
"Jadi instingku benar jika kau kemari untuk suatu tujuan?" ujar Roy melipat tangan di dada.
Karina mulai berpikir. Dia lalu bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu. Namun, Roy tidak tinggal diam. Dia mengejar wanita itu.
Karina membuka pintu balkon dan bergerak turun melewati tembok pembatas dan melompat. Dia terlihat lincah tidak seperti wanita sesak nafas. Pikir Roy.
Pria itu lantas langsung turun begitu saja dari lantai tiga mengejar Karina.
"Kau pikir akan mudah untuk lari dariku," gumam Roy. Telah lama dia tidak merasa bersemangat seperti ini. Dia ingin sekali memberi pelajaran wanita itu dan mengorek semua rahasia dari dirinya.
Mereka melalui tanah berpasir melewati pepohonan kelapa di sekitar mereka. Karina lalu bersembunyi di belakang sebuah pohon kepala yang besar untuk mengambil nafas.
Mitch telah menunggunya di dermaga saat ini. Sedangkan Clara dan Dave serta dua teman lainnya pergi dari tempat ini kemarin sore dengan alasan pergi ke pulau seberang. Kini dia yang harus dikorbankan.
"Karina, kau berlari seperti kucing hitam yang ketahuan mencuri ikan," ujar Roy bergerak sembari matanya memperhatikan sekitarnya.
"Aku akan melepaskanmu asal kau ceritakan apa yang kau inginkan dari kami dan siapa yang menyuruhmu datang kemari."
Suara Roy terdengar mendekat. Karina hendak berlari menuju dermaga tetapi satu tangan merengkuh bahu dan menariknya ke belakang.
Karina lalu menarik tangan Roy ke depan dan hendak menjatuhkannya tetapi Roy bisa membaca gerakan wanita itu.
__ADS_1
Roy menarik balik dengan cepat dan membuat tubuh Karina terhuyung ke belakang dan hampir jatuh. Dia lalu langsung bangkit dan hendak mendorong tubuh Roy kuat tetapi pria itu dengan enteng mengangkatnya ke atas dan meletakkannya di bahu.
"Lepaskan aku!" teriak Karina. Namun, satu pukulan keras mendarat di pantatnya yang berisi.
"Aww!"
"Dasar anak nakal!" ujar Roy. Adry melihat kejadian itu dari jauh dan menghela nafas.
Pria itu lantas membawa Karina ke dalam pondoknya. Meletakkan Karina di kursi kayu lalu mengikatnya. Dia menarik kursi yang lain dan duduk di depan Karina. Menarik penutup wajah wanita itu.
"Jadi apa yang membuatmu berani untuk melakukan ini?" tanya Roy.
"Okey kita akan berbicara masalah yang lain dulu."
"Sebenarnya kau itu memang benar-benar lupa padaku atau kau pura-pura lupa?" tanya Roy mengambil sebilah pisau lipat dari balik saku belakang bajunya.
Karina menyatukan alisnya sehingga terlihat jelas tiga kerutan diantaranya.
"Ya, sudah kau sepertinya sudah lupa siapa diriku. Tidak mengapa, tetapi aku ingat siapa dirimu."
"Memang kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Karina balik.
__ADS_1
"Tidak perlu dikatakan, lupakan saja pertanyaan itu."
"Bukankah kau adalah anak dari Harun Sutrisno, seorang buronan koruptor Indonesia?" tanya Roy dengan memainkan pisaunya di leher jenjang Karina hingga berhenti di dagu wanita itu dan mengangkatnya.
"Ya, aku anaknya." Karina merasa percuma berbohong di depan pria seperti Roy. Dia pasti sudah tahu siapa dirinya saat ini.
"Okey, dimana Ayahmu?"
"Ayah... ," ucap Karina ragu. "Aku tidak tahu," jawabnya tegas tetapi Roy tahu dia sedang berbohong karena matanya tidak mau menatap ke arah Roy.
"Baiklah kau menyembunyikannya." Roy menegakkan tubuhnya. Ujung benda tajam itu bergerak ke bibir tipis Karina.
"Apa karena itu kau mau melakukan tugas ini? Setahuku kau hanya bertugas di kantor saja!"
"Kau tidak tahu siapa aku!"
"Aku tahu siapa dirimu. Kau lupa jika aku adalah putra kedua Tuan Quandt!" ujar Roy "jadi Aku tahu mana mantan anak buahku."
Mata Karina membelalak tajam.
"Jadi siapa yang mengirimmu, Ibu atau Ayah?"
__ADS_1