
"Pak Roy, Bos Surya sudah sampai di dermaga," beritahu seseorang dari radio komunikasi di kantornya.
"Apa Adry sudah ada di sana?"
"Dia dan keluarganya sedang menuju ke sana."
"Katanya Raina memesan beberapa barang kebutuhan untuk Regina."
"Pak Suryo juga membawa satu orang pengasuh lagi karena pengasuh lama ingin pulang kembali ke kampung."
"Ya, sudah. Kau awasi saja barang bawaan apa saja yang masuk. Jangan lupa di cek."
"Siap, Pak!"
Roy lalu mematikan sambungan teleponnya. Sampai saat ini suasana masih terbilang kondusif dan aman. Namun sepertinya, badai akan datang dan dia sudah bisa mencium baunya.
Roy, mengambil kacamata dari mejanya dan melangkah keluar dari kantornya, berlari kecil menuruni anak tangga menuju ke dermaga. Rencananya untuk memata-matai para bintang film itu sepertinya harus ditunda.
Aroma lezat dari dapur tercium keluar memberitahunya jika daging sedang dipanggang dan sebentar lagi waktunya makan malam akan akan segera di mulai.
Dia langsung pergi ke mobil Jeep dan membawanya melesat cepat pergi ke dermaga.
"Bos Surya sudah datang rupanya," kata Roy ketika mendekat ke arah pria bertubuh tinggi besar khas masyarakat timur Indonesia.
Bos Surya langsung menoleh dan mendekat, menjabat tangan Roy.
"Apa yang kau bawa kali ini?" tanya Roy.
"Pengasuh untuk Tuan Putri kita," Surya menunjuk ke arah Raina yang sedang berdiri berbincang dengan seorang wanita berumur tiga puluhan.
"Beberapa krat minuman impor dari Italia."
Adry mendekat sembari memegang botol anggur di tangannya. "Sepertinya para tamu akan menyukai minuman ini. Ini asli kan?" tanya Adry membukanya satu dan menciumnya.
Dulu dia itu peminum dan tahu barang bagus dan tidak. Sekarang setelah di bersama dengan Raina dia tidak berani menyentuhnya. Raina akan mengusirnya dari kamar selama satu Minggu jika dia tetap mengkonsumsi itu.
"Anda bercanda Tuan. Mana mungkin saya akan memberikan barang palsu pada Anda."
"Ini terlihat enak dan menyenangkan," kata Adry setelah mencium bau alkohol itu. Tidak sadar jika Raina ada di belakangnya sedang menggendong Regina.
"Kau boleh meminumnya, Sayang," kata Raina mengusap pundak Adry membuat pria itu terkejut dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Tidak ... aku hanya memeriksanya."
"Okey, hanya memeriksanya, padahal jika kau meminumnya aku juga tidak keberatan," lirih Raina dengan muka yang mengintimidasi.
"Sekalian kau pergi bersama wanita cantik yang ada di pulau ini."
Adry langsung menyerahkan botol minuman itu pada Roy.
"Bukan aku yang akan mencobanya, Roy." Raina berjalan dengan kesal meninggalkan tempat itu. Tetapi, Adry mengikutinya sembari meraih tangan istrinya untuk membujuk agar tidak marah.
Regina yang melihat mimik Ayahnya ketakutan cekikikan kecil.
"Ayah lucu," katanya cedal masih terdengar oleh Roy.
Roy yang melihat pemandangan keluarga itu sedikit merasa iri. Dia juga ingin merasakan punya keluarga kecil yang bahagia.
"Mereka terlihat seperti keluarga dan pasangan yang sempurna," ujar Pak Surya.
"Ya," tanggap Roy tanpa melepaskan pandangannya dari keluarga kakaknya.
"Ku rasa Anda harus mencari pasangan juga, Pak Roy."
"Aku belum punya calon yang tepat."
Roy rasa pengalaman buruk ketika mencintai Nita membuat rasa trauma yang besar untuk bisa mencintai wanita lain lagi. Dia takut jika itu hanya bisa menyakiti hatinya. Walau mereka akhirnya bersatu dan berpisah karena maut itu masih saja membekas dalam ingatannya dan sulit untuk dilupakan. Apalagi saat-saat terakhirnya bersama Nita yang indah tetapi mengenaskan.
Roy menarik nafas berat.
