Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tidak Sakit


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Bukannya menjawab Roy meringis sambil memejamkan mata. Lalu bunyi kentut diiringi bau tidak sedap mulai terdengar. Roy kembali ke kamar mandi. Setengah jam kemudian Roy keluar kamar dengan tertatih belum sampai ranjang dia sudah pergi ke masuk kamar mandi lagi.


Hana yang bingung langsung pergi ke arah dapur. Dia mengambil beberapa rempah dan diraciknya.


"Hana, apa yang kau lakukan di sini? Jika ingin masak di dapur kita saja," ujar Raina yang melihat Hana masuk ke dapur.


"Pak Roy sedang sakit perut. Diare."


Raina menaikkan satu alisnya ke atas. "Di kotak obat ada obat diare."


"Saya sudah meminta Mbaknya tadi untuk membawakannya. Sekalian sama minyak kayu putih."


"Itu untuk apa? Roy tidak suka jamu," tanya Raina.


"Oh tidak diminum untuk dibalurkan di perutnya, biar hangat."


Hana meletakkan obat dan racikan rempah yang ada di mangkuk kecil ke atas baki. Di baki itu sudah ada bubur sereal hangat. Raina menatap nanar baluran itu. Dia tahu jika keluarga Quandt tidak percaya dengan obat seperti itu. Mereka lebih suka pada obat yang diberikan Dokter tetapi mungkin jika Hana yang memberikan akan berbeda.


"Rawat dia, setelah ini jangan ajak dia makan pedas lagi. Dia alergi dengan makanan itu."


Wajah Hana memucat seketika. Dia menelan salivanya dengan berat sambil menganggukkan kepala.


Hana langsung membawa obat itu ke kamar. Dia melihat Roy baru saja membuka kamar mandi. Pria itu bersandar di pintu. Hana langsung meletakkan baki yang dia bawa ke atas meja. Dia lalu berdiri di sebelah Roy.


"Biar aku bantu," ucap Hana mengambil tangan Roy dan membantu memapahnya ke ranjang. Roy segera berbaring. Kini celana panjangnya sudah dilepas hanya memakai celana boxer saja. Kancing kemejanya sudah terbuka sebagian.


Hana lalu mengambil kaos untuk Roy. Setelah itu dia duduk di depan Roy.


"Minum obat dulu." Roy mengangguk setelah selesai meminum obat. Hana menatap mata Roy yang sudah mulai berair.


"Aku buat ramuan agar perutmu terasa hangat."


"Tidak... itu baunya tidak enak dan bentuknya... akh, aku tidak mau!"

__ADS_1


"Kau seperti Bagus bila begitu."


"Bagus yang mengikutiku," cetus Roy. "Jauhkan itu dariku, Hana."


"Ya, sudah. Aku akan membuangnya. Padahal aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati tapi apa boleh buat kau tidak suka. Ya sudah tidur saja. Aku akan ke kamar anak-anak saja."


Hana bangkit tapi tangan Roy mencegahnya. "Jangan pergi. Tetap di sini."


Mereka saling menatap.


"Aku akan disini tapi tubuhmu harus dibalur terlebih dahulu."


"Baiklah, hanya saja bagaimana dengan tempat tidurnya. Pasti akan kotor."


"Seprai bisa diganti yang penting kau sembuh."


"Buka bajumu," perintah Hana.


"Kenapa tidak kau saja?"


Roy tersenyum. Senang jika meledek Hana. Lagipula jika Hana yang melakukannya mungkin itu bisa sebagai bagian dari terapi agar Hana tidak merasa takut lagi padanya.


Rama mengatakan Hana bisa sembuh pelan-pelan. Pengobatan itu bisa dilakukan andai Hana sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya. Seperti sentuhan, dia dulu yang menyentuhnya atau tatapan. Jika interaksi itu sering mereka lakukan maka proses itu penyembuhan akan membutuhkan waktu singkat.


Hana menggigit bibirnya ketika melakukan itu. Wajahnya nampak menegang. Sejenak dia menghentikan gerakannya ketika tangannya memegang kancing baju.


"Aku tidak bisa!" ucap Hana.


"Ya, sudah tidak usah. Aku tidak ingin memaksamu!" Roy memejamkan matanya dan meringis.


Hana tiba-tiba meraih kancing baju dan membukanya.


"Kenapa aku merasa seperti wanita murahan yang membuka baju pria?" gumam Hana. Roy tertawa.

__ADS_1


"Kau terlalu berharga hingga tidak pantas dikatakan murahan."


Pipi Hana yang putih dan mulus kembali memerah. Hal itu membuat Roy gemas. Wajar bila seorang pria akan terpana melihat wajah cantiknya.


Ujung jari Hana yang lembut mulai menyentuh kulitnya. Membuat Roy memejamkan mata merasakan aliran darahnya yang mulai naik. Syarafnya yang bangkit dan menegang serta hormon lelaki yang mulai naik.


Ramuan itu dibalurkan di perut Roy. Tanpa sengaja pria itu mengerang ketika Hana menyentuh kulit bawah pusarnya.


"Apakah sakit?"


Roy mengangguk cepat. Wajahnya memerah.


"Aku minta maaf karena marah membuatmu seperti ini."


"Yang penting kau sudah tidak marah lagi." Roy meringis sedap-sedap menyiksa. Dia ingin sekali meraih tubuh Hana dan mendekapnya, laku bercinta sesuatu yang lama sekali tidak dilakukan nya dan itu terakhir dengan wanita itu.


Roy masih ingat semuanya. Tubuh Hana yang lembut, kenyal dan legit. Memori itu membuat sesuatu menegang dibalik celana dan menonjol.


Hana yang melihat sesuatu yang bergerak di balik kain berwarna hitam dan merah itu langsung membuka mulut lebar. Roy menarik selimut dan menutupinya. Hana menelan salivanya dalam-dalam. Wajahnya pucat pasi. Lalu duduk membelakangi Roy. Dia menarik nafas dalam berkali-kali.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tidak, aku tidak baik-baik saja. Itu yang membuat aku kesakitan," ucap polos Hana.


"Kalau untuk pertama kali mungkin iya tetapi selanjutnya akan nikmat."


"Ih, kau jorok. Mana mungkin itu nikmat. Kau melakukan lebih dari sekali dan semuanya sakit."


"Jika itu menyakitkan mengapa semua orang mengatakan jika itu adalah surga dunia."


"Aku tidak tahu karena aku hanya tahu jika itu menyakitkan."


Roy duduk di belakang Hana. Dia mendekat sehingga nafasnya mengenai dekat pipinya.

__ADS_1


"Tidak sakit, aku bisa jamin itu." Roy berbisik di dekat leher Hana.


"Geli, akh!" Hana langsung bangkit dan memegang tengkuknya.


__ADS_2