
"Roy ... bagaimana keadaannya?" tanya Adry pertama kali ketika dia sadar.
"Roy sedang menjalani operasi pengangkatan peluru," ujar Raina dengan mata yang memerah.
Adry menghela nafasnya panjang. Dia lalu menyibak kain selimut yang menutupi tubuhnya. Mengabaikan rasa pusing yang mendera kepala.
"Ayo, kita pergi untuk melihat keadaannya," ajak Adry pada Raina. Raina menganggukkan kepala.
"Tapi bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Raina.
"Aku baik-baik saja. Namun, Roy," Adry teringat bagaimana ibunya menembak dada Roy. Rasa sesak dan sakit menerpa jantungnya. Bagaimana bisa ibunya bisa setega itu pada orang yang telah dianggapnya anak? Atau adakah sesuatu yang tidak dia ketahui lagi dan coba disembunyikannya oleh keduanya?
Adry dan Raina serta Regina lalu pergi ke pulau sebelah dengan helicopters angkut barang milik mereka yang selalu standby di landasan. Setelah itu, mereka langsung menuju ke rumah sakit dimana Roy dirawat.
Kaki Adry merasa lemas ketika melihat Roy sudah berada di ruang ICU. Dia dalam keadaan koma dan tidak sadarkan diri.
"Operasinya berjalan dengan lancar hanya saja semuanya tergantung dari kondisi pasien selama tiga hari ini. Jika si kondisi pasien membaik atau sadar maka harapan untuk sembuh lebih banyak."
"Lalu bagaimana jika tidak?" tanya Adry melihat Roy yang berada di dalam dari balik kaca.
"Kita hanya bisa berharap yang terbaik untuknya." Adry menghela nafas berat.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kondisi Ibuku, Dok?" tanya Adry.
Dokter itu menghela nafas panjang. "Kondisinya malah tidak baik."
Ada rasa sesal dalam diri Adry karena telah menembak ibunya. Seburuk-buruknya Janeta pernah menjadi ibu yang baik untuknya.
"Dia punya penyakit hipertensi. Jadi ada komplikasi. Kita hanya bisa tahu pengaruhnya kondisinya jika dia sudah sadar." Raina menepuk bahu Adry. Dokter itu lalu pergi dari sana setelah menjelaskan kondisi Roy dan Janeta.
"Apakah kau ingin melihatnya?" tanya Raina.
"Tidak sebelum Roy sadar dan pulih serta memaafkannya!"
"Dia telah banyak melakukan kesalahan mungkin itu teguran dari Tuhan agar dia sadar," ujar Adry yang sangat kecewa dengan sikap Janeta yang tidak pernah sadar dari kesalahan.
Sedangkan di belakang mereka nampak Karina berlari. Dia berhenti di depan Raina dan Adry.
"Roy ....," nafasnya tersengal-sengal karena berlari cepat dari mobil yang mengantarnya sampai kemari. "Bagaimana keadaannya?"
Mata Karina memerah dan pipinya sembab. Nampak jelas kekhawatiran di mata wanita itu atau mungkin percikan cinta yang terlihat. Tidak mungkin orang akan menangisi seseorang yang tidak berarti bagi dirinya.
Raina dan Adry menoleh ke ruangan di sebelahnya. Karina lalu berjalan mendekat ke arah pintu dan melihat tubuh kekar pria itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Berbagai alat penunjang hidup menempel di tubuhnya.
__ADS_1
"Apakah aku bisa melihatnya?" tanya Karina. Raina menganggukkan kepala.
"Kau harus memakai pakaian khusus jika ingin masuk ke dalam."
Karina lalu memakai pakaian khusus rumah sakit lalu masuk ke dalam ruangan itu. Di sana nampak satu perawat sedang berjaga dan memeriksa kondisinya setiap saat. Adry yang meminta pelayanan khusus pada rumah sakit untuk Roy. Baginya Roy sudah seperti adik kandung sendiri.
Perawat itu lalu diminta keluar oleh Adry agar Karina bisa leluasa berbicara dengan Roy.
Karina melangkah pelan mendekati ranjang Roy. Buliran air semakin deras mengalir di pipinya. Dia mendekat ke arah Roy dan duduk di sebelahnya. Menunduk, lalu mengusap cairan yang keluar dari hidung.
"Kau tahu, aku menjulukimu Tuan Angkuh," ucap Karina.
"Ya, karena kau pria paling arrogant dan paling dingin yang pernah kulihat."
"Kau juga selalu terlihat sombong dengan pakaian jasmu yang kaku itu. Seolah kau ingin mengintimidasi setiap orang jika kau adalah penguasa di pulau ini."
"Hal lain yang membuatku tidak suka padamu adalah kau terlalu tampan untuk kubenci dan kau terlalu seksi untuk kuabaikan."
"Mulutmu itu sangat tajam tetapi sangat pandai untuk mencium. Sayang, kau tidak bisa melakukannya lagi. Padahal aku sedang tertarik padamu.. tidak etis jika wanita dulu yang merayu... dan mengungkapkan perasaannya. Sepertinya, aku harus mencari pria lain yang lebih bisa menciumku dengan indah," ucap Karina. Dia lalu memeluk tubuh Roy.
"Bangunlah dan bawa aku ke surgamu," katanya lagi menyeka air mata namun Roy belum juga mau membuka mata.
__ADS_1