Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Mengakui Kesalahan yang Tidak Dilakukan


__ADS_3

Raina mengepalkan tangannya karena menahan marah. Ingin rasanya dia mencakar, mencabik-cabik dan memutilasi Adry. Namun, Raina berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyerangnya walau darahnya sudah naik ke ubun-ubun seperti lahar yang gunung yang hendak meledak.


Raina bersedekap dan menatap dingin Adry. "Jika kau pikir ini bukan anakmu kenapa kau harus datang kemari?"


Jika Adry tidak mengenal Raina mungkin dia akan langsung percaya pada kata-kata Nita walau bukti tentang kedekatan Raina dan Roy sudah terpampang jelas di depannya. Namun, dia mengenal Raina waktu kebersamaan mereka yang selama beberapa bulan ini membuat dia ragu jika apa yang dikatakan Nita adalah sebuah kebenaran.


"Sial! Kau bisa saja menjawab ya atau tidak. Kita sudah bersama selama beberapa bulan ini dan menjalani hubungan fisik secara intens. Aku berhak tahu ini anak siapa? Aku atau Roy," teriak Adry frustasi.


"Tidak ada cara untuk mengetahui ini anak siapa kecuali kita melakukan tes DNA dan itu dilakukan jika anak ini telah lahir. Sayangnya aku yakin jika ini adalah anak Roy. Sekarang pergilah dari depan mataku karena aku muak dan jijik melihat mu!" usir Raina geram.


Dia lalu berbalik dan pergi ke arah dapur untuk mengambil segelas air minum. Adry mengikutinya dan berdiri di belakang wanita itu. Aura kemarahan memancar keluar dari tubuh pria itu.


"Aku memberi segalanya apa yang kau inginkan. Aku bahkan menuruti semua yang kau mau. Namun, apa balasannya? Kau malah menyerang orang yang kusayangi dan mengkhianati diriku."


Raina yang hendak menuang air dari teko plastik ke gelas menahan gerakannya. Dia meletakkan kembali teko itu ke meja dapur dengan keras sehingga tutupnya naik ke atas dan air muncrat keluar. Dia menyeka keringat di dahi dengan kesal dan menahan nafasnya.


"Keluar, urusan kita telah selesai dan jangan ganggu aku lagi. Tolong biarkan aku hidup tenang!"


"Aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan semua yang telah terjadi." Desak Adry yang ingin semua jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang diotaknya.


Raina memegang pinggiran meja dengan kuat. Wajahnya menegang.

__ADS_1


"Aku sudah menceritakan semuanya di surat pernyataan dan kau pasti telah membacanya kan? Apakah itu belum cukup." Cecar Raina dengan penuh emosi.


"Dan soal kehamilan mu ini?" Adry masih memaksa Raina untuk mengakui sesuatu yang tidak dia lakukan. Raina lelah dengan hal itu. Dia hanya ingin hidup dan melahirkan dengan tenang.


"Kau mengatakan jika aku sering terlihat bersama Roy, kalau begitu tanya padanya ini anaknya atau anakmu!" Tubuh Adry membeku. Otak kecilnya tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.


"Dia pergi bersamaan dengan dirimu. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya kecuali saat dia mengatakan jika kau pergi diam-diam. Hanya itu," terang Adry. "Kau tidak memberiku waktu untuk bertanya dan mendengar penjelasan ku. Tidak memberiku pilihan lain untuk mempercayai apa yang mereka dan kau katakan."


Raina mengedipkan mata menahan air mata.


"Apa yang kau pikirkan anggaplah jika itu kenyataannya. Semua itu adalah benar dan kau boleh pergi sekarang."


"Namun, Raina kenapa kau memilih hidup yang menyulitkan ini. Kau bisa saja menjual perhiasanku seperti dulu untuk memulai usaha atau memakai kartu yang telah aku berikan padamu. Bukannya hidup dengan cara tidak layak seperti ini. Penampilanmu itu sangat menyedihkan. Jika kau mau kau bisa saja meminta uang padaku berapapun sebelum pergi. Aku akan dengan senang hati memberikannya daripada melihatmu ... melarat dan kekurangan hingga harus bekerja di kondisimu yang sedang hamil besar." Adry merasa sedih dengan keadaan Raina sehingga tidak tahu harus mengucapkan apa.


Raina ingin rasanya memaki pria di depannya.Bagaimana pun darah Quandt memang kental sehingga tidak bisa pria itu tidak mencelanya sampai saat ini.


Dia menatap mata Adry meyakinkan dirinya jika Adry tidak mencintainya. Dia hanya kasihan padanya. Kebencian dan rasa cinta sama besar membuat dadanya merasa sesak dan tidak bisa bernafas.


Perlahan Raina masuk ke dalam kamarnya yang kecil. Mengambil sesuatu dari dalam tas dan kembali lagi dengan meremas sebuah amplop. Ekspresinya sulit untuk di tebak. Dia bahkan melemparkannya tepat ke wajah Adry.


"Aku membawa cincin ini karena aku masih menghormati pernikahan kita. Sekarang kau boleh membawanya."

__ADS_1


Adry memungut amplop itu dan melihat isinya. Selembar Kartu kredit tanpa batas miliknya dan dua buah cincin berlian pernikahan dan cincin yang menjadi saksi awal pertemuan mereka.


"Aku tidak mengerti mengapa kau hanya menyimpannya bukan menguangkannya untuk membantu biaya hidupmu."


"Kau memang tidak pernah mengerti." Raina lalu berjalan keluar sebelum Adry mencegahnya.


"Jika kau yang tidak mau keluar maka aku yang akan pergi dari sini." Raina sudah lelah berdebat dengan pria itu dan butuh udara segar dan ketenangan.


Adry tercengang memegang amplop itu. Mengapa Raina terlihat sangat membencinya dan menganggap dia seperti tidak berharga . Padahal apa yang dia perbuat kali ini hanya untuk memastikan jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.


Adry menyapukan pandangannya keseluruh ruangan di sini. Kamar kecil yang hanya beralaskan tikar dan sebuah bantal. Ruangan tanpa apapun kosong hanya ada sebuah meja kecil dan karpet plastik usang. Dia lalu menuju ke dapur dan membuka pintu kabinet yang engselnya rusak. Di dalamnya hanya ada tiga bungkus mie instan. Satu kaleng susu kental manis yang mungkin sudah hampir habis. Beras yang sedikit.


Dia menggeledah lagi, itu membuatnya semakin marah dan kesal. Hanya beberapa bumbu dapur yang ada di atas meja, bahkan di sini tidak ada makanan sehatnya. Pantas saja jika tubuh Raina terlihat sangat kurus dan tidak terawat.


Sebenarnya seperti apa hari-hari yang Raina lewati selama ini? Apakah wanita itu sering tidur dalam keadaan kelaparan. Rasa nyeri menghujam dalam dirinya.


Mengapa Raina tidak mengambil uang miliknya untuk berbelanja kebutuhan hidupnya. Apakah dia merasa bersalah sehingga malu untuk mengambil uang darinya?


Ini bukan rasa iba? Namun, dia marah pada dirinya sendiri hingga membuat Raina hidup kesusahan dan menderita seperti ini. Bagaimana jika nanti bayinya lahir. Apakah bayinya juga akan ikut hidup menderita seperti ini?


Tidak, dia tidak akan pernah melepaskan Raina lagi. Dia tidak bisa melihatnya hidup kesusahan. Harus ada seseorang yang merawatnya. Tidak peduli Raina akan menerimanya atau tidak. Wanita itu sangat berarti baginya.

__ADS_1


__ADS_2