
Hana duduk terpaku melihat ke sekeliling kamar. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Di kamar siapa dia sekarang? Mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kalinya.
Tadi dia sedang memasak dan Raina bertanya kapan awal mereka bertemu.
Hana menatap sebuah foto pernikahan. Mengamatinya. Wanita itu nampak cantik dan bahagia dengan pakaian pengantinnya. Pengantin pria tidak terlihat wajahnya karena posisi membelakangi kamera. Sang wanita memeluk leher pria itu dengan posesif.
Hana terpana dengan foto itu. Itu bukan Raina lalu siapa wanita di dalamnya.
Pintu kamar mulai terbuka dengan pelan, fokus Hana beralih pada sosok yang berada di sana.
"Kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Hanya merasa lemas," ucap Hana.
"Syukurlah. Aku sangat ketakutan tadi melihat kau pingsan di dapur."
"Iya kah?" tanya Hana. Roy mengangguk. Dia lalu mendekat ke arah dengan baki berisi makanan. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Akhirnya masakanku selesai juga," ujar Hana menatap dua piring nasi dan dua mangkuk kecil berisi lauk pauk.
"Raina yang menyelesaikannya."
"Dia pasti lelah menyiapkan semua sendirian."
"Ini tidak seberapa. Dulu kami tinggal di pulau impian, mendirikan sebuah resort, bekerja sama dengan sahabatku, Jo. Di sana Raina sering kali memasak dalam ukuran besar untuk lima ratus orang, walau dibantu beberapa pegawai."
"Wow, pulau impian, itu pasti sangat indah."
"Sebenarnya namanya Heaven of Love, surga cinta. Suatu hari aku akan mengajakmu dan anak-anak ke sana jika kau mau," ujar Roy.
"Kau sungguh mau mengajak kami?"
"Apa yang tak akan ku lakukan untukmu," ujar Roy membuat wajah Hana bersemu merah.
"Makan dulu," tawar Roy.
"Apakah se mua orang sudah makan? Anak-anak?"
"Semua sedang makan di bawah. Apa kau mau ikut bersama mereka?"
"Hmm, aku dalam keadaan kacau seperti ini." Hana memperlihatkan penampilannya.
"Kau sudah cantik hanya perlu sedikit merapikan rambut saja." Roy ingin menyentuh kepala Hana tapi wanita itu menghindar. Roy kembali menarik tangannya.
__ADS_1
"Makan dulu," Roy lalu mengambil sesuap nasi dan menyerahkannya pada Hana.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Hana menatap Roy. Dia sudah nampak tidak nyaman.
"Biarkan aku melayani mu, agar kau terbiasa denganku."
"Aku...."
"Ini salah satu cara agar kau tidak takut padaku. Mungkin besok aku akan mengikuti anjuran mu untuk memotong rambut agar tidak terlihat seperti mafia."
Hana tertawa, dia lalu menerima suapan dari Roy.
"Apa dengan melakukan itu, kau tidak akan kehilangan gayamu?" tanya Hana.
"Aku selalu tampan menggunakan apapun."
"Apakah kau akan tampan dengan hanya memakai kaos dan celana kolor?" tanya Hana. Pertanyaan itu mengingatkan Roy pada sosok Karina. Dia juga menanyakan hal yang sama.
"Aku lebih tampan tanpa memakai pakaian," timpal Roy bernada menggoda, tapi ketar ketir, takut jika reaksi Hana berlebihan.
"Kau sangat percaya diri sekali!"
Roy bernafas lega. Dia tersenyum.
"Untuk apa melukai tubuh untuk sesuatu yang tidak penting?" tanya Hana.
"Itu seni dan keindahan."
"Aku lebih suka yang natural dan apa adanya."
"Nampaknya kita mempunyai banyak perbedaan nanti."
"Itu yang coba ini ingin aku jelaskan jika kita perlu membiasakan diri dengan perbedaan itu."
"Apa karena penampilanku ini salah satunya yang membuat kau menolakku?"
"Tidak."
"Lalu apa? Katakan padaku, biar aku mengerti. Aku tahu bukan soal waktu untuk saling mengenal yang kau pikirkan. Kau coba mengulur semuanya lalu akan pergi, seperti kejadian waktu itu."
Hana terdiam menatap kosong ke depan.
"Hana, katakan padaku alasannya?"
__ADS_1
Hana tersenyum, "Kau pandai menebak perasaan orang."
"Itu foto istrimu kah?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab Roy menatap ke arah Karina dalam pigura.
"Dia sangat cantik dan elegan pantas saja kau begitu mencintainya."
"Dia seorang agensi artis Holywood."
"Pasti wanita yang sangat berkelas."
Roy memandangi Hana mencoba membaca pikiran wanita itu. Hana nampak tersenyum kecut nampak gurat kesedihan di dalamnya.
"Ya, dia anggun dan menarik hal yang membuatku jatuh cinta dalam sekali pandang."
Hana menatap ke arah Roy. "Karena itu kau masih menyimpan fotonya sampai saat ini?"
"Ya, karena belum ada yang menggantikan posisinya," ujar Roy terus terang. Hana terdengar menarik nafas dalam. Roy sendiri tersenyum sangat tipis nyaris tidak terlihat.
"Aku akan menggantinya dengan foto pernikahan kita jika kau mau," tawar Roy. Hana mengalihkan pandangannya ke arah Roy.
"Menggantikan tempat foto tidak berarti menggantikan tempat di hati."
"Setidaknya aku berusaha untuk melakukannya mendekatkan hubungan kita. Aku harap kau tidak membuat penghalang itu semakin besar."
"Roy, aku tidak ingin memaksa diri untuk mengatakan 'ya' padahal aku belum siap secara lahir dan batin untuk melakukannya."
"Kalau begitu katakan alasan kau tidak ingin membuka hatimu untukku?"
Belum juga Hana membalas ucapan Roy, sebuah ketukan membuat mereka terkejut.
"Roy, di bawah ada seorang Dokter bernama Rama ingin menemuimu," panggil Raina.
"Biarkan dia ke mari," ujar Roy setelah membuka pintu kamar.
"Baiklah kalau begitu. Panggil aku jika ada yang perlu kubantu."
"Tidak usah Kaka. Hanya saja tolong bantu aku menjaga Ayu dan Bagus."
"Mereka sudah masuk ke dalam kamar Masing-masing karena kelelahan dan kekenyangan."
"Syukurlah jika begitu."
__ADS_1