Adry akhirnya kembali lagi bersamanya setelah dia terlihat kembali berbaikan dengan Raina. Mereka lalu mengecek semua barang yang dibawa Pak Surya. Lalu, menyuruh pegawainya untuk membawa barang-barang tersebut ke gudang. Setelah itu, mereka kembali ke gedung utama.
"Aku tidak mengira jika aktor kesayanganku akan ada di resort ini," ujar Raina di sela pembicaraannya. Adry menoleh menatapnya dengan tidak senang.
Roy yang sedang menyetir, mengusap dagu dengan satu tangan sambil menyengir geli menunggu pertengkaran pasangan ini lagi.
"Memang apa yang salah dari ucapanku. Mitch memang aktor idolaku. Dia itu sangat tampan dan keren daripada ketika di film."
"Lalu suamimu kurang tampan begitu?" ujar Adry melipat tanganya di dada.
"Tentu saja kau sangat tampan, dan pria paling tampan di dunia bagiku karena kau suamiku. Tetapi, Mitch itu beda, dia itu seperti imajinasi yang keluar menjadi nyata."
"Teruskan saja mimpimu dengan aktor itu, kalau begitu aku akan ikut berimajinasi dengan wanita lain. Clara itu cantik dan seksi, Aww..."
__ADS_1
"Kau memuji wanita lain didepanku? Apa menurutmu aku sudah tidak seksi. Tapi itu terjadi karena kesalahanmu. Kau membuatku melahirkan dua anak dan kini setelah aku tidak cantik lagi kau mengagumi keseksian wanita lain. Itu tidak adil untukku... "
Omelan Raina terus saja terjadi sepanjang perjalanan membuat telinga kedua pria itu memanas dan sakit. Mereka hanya bisa men ** sah dan saling menatap satu sama lain.
Roy, lalu berpikir ulang tentang pernikahan. Itu tidak seperti apa yang ada dibenaknya.
"Kau tahu wanita berambut pendek itu, Sayang," kata Raina ketika mereka sudah hampir sampai dikediaman milik mereka.
"Karina," sela Roy.
"Ya. Wanita itu," kata Raina. "Aku ingin mengundangnya makan malam pribadi dengan kita tentu saja dengan rombongannya jika mereka mau."
"Kenapa? Apa kau ingin bersama dengan Mitch?" Adry menatapnya penuh curiga. Raina mengusap pipi Adry dengan lembut dan tersenyum manis.
"Aku tidak mungkin melirik pria selain dirimu Sayang. Kasihan anak-anakku kelak."
"Hanya karena anak?"
"Tentu saja tidak. Kau itu adalah cinta dan hidupku." Adry bernafas lega tetapi tetap menatap curiga pada istrinya.
"Lalu mengapa kau ingin mengundang mereka datang ke tempat kita?"
"Aku suka dengan berbicara dengan Karina. Sudah lama aku tidak berinteraksi dengan orang luar dan aku ingin melakukannya. Itu jika kalian mengijinkan. Setidaknya, aku punya teman wanita untuk berbagi cerita walau sesaat."
"Baiklah, aku akan menyampaikan undangan ini pada mereka."
"Itu bagus." Mata Raina terlihat berkilat. Jika seperti ini Adry merasa curiga jika istrinya merencanakan sesuatu.
Raina lalu berjalan ke arah kediamannya yang berada tidak jauh dari gedung utama bersama Adry. Sedangkan Roy, pergi ke kantornya lagi.
"Kenapa kau ingin mereka datang? Apakah ada yang sedang kau rencanakan?" tanya Adry curiga.
"Aku ingin menjodohkan Karina dengan Roy. Instingku mengatakan mereka itu pasangan yang cocok." Raina menggerakkan alisnya naik turun kebawah menatap Adry.
"Kita belum mengenal mereka Raina."
"Kurasa dengan pengalaman yang kalian miliki, bisa menebak sifat dan pribadi mereka dalam satu Minggu ini dan mencari informasi apa yang penting dari wanita itu."
"Aku hanya tidak ingin melihat Roy selalu terlihat sedih dan kesepian. Akan bagus jika dia punya pasangan dan anak nantinya," lanjut Raina.
"Betul juga. Kalau begitu aku akan menyelidiki siapa Karina dan kau bertugas mendekatkan dia dengan Roy."
__ADS_1
"Siap!"