
Raina berkeliaran di sekitar rumah itu tanpa tujuan melihat pemandangan alam sekitar dan kembali lagi menuju ke dalam rumah. Dia berdiri di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pemandangan puncak Bogor yang hijau.
"Kau seharusnya tidak berdiri," kata Adry di belakang Raina.
Raina memutar bola matanya malas dan menoleh ke belakang dan terkejut melihat Adry hanya memakai celana kolor pendek. Dia kembali melihat ke arah jendela tetapi pemandangan tadi seakan membakar matanya.
Dada yang bidang bergelombang dan perut yang rata di pahat membentuk maha karya yang indah serta otot-otot yang terlihat. Raina mendesah pelan. Dia ingat jika dulu dia menyentuh tubuh itu selama berjam-jam.
"Apa aku membuatmu canggung?" prasangka Adry. "Rasanya aneh jika kau merasa seperti itu, mengingat apa yang telah kita lakukan dulu?''
Raina masih terdiam menggigit bibirnya sendiri. Ingin tertawa tetapi menahannya. Dia merasa malu memikirkan hal ini. Pikiran konyol merasuk ke dalam otaknya, dia mulai memikirkan bagian bawah pinggang pria itu yang tertutup celana.
Raina membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Adry dengan dingin. "Kau pikir bisa memancingku dengan semua ini dan mengembalikan hubungan kita seperti dulu lagi?"
"Raina kau pikir aku mendekatimu dan merayumu hanya untuk melakukannya? Aku malah lebih khawatir dengan keadaanmu yang tidak sehat."
"Aku tidak yakin akan hal itu?''
"Aku tidak akan melakukannya pada wanita hamil yang lemah," ujar Adry.
"Kau benar akan lebih baik jika kau pulang kembali pada istrimu dan menuntaskan hasratmu. Tubuhnya juga masih terlihat bagus dan pastinya lebih kencang."
Adry menatap dingin pada Raina mendengar kata-katanya yang tajam.
"Raina aku tidak pernah membandingkan kau dan dirinya!"
"Tidak di lidah tetapi iya dipikiran. Kau tidak mengatakannya tetapi apa yang kau lakukan menggambarkan semuanya.
Tatapan Adry sedingin es. Rahangnya berkedut tidak beraturan. Bibirnya tertutup rapat. Dia membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu. Lalu terdengar suara keras pintu dibanting.
Raina terhenyak dari tempatnya. Dia lalu berjalan menuju ke kursi terdekat dan duduk bersandar sembari memegang perutnya. Dia dan anaknya butuh untuk ditenangkan.
Raina terdiam dan memikirkan semuanya. Dia memperburuk situasi yang ada. Dorongan untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya keluar begitu saja. Adry terlalu tertutup dengannya.
__ADS_1
Dia tidak tahu perasaan sebenarnya pria itu. Ada saat ketika pria itu begitu perhatian dan penuh cinta. Ada saat dia melakukan sesuatu yang membuat dia terluka. Bukan hanya sekali tetapi berkali-kali pria itu tidak mempercayainya. Hal itu membuat nalurinya ingin membela diri. Jika tidak diri sendiri yang melakukannya maka jangan harap kau akan memperoleh pembelaan dari orang lain.
Dengan hati yang marah dan kesal serta sakit hati Raina pergi ke dapur. Dia mulai melihat ke arah lemari pendingin, melihat ada bahan apa yang bisa dia gunakan untuk membuat makanan.
Dia menemukan daging ham dan paprika serta beberapa sayuran serta buah-buahan. Sepertinya membuat steak sapi dan salad sayur untuk makan siang itu adalah ide yang bagus. Raina mulai mencuci mengeluarkan semua bahan itu dan meletakkannya di bawah keran air untuk di cuci.
"Raina, apa yang kau lakukan? Bukankah Dokter memperingatkanmu untuk banyak istirahat dan berbaring?'' peringatan Adry.
Raina terkejut sampai menjatuhkan wadah yang dia pegang. Klontang!
Adry mendekati Raina mengambil panci yang jatuh itu dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, dia menarik tangan Raina, membimbingnya ke ruang tamu dan mendudukkannya di sofa. Kaki wanita itu lantas diangkat dan mengambil bantal untuk menyangga kaki.
