah Roy. Carl datang sebagai dewa penolong dan membantunya menyelesaikan pendidikan serta menjadikannya anak angkat. Hal itu yang membuatnya punya hutang balas budi yang tidak bisa bayar sampai kapanpun.


"Aku hanya akan menolongmu keluar dari penjara ini walau dengan syarat yang Nyonya Janeta ajukan dan kau harus bersedia melakukannya. Mereka hanya meminta hak asuh Leon. Kau katakan saja jika hak asuh Leon akan diberikan ke ayahnya. Jika tidak jangan mau menandatangani surat apapun," ujar Roy.


"Setelah itu pergilah sejauh mungkin dari mereka dan besarkan anakmu dengan baik. Aku akan memberikanmu kartu kredit yang bisa kau gunakan untuk biaya hidupmu dan persalinan. Ini kulakukan untuk menebus kesalahanku padamu dan Adry."

__ADS_1


__ADS_2