Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Extra Bab


__ADS_3

Huft... Huft... Roy mengikuti cara Hana bernafas ketika sedang kesakitan sewaktu melahirkan. Tangan wanita itu mencengkeramnya kuat hingga masuk ke daging. Roy hanya bisa meringis dengan wajah yang pucat.


"Ayo, Bu. Tarik nafas dan keluarkan perlahan sambil memberi tekanan ke perut dalam."


"Akh!" teriak Roy yang lebih kencang mengikuti cara teriakan Hana yang tidak seberapa kencang.


Hana yang sedang konsentrasi melihat ke arah Roy.


"Bapak bisa lebih tenang tidak!" cetus Dokter itu kesal karena Roy malahan yang terlihat lebih heboh dari ibu yang melahirkan.


Roy mengusap wajahnya basah oleh keringat. "Iya, Iya, Bu Dokter." Dia terlihat panik dan cemas sedari tadi. Tampangnya memang menyeramkan, tetapi sangat perhatian dengan istrinya, malah perhatian itu terlihat sangat berlebihan dan terasa manis.


Hana terdengar mengeden keras ketika merasakan kontraksi lagi. Tangannya menggapai-gapai, mencari pegangan. Dia mendapatkannya dan menarik rambut Roy keras. Kali ini Roy memegang mulutnya agar tidak bersuara.


Perawat yang melihat wajah Roy yang merah menahan sakit dan pasrah ingin tertawa, tapi mereka menahannya.


"Sayang kau bisa, ayo," ucap Roy rela tubuhnya dijadikan sasaran pelampiasan rasa sakit Hana. Dia tahu jika rasa sakit yang Hana rasakan itu jauh berkali-kali lipat. Dia sampai tidak tega. Jika bisa dia ingin bertukar posisi dengan istrinya.


Suara tangis bayi memenuhi ruangan. Pegangan di kepala Roy mulai mengendur. Yang tersisa hanya tubuh Hana yang terbaring lemas menatap buah hatinya.


Roy langsung menatap ke arah Hana bukan bayinya memastikan istrinya baik-baik saja setelah pertarungan antara hidup dan mati.


Air matanya berlinang, dia mengusapnya. "Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Roy. Dia tadi terlalu takut jika harus kehilangan orang yang dia sayang ketika sedang melahirkan tadi.

__ADS_1


Hana tersenyum mengangguk. Roy memeluk dan menciumi wajah Hana.


"Sudah ... sudah ... kau lihat bayi kita sudah lahir," tunjuk Hana pada seorang bayi yang masih kemerahan di tangan perawat. Seorang Dokter sedang memutus tali pusarnya. Bayi itu menangis dengan sangat keras.


Senyum lebar terlihat di wajah Roy. Dia langsung meminta bayi itu setelah tali pusar lepas dan menggendongnya. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara apapun karena takjubnya.


"Pak, letakkan bayi itu di dada ibunya dengan lembut agar proses inisiasi menyusui dini bisa dilakukan."


Setiap proses yang terjadi setelahnya dinikmati oleh Roy dengan terpukau. Lalu membawa bayinya keluar dari kamar persalinan setelah bayi itu telah bersih.


Dengan bangga dia memperlihatkan bayinya pada keluarga besarnya.


"Wah... adikmu sudah lahir," kata Raina pada si Kembar.


"Siapa namanya, Yah?"


"Namanya King Felix," kata Roy.


"Nama yang bagus," jawab Adry.


"Aku akan melihat ibunya," ujar Raina masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan yang lainnya.


"Selamat, Hana, akhirnya satu lagi jagoan telah lahir keluarga kita ke dunia ini." Raina memeluk Hana.

__ADS_1


"Iya, Kak."


"Dia sangat mirip denganmu," kata Raina.


"Tidak dia mirip denganku, mata dan hidungnya sama kan? Kalau mirip Hana hidungnya kecil," ujar Roy menatap ke arah bayi mungilnya. Semua tertawa bahagia.


"Kali ini aku sudah merasa tenang, hutangku pada Roy serasa sudah lunas setelah bisa melihat kau bahagia." Adry memeluk bahu Roy dan mengoyaknya ringan.


"Kau tidak pernah punya hutang apapun padaku, Kak," kata Roy menyerahkan anak itu ke gendongan Hana.


"Kau tidak merasa, hanya saja salah satu impian terbesarku adalah melihat kau bahagia. Jika belum, aku merasa telah gagal menjadi kakak yang baik untukmu. Kau adalah satu-satunya saudaraku penting bagiku memastikan kau bisa hidup aman, tentram dan bahagia."


Roy memeluk Adry erat. "Kau kakak terbaik di dunia ini."


"Dan kau adik terbaik di dunia ini."


Semua ikut merasa terharu melihat persaudaraan antara keduanya. Raina yang tahu cerita dari awal ikut merasa bahagia karena keluarga ini telah menemukan kedamaian sejati. Semoga akan terus tersenyum seperti ini hingga akhir hayat mereka.


Mereka akhirnya berfoto bersama untuk mengabadikan momen membahagiakan ini.


Klik


"Senyum, satu ... dua ... tiga."

__ADS_1


Sebuah momen yang tidak bisa dilupakan selamanya kini ada dalam sebuah potret kebersamaan.


__ADS_2