Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Telah Dewasa


__ADS_3

"Aku harus kembali ke Jerman besok," ujar Adry.


"Lalu bagaimana dengan aku dan anak-anak?"


"Kita harus kembali secepatnya, mereka juga harus sekolah!"


"Oh, aku masih suka di sini. Aku bahkan belum keliling kota dan melihat rumah lamaku," ungkap Raina sedih.


"Aku sudah ke sana Bu. Keadaan rumah kita masih baik, hanya saja dinding cat sudah mulai terkelupas dan butuh perbaikan di beberapa sudutnya."


"Kau kesana?" tanya Raina heran.


"Hmmm."


"Bagaimana dengan orang yang Ibu suruh mendiami rumah itu."


"Awalnya dia mengatakan jika itu rumahnya. Lalu aku mengatakan jika aku adalah anak dari Raina pemilik rumah ini, akhirnya dia mengakui jika itu adalah rumahku. Aku ingin tinggal di sana. Hanya saja...."


"Kau ingin tinggal di sana?"


"Om Roy sudah tinggal di sini bersama dengan keluarganya. Aku tidak enak jika kehadiranku mengganggu kenyamanan mereka."


"Sayang, Om mu tidak akan pernah berpikiran seperti itu."


"Sebenarnya tidak, hanya saja aku ingin tinggal sendiri."


"No!" ucap Raina dan Adry bersamaan.


"Warum (kenapa)?"


"Rumah ini besar dan ada tiga lantai. Om mu menggunakan lantai tiga untuk keluarganya. Kau bisa bebas tinggal di lantai dua."


"Yah... aku ingin kehidupan sendiri."


"Nah, ini yang Ayah takutkan. Kau akan ikuti gaya hidup bebas orang-orang yang berpaham seperti itu. Okey, Ayah memang dulu suka wanita. Namun, Ayah tidak pernah membawa seorang wanita ke tempat tinggal Ayah kecuali wanita itu untuk Ayah sunting. Lagipula seharusnya kau belajar dari kesalahan Ayah dan Om Roy."


"Aku tidak akan melakukan kesalahan itu, Yah!"

__ADS_1


"Ayah tidak jamin. Hanya saja jika kau tinggal di sini. Kau akan lebih terpantau hidupnya. Kau tidak akan sembarangan membawa wanita masuk ke rumah ini."


Leon nampak kecewa dengan keputusan Ayahnya itu.


"Yah, aku sudah besar bisa menentukan mana yang baik dan tidak untukku."


"Kemarin kau pulang ke Indonesia dengan Angelica, aku yakin hubungan kalian tidak sebatas hubungan pertemanan semata. Ayah tidak melarangmu berhubungan dengan siapapun. Hanya saja, Ayah takut jika kau tinggal satu rumah dengannya tanpa ikatan pernikahan."


"Yah."


"Kau boleh memakai rumah atau apartemen sendiri jika kau sudah berumur dua puluh lima tahun! Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat." Adry terlihat serius dengan perkataannya.


Leon kesal dengan jawaban Ayahnya. Dia tidak mengatakan apapun tetapi langsung pergi darimu tempat itu.


"Dia marah!" ujar Raina.


"Biarkan saja, ini yang terbaik baginya. Aku lebih takut dia hidup dengan gaya bebas seperti teman-temannya dan salah dalam menentukan pasangan hidup."


"Ya, Leon belum cukup dewasa jika melakukan satu kesalahan."


"Seperti yang pernah ku rasakan. Tapi aku tidak menyesalinya karena aku punya Leon. Setelahnya, aku punya kau dan keluarga ini."


"Kita bisa melalui semuanya tetapi lebih indah jika kita bertemu disaat yang tepat sehingga aku tidak merasa bersalah karena telah meninggalkanmu dan anak kita dalam keadaan sulit."


"Itu sudah takdir, Sayang."


Adry memeluk tubuh istrinya dan mengecup pucuk kepala wanita itu. "Aku tahu, hanya saja masih terasa mengganjal jika mengingatnya. Aku sangat mencintaimu," ungkapnya.


Roy berjalan melewati Raina dan Adry begitu saja. Berjalan dengan cepat ke lift. Sedangkan, Hana berjalan dibelakangnya.


"Kenapa dengannya?"


"Aku juga tidak tahu tetapi wajahnya seperti itu sewaktu kami pulang."


"Apakah dia bisa sakit?" celetuk Raina melongok ke arah Roy yang sedang masuk ke dalam lift.


"Ck kau itu!" Adry menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihat dia sakit kecuali saat tertembak dulu." Raina menutup bibirnya rapat takut jika ibu mertuanya mendengar dan sedih jika mengingat hal itu.


"Tertembak?" seru Hana terkejut.


"Hust! Jangan bicarakan masalah ini lagi jika kau ingin selamat."


Hana terdiam. Namun, dia penasaran dengan perkataan Raina tadi.


"Kakak, anak-anakku dimana?"


"Mereka ada di kamar barunya."


"Oh, apakah sudah jadi?"


"Sedang ditata oleh yang desain interiornya hanya saja Aaric dan Rere mengajak Si Kembar untuk ikut serta merancang kamar."


"Aku akan menemui mereka," ujar Hana.


"Sebaiknya kau urus saja Roy. Sepertinya dia sedang sakit," saran Adry.


"Baik, Kak!" Hana lalu mengikuti perginya Roy.


"Aku kira Roy punya tulang besi dan otot kawat sehingga selalu sehat. Ternyata bisa sakit juga."


"Roy hanya mengikuti pola hidup sehat dan rajin berolahraga."


"Ya, makanya tubuhnya kekar, tidak seperti kau. Perutmu semakin buncit saja."


"Kau yang membuatku seperti ini," balas Adry.


Hana sendiri berjalan di lorong lantai tiga. Dia mendengar keriuhan di dua kamar yang berada di depan dan sebelah kamar Roy.


Hana melongok ke salah satu kamar. Rupanya kamar Ayu. Di sana dia sedang berdiri bersama dengan Regina, mereka nampak sedang berdebat soal meletakkan barang-barang. Hal itu, membuat desainer terlihat pusing. Hana membiarkannya.


Dia lalu melihat ke kamar satunya. Aaric dan Bagus nampak asik membuka mainan baru yang akan dimasukkan ke dalam lemari kaca, untuk koleksi mainannya. Mereka nampak tertawa dengan senang. Aaric yang manja akan bersikap seperti seorang kakak jika bersama dengan Bagus, dia menjaga Bagus dengan baik.


Hana lalu masuk ke kamar. Roy sedang berjalan ke tempat tidur dari kamar mandi dengan memegang perut. Pria itu terlihat lemas dan pucat. Hana meringis, merasa bersalah karena telah membuat pria itu sakit perut.

__ADS_1


__ADS_2