Adry menghembuskan nafas lega sembari meletakkan tangan di pinggang. Seharusnya kau memang seperti ini saja seharian. Kau bisa memanggilkan pelayan atau aku untuk melakukan apa yang kau inginkan."
"Itu bukan diriku," gumam Raina lirih.
"Aku tahu tapi ini untuk kebaikanmu dan anak dalam perutmu."
Pria itu menggeret sebuah kursi rotan duduk di dekat Raina. "Kau ingin berbicara apa denganku, aku menunggunya," ucapnya tenang.
Raina mulai mengatur emosinya agar apa yang dia katakan nanti tidak memancing masalah lagi. Lehernya bergerak-gerak tetapi sebuah kata belum juga keluar dari tenggorokannya.
"Adry kenapa kau bisa menemukanku?"
"Aku menyewa detektif untuk mencarimu?" jawab Adry.
"Untuk apa? Apakah untuk menuduhku sebagi pembunuh atau tukang selingkuh? Lalu, kau bisa begitu saja datang kembali ke kehidupanku dan mengacaukannya lagi. Membuatku mati penasaran dan mungkin akan mengambil anak ini lagi? Aku tidak tahu apa niatmu Adry. Kau selalu seperti itu, menolong lalu memberikan kesenangan dan membuangku seperti barang tidak berharga. Sebegitu bencikah kau padaku hingga ingin melukaiku lagi?''
"Breng ... sek Raina. Kau pikir aku seburuk itu? Aku bahkan tidak memikirkan apa yang pernah kau lakukan dan berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa melupakanmu setiap saat."
"Aku khawatir padamu melebihi apa yang kau pikirkan. Dan terbukti semua kekhawatiran ku benar adanya. Kau tidak bisa mengurus hidupmu sendiri!"
Adry lalu memalingkan wajahnya ke samping dadanya naik turun dengan cepat. Terdengar dia membuang nafas berkali-kali. Setelah merasa tenang dia kembali menatap Raina.
__ADS_1
"Aku telah menjawab pertanyaanmu kini kau harus menjawab pertanyaanku."
Tiba-tiba terdengar suara dari handphonenya. Adry melihat nama siapa yang tertera dan mengangkatnya di depan Raina agar wanita itu mendengar dan bisa menilai apakah dirinya sedang berkonspirasi atau tidak.
"Hallo Nita," panggil Adry. Tubuh Raina menegang seketika, rasa marah, takut dan cemas bercampur menjadi satu.
"Hai Adry, katanya kau sedang dalam perjalanan ke bandara," kata Nita.
"Ya, sebentar lagi aku akan naik ke pesawat." Adry melihat ekspresi Raina yang berubah menjadi dingin. Tangannya bergerak menarik-narik ujung kain bajunya. Tatapannya berubah menjadi kosong.
Adry tidak begitu tahu apa yang terjadi. Namun, dia tahu jika Raina bukan orang yang bisa melukai orang lain dengan begitu mudah walau semua bukti mengarah padanya. Ditambah surat pernyataan itu membuktikan bahwa apa yang terjadi memang kesalahannya.
Adry tidak bisa menjalani semuanya seperti semula hingga dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang menyebabkan Raina murka hingga menusuk ibunya? Namun sersan Andika mengatakan jika pisau yang digunakan waktu itu adalah pisau lipat bermata dua.
Setahu Adry, Raina tidak memilikinya. Jika ibunya yang membawa untuk apa? Apakah mungkin ibunya melukai dirinya sendiri? Itu terlalu janggal untuk dilakukan.
"Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu jika Ibu dan Ayah akan ke Jakarta akhir bulan ini dan aku berharap kau sudah kembali bila saat itu tiba."
Mata Raina mulai merebak. Adry bisa melihatnya dengan jelas.
"Kau jangan khawatir aku akan menemui mereka. Bagiamana kabar Leon?"
"Ehm, dia sepertinya pulang sore. Hari ini dia mengikuti kelas matematika. Sekolahnya memilihnya untuk ikut olimpiade itu. Padahal kau tahu jika dia baru masuk ke sana beberapa bulan ini. Dan kini harus mewakili sebuah sekolah besar dan ternama."
"Kita tidak boleh terlalu menekannya untuk selalu belajar. Biarkan dia menikmati masa kecilnya dengan bermain."
"Iya, tapi dia yang ingin sendiri. Dia anak yang membanggakan. Aku senang menjadi ibunya."
***
Like, Vote dan Komentar
__ADS_1