Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kematian


__ADS_3

Karina dan Roy bertolak ke Amerika untuk mengambil bukti yang Ayahnya simpan di dalam salah satu loker Broadway stasiun.


Ada dua orang anak buah Roy yang mengikuti tetapi dari jauh. Sedangkan Karina sendiri di peluk bahunya oleh Roy sepanjang perjalanan.


Rasa aman dan nyaman selalu Karina rasakan ketika bersama pria itu. Dia selalu berusaha melindunginya dan membuat Karina senang dengan tingkahnya yang manis. Jarang ada kado atau surprise karena Roy bukan tipe pria romantis tetapi perhatiannya yang membuatnya merasa seperti orang spesial dalam hati pria itu.


Hal itu membuat Karina semakin merasa cinta pada Roy. Bahkan dia siap mati jika berada dalam pelukannya.


Mata Roy yang tajam selalu melihat ke semua arah. Jakun di lehernya nampak bergerak naik turun. Dia nampak khawatir, itu jelas terasa ketika pelukannya terasa semakin erat.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa," ucap Roy. Dia lalu memperbaiki alat pendengarnya yang dia pasang di telinga. Mendengarkan seksama perkataan anak buahnya.


"Kalian awasi semuanya. Okey."


Perkataan Roy membuat hati Karina was-was. Dadanya mulai terasa sesak.


"Jangan sekarang... jangan sekarang...," batin Karina. Dia mulai merasakan firasat buruk tentang hari ini.


Karina lalu menuju ke arah loker milik orang tuanya. Mencocokkan dengan nomer kunci yang dia pegang.


"Itu Karina," tunjuk Roy pada salah satu loker. Mereka mendekat ke loker itu dan mulai membukanya. Ternyata di sana hanya ada harddisk dan gulungan kertas berisi data yang dibungkus koran.


"Oh, ini semua bukti transfer yang ayah lakukan kepada empat pembesar negeri ini. Ini bukti besar, tetapi ini sama saja kita masuk ke dalam kandang singa dan menantangnya. Haruskah kita menyerahkan bukti ini?" ucap Karina berbisik. Dia memasukkan semua itu ke dalam tasnya.


"Kita serahkan saja. Bukankah itu wasiat ayahmu."


Karina menatap Roy. "Aku takut."


"Tidak akan ada apa-apa. Aku akan selalu melindungimu," ucap Roy.


"Aku tahu, namun aku merasa akan ada yang terjadi setelah ini."


"Kita akan berhati-hati dan memastikan semua baik-baik saja."


Karina memaksakan diri untuk tersenyum dan menghela nafas panjang. Nalurinya mengatakan akan ada bahaya dan hal buruk yang akan terjadi namun apa itu dia tidak tahu.


Memegang bukti itu sama seperti memegang bara api yang bisa melelehkan hidup pemegangnya. Karina terlihat gelisah ketika melangkah pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Bersikaplah biasa saja," ucap Roy. Kali ini pinggangnya yang dipeluk oleh Roy.


Karina menatap sekitar, nampaknya tidak ada yang mengamati mereka atau mengikuti. Mungkin ini hanya pikirannya.


Mereka sampai di parkiran. Tidak ada yang aneh. Tiba-tiba sebuah mobil mendekat ke arah mereka dan beberapa orang dengan cepat mengepungnya serta Roy.


Karina membelalakkan matanya lebar.


"Serahkan bukti itu pada kami jika ingin selamat!" ucap salah seorang dengan wajah mirip orang Asia.


"Siapa kalian!"


"Tidak perlu tahu siapa kami, sekarang cepat serahkan!"


"Tidak akan," ucap lantang Roy menantang.


"Hei... mau apa kalian!" teriak anak buah Roy mulai mendekat dengan menodongkan pistol. Membuat pada musuh melihat ke arah lain. Hal itu, Roy gunakan untuk menendang keras pria di depannya lalu menarik tangan Karina agar cepat masuk mobil.


Karina terkejut tetapi mengikuti langkah kaki Roy.


Pria bermata sipit tadi mulai menarik bahu Karina membuat wanita itu terjatuh. Roy yang melihat ikut membalikkan tubuhnya dan hendak menolong Karina namun tubuhnya di tendang dengan keras oleh pria bermata sipit itu. Tubuh Roy jatuh terpental.


"Kalau begitu berikan bukti itu padaku!" ucap pria itu meraih tas di tangan Karina.


Roy yang sudah bangkit lalu maju dan memukul wajah pria itu keras sehingga darah memercik keluar dari bibir pria itu yang terluka.


"Jangan kau sentuh istriku!" teriak Roy tidak terima.


Pria itu tidak tinggal diam. Dia lalu memukul Roy balik. Lalu terjadi baku hantam antar keduanya. Sedangkan satu pria mendekat ke arah Karina. Wanita itu melawan dengan ilmu bela diri seadanya.


"Hei, ada keributan apa?" teriak petugas keamanan berlari ke arah mereka. Salah seorang dari musuh menembak ke arah petugas itu hingga jatuh tersungkur berlumuran darah.


Roy sendiri sudah membuat lawannya jatuh tersungkur dan mengambil pistol dari tangan musuh.


"Akh!" teriak Karina histeris menatap kejadian itu. Di saat itu, tas yang dipegang Karina direbut oleh musuh. Terjadilah tarik menarik antara keduanya karena tidak sabar pria yang menarik tas Karina menembakkan sebuah peluru ke tubuh Karina.


"Tidak!" teriak Roy yang menembak kembali pria yang menembak Karina.


"F*ck, breu eng seak!"

__ADS_1


Tubuh Roy di kunci dari belakang. Dengan gerakan cepat Roy membalikkan tubuhnya dan menembak perut pria itu.


"Sudah ku katakan jangan sentuh istriku!" ucapnya dengan tatapan iblis yang mengerikan.


Roy lalu berlari memeluk istrinya.


"Kau akan baik-baik saja," ucapnya melihat ke arah Karina.


Nafas wanita itu mulai tersengal-sengal.


"Dimana inhaler itu brengsek!" teriak Roy mencari alat bantu nafas Karina. Matanya sudah memerah dan basah.


Karina menggelengkan kepalanya. Menyentuh wajah Roy dengan tangannya yang berlumuran darah agar menatap ke arahnya.


Dia tersenyum bahagia menatap Roy.


"Kau akan baik-baik saja," Roy hendak mengangkat tubuh Karina tapi wanita itu menggelengkan kepalanya lagi.


"Te... ri-ma ka-sih untuk se-muanya. Aku ba-ha-gia. Ber-jan-ji-lah kau akan ba-ha-gia se-te-lah a-ku pergi," ucap Karina terakhir lalu menutup matanya. Tangannya jatuh dengan lemas ke samping.


"Tidak... tidak... jangan tinggalkan aku," ujar Roy berteriak keras menepuk pipi Karina.


Anak buah Roy yang telah mengalahkan musuhnya lalu mendekat dan memeriksa keadaan Karina.


"Maaf Bos, dia sudah tidak ada," ucap pria itu.


"Dia baik-baik saja. Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku. Kau pasti salah," Roy mendorong kawannya dengan keras sehingga jatuh ke samping.


"Bos!" gumam pria itu, bernama Evan, menatap Roy yang memeluk tubuh Karina erat. Terdengar raungan Roy yang keras bagai singa yang terluka.


Roy menciumi wajah Karina dengan tetesan air mata yang membasahi wajah keduanya. Nafasnya terasa sesak. Lidahnya kelu tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Beberapa polisi mulai datang mendekat.


"Ada apa ini?" tanya Polisi itu lalu segera mendekat ke arah Karina. Dia memeriksa denyut nadi wanita itu.


Evan lalu mengambil tas berisi bukti untuk mengamankan nya. Mereka telah berhasil untuk mengambil bukti besar yang bisa membuka kejahatannya pembesar negeri Konoha tetapi harus dibayar mahal dengan kematian dari pemilik bukti itu.


Evan lalu menghubungi Adry dan menyampaikan berita ini.

__ADS_1


__ADS_2